Rabu, 24 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Jigsaw, Menggergaji Hasil Belajar Siswa

18 Maret 2019, 09: 37: 19 WIB | editor : Ali Mustofa

Suyanto, M.Pd.; Guru Mapel Matematika SMKN 1 Purwodadi, Grobogan

Suyanto, M.Pd.; Guru Mapel Matematika SMKN 1 Purwodadi, Grobogan (dok pribadi)

PERMASALAHAN di dalam pembelajaran matematika banyak siswa yang belum aktif dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Ini dibuktikan dengan siswa tidak berani bertanya, kurang berani menjawab pertanyaan, tidak aktif ketika bekerja dalam kelompok, dan jarang yang berani mengemukakan pendapat baik pada waktu kerja kelompok maupun pada waktu presentasi.

Hal ini berakibat kurangnya motivasi siswa di dalam mengikuti pembelajarannya. Sehingga berdampak pula pada rata-rata ketuntasan hasil belajar.

Pembelajaran matematika adalah proses interaksi siswa dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang dibangun untuk mengembangkan kreativitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa. Serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru, sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi matematika dengan menemukan konsep-konsep, struktur-struktur, sampai kepada teorema dan rumus-rumus.

Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang dialami siswa, dibutuhkan sebuah pola atau model pembelajaran yang baru sebagai alternatifnya. Model Jigsaw sebagai solusinya.

Pola pembelajaran model Jigsaw menyerupai pola cara penggunaan sebuah gergaji. Yaitu siswa melakukan aktivitas belajar dengan melakukan kerja sama dengan teman dalam rangka mewujudkan tercapainya tujuan bersama.

 Model ini akan menjadi sebuah solusi yang efektif, apabila diterapkan dalam pengajaran. Terutama terhadap materi ajar yang dapat dibagi dalam beberapa bagian dan materi ajar tersebut tidak harus urut dalam penyampaiannya.

Dalam model ini, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal adalah kelompok awal siswa terdiri dari beberapa anggota kelompok ahli. Anggotanya maksimal lima siswa yang dibentuk dengan memperhatikan keragaman dan latar belakang berbeda. Dengan ketentuan sudah disiapkan berdasarkan rangking dari nilai materi sebelumnya. Sehingga penyebaran kemampuan anak tiap kelompok dapat merata.

Di dalam kelompok ahli, ahli-ahli saling berdiskusi untuk membahas soal-soal yang diberikan kepada kelompoknya. Memang hampir semua kelompok mempunyai kendala, yaitu ada soal-soal tertentu yang memang dirasa kurang dipahami dan dianggap sulit oleh beberapa ahli di dalam kelompoknya.

Untuk itu, guru selama kelompok diskusi berkeliling untuk menanyakan soal-soal yang dianggap sulit. Lalu memberikan motivasi dan bimbingan, agar siswa tidak menyerah dalam menyelesaikan soal-soal yang dianggap sulit.

Selama diskusi dikelompok ahli, jika masih ada kelompok yang belum selesai, guru memberikan bimbingan dan tambahan waktu kepada kelompok itu untuk menyelesaikan. Kemudian setelah semua tugas/soal terselesaikan, siswa kembali ke kelompok semula.

Setelah masing-masing kelompok ahli selesai membahas soal, selanjutnya masing-masing ahli kembali ke kelompok asal. Tujuannya, menjelaskan satu-persatu dari soal yang menjadi tanggung jawab ahli masing-masing.

Ahli pertama menjelaskan kepada anggota kelompoknya. Setelah itu ahli kedua dan seterusnya sampai ahli terakhir. Sehingga sampai masing-masing anggota kelompok memahami dari semua soal yang diberikan.

Selama ahli-ahli menjelaskan di kelompoknya, guru berkeliling untuk memberikan bimbingan dan motivasi kepada siswa. Tujuannya, agar ahli-ahli tidak takut dan ragu dalam menjelaskan di kelompoknya.

Ahli-ahli menjelaskan kepada teman di kelompoknya dengan tuntas dan jelas, sehingga semua anggota betul-betul menguasai materi yang diberikan. Dengan pembelajaran model Jigsaw, maka hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia