Senin, 16 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Artis sebagai Inspirasi Mode di Pelajaran Tata Busana

16 Maret 2019, 14: 42: 22 WIB | editor : Ali Mustofa

Khunayah, S.Pd.; Guru Tata Busana, SMK Negeri 1 Purwodadi, Grobogan

Khunayah, S.Pd.; Guru Tata Busana, SMK Negeri 1 Purwodadi, Grobogan (dok. pribadi)

Share this      

MODE adalah gaya berpakaian yang populer dalam suatu budaya. Secara umum, mode termasuk masakan, bahasa, seni, dan arsitektur. Dikarenakan mode belum terdaftar dalam bahasa Indonesia, maka mode adalah kata untuk bahasa resminya. Secara etimologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mode merupakan bentuk nomina yang bermakna ragam cara atau bentuk terbaru pada suatu waktu tertentu (tata pakaian, potongan rambut, corak hiasan, dan sebagainya). Gaya dapat berubah dengan cepat. Mode yang dikenakan oleh seseorang mampu mecerminkan siapa si pengguna tersebut.

Mode erat kaitannya dengan tata busana. Jurusan tata busana SMK Negeri 1 Purwodadi, Kabupaten Grobogan juga membahas tentang mode atau fashion. Beberapa orang berfikir, tata busana banyak membahas bentuk pakaian yang tren saja. Padahal dalam jurusan ini juga membahas teori yang harus siswa pahami. Maka, usai memberi materi, biasanya guru mengajak siswa berdiskusi. Ini seharusnya menjadi momen yang menyenangkan. Siswa dan guru bisa berinteraksi intens dan membahas sesuai tentang fashion. Namun yang terjadi, siswa lebih banyak diam. Hal inilah yang membuat guru bingung. Apakah siswa betul-betul paham atau hanya pura-pura paham untuk tetap berada di zona aman.

Untuk itu guru dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam mengajar. Guru perlu banyak strategi agar peserta didik merasa nyaman dalam menerima pelajaran. Maka pilihlah media pembelajaran yang mencakup beberapa fungsi. Yakni pertama memberikan pengetahuan dan tujuan belajar. Kedua, memotivasi peserta didik. Ketiga, menyajikan informasi. Keempat, merangsang diskusi. Kelima, mengarahkan kegiatan peserta didik. Keenam, melaksanakan latihan, menguatkan belajar, dan terakhir dapat memberikan pengalaman simulasi.

Dalam hal ini, peserta didik diminta mengamati artis idola. Usai mengamati, peserta didik diminta memaparkan hasil pengamatan.

Hal yang diungkapkan tentulah bukan dari tampang artis yang menurut mereka tampang yang sangat diidam-idamkan di masanya. Tetapi terlebih dari segi penampilan yang mereka gunakan. Secara umum, pertama yang dilihat pastilah style baju yang mereka gunakan. Mereka mendeskripsikan model baju satu persatu. Diikuti dengan perpaduan warna yang dikombinasikan dengan aksesori yang dikenakan. Seperangkat tampilan busana belum lengkap ketika tidak dipadu-padankan dengan aksen pendukung yaitu, sepatu, kaca mata, topi bahkan dengan make up maupun tatanan rambut. Rupanya model pembelajaran ini cukup diminati peserta didik.

Adakalanya sebuah pembelajaran tidak hanya berasal dari buku teks. Dengan pengamatan ini, anak mampu menguasai beberapa teori secara tidak langsung. Dengan metode ini, guru mencoba memberi wawasan dan cara pandang baru dari peserta didik untuk membelajari sesuatu yang seringkali dilihat di dunia nyata. Dengan mengamati akan melatih peserta didik berfikir kritis untuk bisa menyampaikan gagasan yang ada di benak mereka. Semoga dengan pembelajaran seperti peserta didik semakin terlatih untuk mencoba merancang ide-ide baru dalam pembelajaran di kompetensi keahlian tata busana. (*)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia