Rabu, 16 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Media dan Permainan Meningkatkan Semangat Belajar Matematika

16 Maret 2019, 14: 35: 02 WIB | editor : Ali Mustofa

Puji Astuti, S.Pd.; Guru Matematika SMK Negeri 1 Purwodadi

Puji Astuti, S.Pd.; Guru Matematika SMK Negeri 1 Purwodadi (dok. pribadi)

Share this      

MATEMATIKA merupakan ilmu universal yang berguna bagi kehidupan manusia. Juga mendasari perkembangan teknologi modern. Serta mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Dalam dunia pendidikan, pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang diberikan di setiap jenjang pendidikan, mulai dari Pendidikan Dasar sampai Pendidikan Menengah. Bahkan di tingkat lanjut, ilmu matematika dasar masih diberikan.

Meskipun diberikan di setiap jenjang, tidak serta merta menjadikan matematika sebagai pelajaran yang mudah. Pelajaran ini seolah-olah menjadi momok yang menakutkan bagi peserta didik. Banyak peserta didik kesulitan dalam memahami konsep dalam pelajaran matematika. Hal ini dimungkinkan karena karakteristik matematika yang abstrak. Di mana sebagian besar yang dipelajari dari matematika berupa bilangan atau angka yang tidak dapat dilihat atau dirasakan oleh manusia. Tidak jarang guru kurang kreatif dalam menyampaikan materi. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan sebatas menyampaikan materi dengan ceramah, penugasan, dan pembahasan soal-soal yang telah lalu. Kegiatan di kelas menjadi membosankan dan tidak menarik. Hal ini tentu saja dapat berimbas pada hasil belajar yang rendah.

Dalam upaya mengatasi permasalahan dalam belajar matematika, guru dapat memilih metode, model, dan strategi yang tepat. Salah satu alternatif yang dapat dipilih adalah menggunakan media dan permainan. Menurut Dr. M. Hosnan, Dipl. Ed., M.Pd dalam bukunya “Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21”, mengemukakan bahwa media merupakan bentuk komunikasi nonpersonel yang dapat dijadikan sebagai wadah dari informasi pelajaran yang akan disampaikan kepada anak didik serta dapat menarik minat serta perhatian, sehingga tujuan daripada belajar dapat tercapai dengan baik (2014: 111). Media pendidikan atau dengan kata lain media pembelajaran memiliki beragam fungsi. Di antaranya dapat membangkitkan motivasi belajar, membantu guru dalam penyampaian konsep, membantu peserta didik dalam memahami konsep, dan mengaktifkan respons peserta didik.

Dalam pembelajaran matematika, media mempunyai peran yang sangat penting. Media diperlukan agar karakteristik matematika yang abstrak dapat dipahami peserta didik dengan mudah. Media pembelajaran menuntun untuk terbiasa berpikir sistematis. Selain menggunakan media, guru dapat menyisipkan kegiatan permainan dalam pembelajaran. Permainan dalam matematika seringkali menggunakan keterampilan problem solving atau untuk mendemonstrasikan kemampuan khusus.

Banyak sekali media atau permainan dalam matematika yang dapat diterapkan dalam pembelajaran. Misalnya untuk menyampaikan konsep peluang, guru dapat menggunakan media bola berwarna warni, uang koin/ logam, kartu bridge, atau dadu. Peserta didik dapat bermain melambungkan uang koin berulangkali dan menentukan frekuensi relatif dari percobaan. Dari permainan ini peserta didik dapat memahami konsep peluang melalui percobaan sekaligus mengetahui manfaat belajar ilmu peluang. Di antaranya memotivasi manusia untuk terus berusaha dalam meraih yang diinginkan/diharapkan. Permainan yang disisipkan dapat juga berupa pertandingan antar kelompok. Kelompok yang mendapatkan skor tertinggi menjadi pemenang. Media yang digunakan dan permainan yang disisipkan dalam pembelajaran dapat diadaptasi dari media dan permainan yang sudah ada. Guru dapat memodifikasi media dan permainan dengan menyesuaikan kondisi peserta didik dan lingkungan. Penggunaan media dan permainan dalam pembelajaran dapat menumbuhkan minat belajar matematika, serta mengatasi kebosanan.

Oleh karena itu penulis mengajak pada rekan guru untuk menggunakan media dan menerapkan permainan sebagai alternatif strategi pembelajaran. Dengan media pembelajaran, peserta didik tidak lagi menghafal materi namun membangun konsep sendiri, serta mereka tahu alasan melakukan tiap langkah percobaan. Peserta didik dapat mengaitkan teori dengan permasalahan kontekstual sehingga pembelajaran lebih bermakna. Dan dengan permainan dalam pembelajaran menjadikan kelas lebih “hidup”. Menambah semangat peserta didik dalam belajar.

(ks/lid/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia