Kamis, 21 Mar 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Peran Guru BK dalam Menanggulangi Kenakalan Remaja

16 Maret 2019, 11: 34: 31 WIB | editor : Ali Mustofa

Emma Meilani, S.Pd.; Guru BK SMKN 1 Purwodadi Kabupaten Grobogan

Emma Meilani, S.Pd.; Guru BK SMKN 1 Purwodadi Kabupaten Grobogan (dok pribadi)

MASA remaja adalah transisi. Dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Masa remaja seringkali dihubungkan dengan masalah sosial. Yaitu kenakalan remaja. Dewasa ini, kenakalan remaja telah menjadi penyakit yang sulit dibasmi. Bahkan, tengah meradang di masyarakat dan sangat meresahkan.

Sebenarnya kenakalan remaja diakibatkan karena ketidakmampuan remaja itu dalam menghadapi perkembangan fisik dan psikologinya. Di mana mereka sedang memasuki tahap mencari jati diri. Tapi dalam ilmu psikologi sendiri, tetap ada batasan di mana kenakalan remaja harus dipantau dan diberikan pengawasan.

Ada beberapa definisi kenakalan remaja yang dijelaskan oleh beberapa ahli psikolog. Antara lain menurut Kartono, kenakalan remaja (juvenile delinquency) merupakan gejala patologis yang terjadi pada kaum remaja yang diakibatkan bentuk pengabaian sosial. Sehingga memunculkan bentuk perilaku-perilaku menyimpang.

Ada banyak perubahan-perubahan yang akan terjadi dalam diri anak pada masa remaja. Baik secara psikis maupun fisik anak. Jika dilihat dari sisi psikis ada banyak teori perkembangan anak menurut para ahli. Mereka menjelaskan tentang ketidakselarasan, gangguan perilaku, dan gangguan emosi yang disebabkan karena tekanan-tekanan yang dirasakan selama masa remaja. Itu dikarenakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam dirinya ataupun perubahan yang diakibatkan pengaruh lingkungan. Jika tidak diwaspadai, maka perubahan-perubahan sebagai tugas perkembangan remaja ini nantinya bisa memberikan dampak negatif.

Kenakalan remaja yang biasa terjadi di sekolah antara lain, bolos sekolah, datang terlambat, tidak mengerjakan tugas sekolah, berbohong pada orang lain, tidak jujur, berkata kasar dan tidak sopan pada guru, mengganggu teman, merokok, berkelahi antar pelajar, mencuri barang milik orang lain, nonton video porno, melakukan seks pra nikah, dan foto bugil.

Ada dua faktor yang memicu terjadinya kenakalan remaja. Pertama, faktor internal. Di antaranya krisis identitas dan memiliki kontrol diri yang lemah. Kedua, faktor eksternal. Bisa keluarga, sekolah, dan kondisi lingkungan sosial.

Dalam hal ini, permasalahan kenakalan remaja tidak boleh dibiarkan begitu saja. Salah satu misi SMK Negeri 1 Purwodadi meningkatkan sumber daya manusia yang berkepribadian luhur berlandaskan iman dan taqwa. Berkaitan dengan hal itu, untuk membantu siswa mencapai tujuan-tujuan perkembangannya dan mengatasi permasalahannya, maka segenap kegiatan dan kemudahan yang diselenggarakan sekolah perlu diarahkan kesana. Di sinilah dirasakan perlunya pelayanan bimbingan dan konseling di samping kegiatan pengajaran. Dan pelayanan bimbingan dan konseling merupakan peran yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling (Wardati dan Mohammad Jauhar).

Ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan dalam upaya untuk mengatasi kenakalan remaja terkait dengan fungsi dan tujuan bimbingan dan konseling. Antara lain tindakan preventif. Merupakan tindakan yang dapat mencegah timbulnya kenakalan remaja secara umum. Hal ini bisa kita lakukan dengan cara mengenal remaja lebih dalam lagi (melakukan pendekatan dengan remaja). Bisa mengetahui kesulitan-kesulitan yang dialami remaja. Melakukan usaha pembinaan remaja.

Tujuannya memperkuat sikap mental remaja agar mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Memberikan perhatian khusus dan mengawasi setiap penyimpangan tingkah laku remaja baik di rumah dan di sekolah. Pemberian bimbingan pengenalan diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Penyesuaian diri. Orientasi diri dengan penekanan pada kesadaran nilai-nilai sosial, moral, dan etika.

Selanjutnya tindakan represif. Ini merupakan usaha menindak pelanggaran norma-norma sosial dan moral. Dapat dilakukan dengan mengadakan hukuman terhadap setiap perbuatan pelanggaran yang dilakukan. Pelanggaran tata tertib sekolah pada umumnya tindakan represif diberikan dalam bentuk peringatan secara lisan maupun tulisan kepada siswa dan orang tua. Kemudian melakukan pengawasan khusus oleh kepala sekolah dan tim guru atau guru pembimbing. Tergantung pada jenis pelanggaran tata tertib yang dilakukan siswa.

Selanjutnya tindakan alih tangan kasus. Merupakan kegiatan untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas  atas permasalahan yang dialami siswa. Caranya dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada dokter, psikiater, psikolog, serta ahli lainnya. Tujuannya, agar siswa dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas.

Berdasarkan paparan di atas dapat kita simpulkan bahwa kenakalan yang terjadi pada diri remaja perlu mendapat perhatian khusus. Untuk mengatasinya tentu memerlukan pendekatan dan strategi khusus pula. Sehingga mampu mengembalikan kepercayaan diri pada remaja. Juga mampu mengembangkan potensinya ke arah yang lebih positif. Serta mampu menyesuaikan diri dengan lajunya arus globalisasi saat ini. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia