Senin, 22 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Rembang

Begini Jawaban DLH Penyebab Misteri Kematian Ikan di Pantai Rembang

14 Maret 2019, 11: 57: 56 WIB | editor : Ali Mustofa

AMBIL SAMPEL: Petugas mengambil sampel di Pantai Desa Gegunung Wetan, Rembang, kemarin.

AMBIL SAMPEL: Petugas mengambil sampel di Pantai Desa Gegunung Wetan, Rembang, kemarin. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Share this      

REMBANG – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Rembang mengambil sampel air laut di perairan Pantai Desa Gegunung Wetan, Rembang, kemarin. Hasil pengecekan air laut itu berubahnya warna hitam diduga akibat amonia. Sementara penyebab ribuan ikan mati di lokasi itu hingga kini masih diselediki penyebab pastinya.

Saat dicek DLH kemarin, air di perairan Pantai Desa Gegunungan Wetan, Rembang, hanya bewarna cokelat. Juga tidak bau. Kondisi itu berbeda dengan tiga hari berturut-turut sebelumnya. Saat itu air laut di pantai itu hitam pekat. Mirip comberan disertai bau busuk.

Jawa Pos Radar Kudus mengikuti pengambilan sampel kemarin. Empat orang ditugaskan mengambil sempel di perairan itu. Mereka dari Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Bidang Penataan dan Penaatan Lingkungan Kabupaten Rembang. Lalu seksi pencemaran lingkungan, yang diwakilkan Ulin Nuha Setianingrum dan Vina.

Kali pertama sekitar pukul 08.30 tim menuju Dusun Karangpandan dan Matalan, Desa Purworejo, Kaliori. Di sana sebelumnya banyak ikan mati. Tapi air laut di situ tidak terlalu keruh.

Setelah itu tim bergegas di Desa Gegunung Wetan, Rembang. Di lokasi itu sebelumnya ada satu warga setempat yang dilarikan rumah sakit. Ini setelah warga bersangkutan tidak kuat menghirup bau menyengat di laut.

Kepala Bidang Penataan dan Penaaatan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup DLH Rembang Budi Prianggodo didampingi Kasi Pengendalian Pencemaran Lingkungan, Prastio menyampaikan saat dilakukan pengecekan air di Kaliori dan Rembang hanya bewarna kecoklatan. Tidak ada ikan mati. Informasi warga Sabtu-Senin (16-18/3) masih terjadi. Namun kemarin normal.

”Titik kedua kami ambil di Gegunung Wetan. Hasilnya sama tidak ada tampak limbah. Sudah menghilang,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin.

Terkait fenomena ini DLH belum dapat simpulkan. Apakah berasal dari kegiatan usaha di sekitar pantai atau pemicu yang lain. Namun warga sudah diimbau kalau ada kejadian serupa langsung diminta mengambil sampel. Kemudian di video dan dilaporkan dinas.

Ia mengaku pihaknya akan inventarisasi di lokasi kejadian. ”Sepanjang pantai ini ada usaha-usaha apa saja. Termasuk dampak yang ditimbulkan,” terangnya.

Kemungkinan juga ada arus dari tengah menuju pinggir. Namun yang pasti informasi di Purworejo ikan mati berada di sepanjang 100 meter ke utara. Begitupun di Gegunung Wetan. Info warga sekitar ikan-ikan kecil yang mati jaraknya hanya 25-an meter. Dengan jenis yang sama dilaporkan di wilayah Kecamatan Kaliori maupun Rembang.

”Jadi kami belum dapat simpulkan penyebab ikan-ikan mati,” jelasnya di tengah-tengah pengecekan.

Lalu kalau dilihat dari data awal yang disampaikan, air berubah hitam ada sesuaatu yang dibuang ke tengah laut. Lalu menimbulkan bau. Otomatis buangan selain berwarna hitam pekat, kandungan gas amonia cukup tinggi.

Karena bau menyengat disebabkan gas amonia. Oleh karena itu dari Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan dan Bidang Penataan dan Penaatan Lingkungan akan melakukan pengawasan menyeluruh di sekitar lokasi. Mulai sepanjang Kaliori hingga Rembang.

”Dengan pengawasan, kami dapat mencari titik atau poin mana sekiranya bisa sebagai indikator bahwa air limbah berasal dari sekitar situ,” bebernya.

(ks/noe/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia