Kamis, 21 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Yhagie Hertians, Juara Parade Keprajuritan

Pentas Awal sampai Akhir Kehujanan, Anggota Saling Beri Semangat

14 Maret 2019, 08: 36: 25 WIB | editor : Ali Mustofa

MENAHAN LETIH: Yhagie Hartians Indonesia berpose seusai pementasan di Alun-alun Purwodadi Sabtu (9/3).

MENAHAN LETIH: Yhagie Hartians Indonesia berpose seusai pementasan di Alun-alun Purwodadi Sabtu (9/3). (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Share this      

Yhegie Hestians Indonesia membawakan cerita Ki Ageng Gringsing saat Parade Keprajuritan Nusantara 2018 di TMII. Pentasnya tak berjalan mulus. Jakarta diguyur hujan sepanjang penampilannya. Tetapi ia dan timnya berhasil jadi juara umum di acara itu.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI,Grobogan

SEJENAK teringat bait reff lagu Mahadewi dari Grub Band Padi, ketika melihat penampilan Yhagie Hertians Indonesia malam itu. Yhagie yang saat itu menjadi pusat perhatian berpasang-pasang mata. Dari sorot mata indahnya, dia tampak letih. Keringat di dahinya mulai bercucuran, tapi paras cantiknya masih terjaga. Tak kuasa mengusap. Saking banyaknya warga yang berkerumun ingin berpose dengannya.

Itu wajar saja, jika melihat Yhagie dengan balutan busana yang membuatnya menjelma seperti Shinta. Gemulainya dalam menari berhasil membawa penonton ke masa Ramayana. Tak heran, jika ia sukses membawakan perannya. Jika melihat kepiawaiannya sudah diasah sejak belia.

Sebelum taman kanak-kanak dara kelahiran Grobogan, 27 April 1996 ini sudah mengikuti kursus di sanggar tari. Makin lama makin terasah. Di sekolah dasar, SMP, hingga kuliah selalu aktif dalam kegiatan tari. Berbagai perlombaan kesenian selalu diikuti. Mulai festival kesenian hingga kirab budaya.

”Dari kecil kan diajak kondangan yang ada penampilannya gitu. Saya suka melihatnya. Kemudian bapak juga melihat saya suka tari,” ujarnya.

Seakan ingin mengembangkan bakat lebih dalam, ia pun memutuskan melanjutkan studinya di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Padahal sebelumnya ia sudah berkuliah di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS). Bukan memilih salah satu. Ia malah tetap berkuliah di dua universitas ternama kota bengawan ini.

Rupanya itu tak mengganggu prestasi akademisnya. Indeks Prestasi (IP) masih di atas tiga. Bahkan di bangku kuliah ini ia juga mendapat prestasi. Ia bersama timnya dari ISI berhasil menyabet juara umum Parade Keprajuritan Nusantara pada 2018. Yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

”Saat itu temanya tentang keprajuritan. Kreativitas koreo dan musik juga menjadi penilaian. Satu tim 30 orang. Sudah termasuk pemusik. Itu memainkan satu alur cerita. Durasinya lima menit,” kenangnya.

Cerita dalam parade saat itu tentang Ki Ageng Gringsing yang berjuang mempertahankan daerahnya. Tetapi ia menjumpai kendala. Ketika ia dan timnya tampil, langit Jakarta sedang diguyur hujan. Sementara penilaian dari juri berdasarkan ketahanan tubuh dan keutuhan formasi.

”Kami dari awal sampai akhir kehujanan. Tetapi kami saling memberi semangat. Karena ambisi kami memang untuk menang,” imbuhnya. Ya, cara mereka mengatasi kesulitan itu berhasil.

Dari menari ia mampu mengambil pelajaran tentang kesabaran. Menurutnya, menjadi penari harus memiliki tingkat kesabaran tinggi. Terutama pada tarian jawa. Yang mengharuskan telaten. Tak hanya tari tradisional, berbagai tari koreo modern juga ia kuasai.

Makin malam raut wajahnya tampak semakin lelah. Kami pun saling berpamitan. Ia mulai balik badan. Masih dengan kostum budaya tradisional, membaur dengan kerumunan orang berkostum modern. Makin lama semakin samar, perlahan ia mulai menghilang tertelan kerumunan. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia