Senin, 22 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Banyu Kauripan Menara Kudus Bakal Dikirab, Ini Pelaksanaannya

13 Maret 2019, 12: 58: 35 WIB | editor : Ali Mustofa

BUDAYA: Sejumlah pekerja seni membikin gentong yang akan digunakan untuk kirab 50 banyu kauripan pada 24 Maret mendatang.

BUDAYA: Sejumlah pekerja seni membikin gentong yang akan digunakan untuk kirab 50 banyu kauripan pada 24 Maret mendatang. (DONNY SETYAWAN/ Radar Kudus)

Share this      

KUDUS – Sebanyak 50 air dari Sendang di Kabupaten Kudus akan diarak dari Alun-alun Kudus menuju Menara Kudus dalam acara puncak Ta’sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. Rangkaian kegiatan itu akan dilakukan pada 24 dan 25 Maret nanti.

Sebelumnya kegiatan tersebut dijelaskan oleh Ketua YM3SK, KH. Em Nadjib Hasan dan Panitia Ta’sis Menara Abdul Jalil saat konferensi pers di Rumah Adat Joglo Gedung Menara YM3SK, Kudus kemarin.

KH. Em Nadjib Hasan, mengatakan, Menara Kudus merupakan satu-satunya bentuk toleransi masyarakat plural yang ada di dunia. Terdapat tiga simbol keagamaan didalamnya. Yakni Budha, Hindu dan Islam. Ada simbol yang perlu digali lebih dalam maknanya. Yaitu Banyu Panguripan (banyu kehidupan) yang sering disebut dengan mbelik.

Dia juga mengatakan eksistensi banyu panguripan itu telah menjadi bagian penting dalam ranah psikologis masyarakat. Sehingga setiap yang punya gawe selalu ingat leluhur dengan menyajikan selametan atau mengambil air suci.

”Ini bentuk merawat tradisi yang dulu pernah ada, agar tak punah dimakan zaman,” katanya.

Sementara itu Abdul Jalil mengatakan, sebelum air diarak menuju Menara Kudus, akan dibarengi dengan Khataman Al-Quran sebannyak 19 kali. Tepat pada pembacaan doa Khataman Al-Quran itu, dijawadkan banyu yang diarak sudah sampai di Menara Kudus.

Tujuan dari kegiatan itu, Jalil, menjelaskan, sebagai pengenalan tentang prasasti, baik teks dan konteksnya. Untuk menggali instrumen penggerak budaya berupa air dan makanan, termasuk situasi sosial-politik saat didirikannya “negeri” Kudus.

”Memperkenalkan corak khas perilaku bagus ngaji dagang (Gusjigang),” katanya.

Selain kegiatan kirab tersebut. Adapula kegiatan Festival Kuliner Tradisional (Koedoes Tempoe Doeloe). Ada pula terbangan Kolosal, Jagong Gusjigang “Banyu Penguripan, Urip dan Urup”, kegiatan tersebut dilakukan pada tanggal 24 Maret. Serta puncaknya yakni Kirab Banyu Panguripan dan Khataman Al-Quran 19 kali pada 25 Maret. (gal)

(ks/him/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia