Senin, 22 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Blora

Bupati Minta Dinas Kesehatan Perbarui Data untuk Tangani Stunting

13 Maret 2019, 11: 57: 37 WIB | editor : Ali Mustofa

KOMITMEN BERSAMA: Perwakilan dari OPD terkait menandatangani komitmen untuk bersama-sama menangani stunting di Kabupaten Blora.

KOMITMEN BERSAMA: Perwakilan dari OPD terkait menandatangani komitmen untuk bersama-sama menangani stunting di Kabupaten Blora. (HUMAS PEMKAB BLORA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

KOTA – Bupati Blora Djoko Nugroho meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora memperbarui data anak stunting di Kota Sate. Itu, untuk memudahkan identifikasi dan penanganan anak stunting.

Selain Dinkes, bupati juga meminta peran aktif dari pihak terkait. Mulai dari bidan desa, kepala desa, hingga camat. ”Saya ingin semua pertumbuhan bayi normal. Jika ada stunting, tolong diidentifikasi apa penyebabnya untuk ditangani bersama-sama,” jelasnya pada Rapat Kerja Kesehatan Daerah di Pendapa Rumah Dinas Bupati kemarin.

Tidak hanya bayi, menurut bupati kondisi ibu hamil juga perlu dikawal agar pertumbuhan janin di dalam rahimnya bisa sempurna. Baik asupan gizinya maupun kebersihan lingkungan rumahnya.

Semua OPD terkait harus bisa mengambil peran dalam upaya penanggulangan stunting ini. Bupati menginginkan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) difokuskan untuk pembangunan lantai rumah, sanitasi, dan ventilasi udara. Sebab, rumah yang berlantai tanah, bersanitasi buruk, dan minim ventilasi jadi salah satu penyebab stunting.

Bupati juga meminta Dinas Kesehatan beserta seluruh jajarannya, dibantu kades dan camat bisa memperbarui data stunting di Kabupaten Blora. ”Saya ingin tahu by name, siapa saja bayi yang menderita stunting. Dua bulan kedepan akan saya kontrol bagaimana perkembangan penanganannya,” lanjutnya.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora Lilik Hernanto menyampaikan, angka stunting berdasarkan data penimbangan serentak pada Agustus 2018 sebanyak 8,3 persen. ”Dari 45.637 bayi yang ditimbang, 8,3 persen diantaranya menderita stunting. Ini yang akan menjadi salah satu fokus penanggulangan stunting kita,” ungkapnya.

Menurut Lilik, ada beberapa faktor penyabab stunting di Kabupaten Blora. Diantaranya yang paling besar adalah buruknya pola asuh orangtua terhadap anaknya. Sedangkan faktor lainnya adalah kondisi lantai rumah yang masih berupa tanah. Lantai tanah berpotensi memungkinkan hidupnya virus penyakit lebih lama ketimbang lantai ubin.

”Sedangkan angka stunting tertinggi berada di Puskesmas Kedungtuban, disusul Puskesmas Randulawang, Puskesmas Rowobungkul, Puskesmas Gondoriyo, dan Puskesmas Puledagel,” lanjutnya.

(ks/sub/lid/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia