Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
T Sugiyanto, Eks Manajer Persiku Kudus

Buat Launching Tim Meriah dengan Konser Padi Reborn

13 Maret 2019, 08: 55: 30 WIB | editor : Ali Mustofa

T Sugiyanto

T Sugiyanto (DOK PRIBADI)

Share this      

Tim sepak bola kebanggaan masyarakat Kudus, Persiku memiliki satu penggemar sejati. Bahkan sempat ikut terlibat langsung dalam mengelola manajemennya. Tim berjuluk Macan Muria menjadi jaya dengan masuk Divisi Utama pada 2008 silam. Dia T Sugiyanto, eks manajer tim berjuluk Macan Muria.

M ULIN NUHA, Kudus

NAMA Persiku kembali naik akhir-akhir ini, setelah terjadi pergantian kepala daerah. Tim berjuluk Macan Muria tahun ini kembali memiliki target fantastis. Masuk ke Liga 1 turnamen sepak bola Indonesia. Itu sebabnya, semua lini dibenahi untuk bisa mencapai target tersebut. Orang-orang yang dulu membuat Persiku jaya, kembali direkrut dalam kepengurusan kali ini.

SUCCESS STORY: Persiku saat menjadi juara 1 Divisi II Liga Indonesia 2005. Tim ini kemudian mampu bermain di Divisi Utama 2008/2009.

SUCCESS STORY: Persiku saat menjadi juara 1 Divisi II Liga Indonesia 2005. Tim ini kemudian mampu bermain di Divisi Utama 2008/2009. (DOK PRIBADI)

Namun, ada satu penggemar sejati Persiku yang dulu andil dalam kejayaannya. Saat ini sosok itu tak lagi ikut ambil bagian di tim. Dia adalah T Sugiyanto. Meski sudah ditawari untuk turut menangani Persiku, namun pria ini menolaknya. ”Saya beberapa waktu lalu memang ditawari untuk kembali ikut menangani Persiku. Tapi, saya menolak. Bukan kenapa-kenapa, tapi karena kesibukan saya di tempat kerja yang tidak bisa saya tinggalkan,” terangnya.

Rasa hati memang ingin ikut serta menangani Persiku sebagaimana dulu. Namun, bagi pria yang akrab disapa Pak T ini, kesibukan bekerja juga tidak bisa diabaikan. Namun, bukan berarti dia tidak terlibat lagi di Persiku. Dukungan nyata diberikan kepada klub melalui jalan lain. Saat Persiku di-launching beberapa waktu lalu, dia ikut serta di dalamnya. Membuatkan acara yang meriah di Alun-alun Simpang 7 Kudus yang melibatkan banyak pihak.

Pak T mendatangkan grup musik Padi Reborn guna menyemarakkan launching. Konser yang dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Bupati Kudus HM Tamzil bersama jajarannya itu, berlangsung sangat semarak. ”Ini hajatannya pencinta sepak bola di Kudus, yang ingin melihat tim kesayangan mereka dalam suasana yang baru. Kita memulainya juga harus dengan sesuatu yang berbeda. Dan yang bisa saya lakukan adalah mendukung melalui konser kemarin itu. Ternyata diapresiasi banyak pihak, sehingga acaranya berlangsung meriah. Saya berterima kasih atas semua itu,” paparnya.

Sebagai mantan pengurus inti Persiku, dia memahami benar arti keinginan supaya sebuah tim bisa sukses. Salah satunya adalah dukungan dari suporter, pengampu kebijakan, dan stakeholder lain. Pak T sendiri pengurus inti Persiku ketika masih berlaga di Divisi II B Jawa Tengah. Sampai akhirnya bisa menembus Divisi Utama pada 2008.

Menurutnya, pada 1995-2000 Persiku mengalami kevakuman, sehingga menimbulkan keprihatinan tersendiri. Namun, berkat kerja keras semua pihak, akhirnya Persiku bisa ikut kompetisi kembali pada musim 2000/2001 di Divisi II B Jawa Tengah. Selanjutnya, prestasi Persiku terus beranjak naik. Hasilnya pada 2008/2009 mampu bermain di Divisi Utama. Banyak pengurus Persiku yang berjuang agar Persiku mampu bermain di Divisi Utama.

”Saya bangga bisa mengurusi Persiku sebelum akhirnya mengundurkan diri dari kepengurusan. Tapi, dari sejak zaman kakak saya mengurusi Persiku, sampai saat ini, saya tetap mencintai Persiku. Meski tidak berkecimpung langsung, namun saya akan terus membantu klub ini sebisa saya,” tegasnya.

Kecintaannya pada sepak bola memang tertanam lama. Sebelum ikut mengurusi Persiku, ayah dua anak ini sudah mengurusi sepak bola di tempatnya bekerja, di  PT Nojorono Tobacco International. Yakni mengurusi PS Nojorono mengikuti Galakarya atau pertandingan sepak bola antarkaryawan perusahaan. Saat itu dia mulai mengurusi sekitar 1991 atau 1992.

Hal itu dibenarkan salah satu orang yang juga ikut serta di dalamnya, Suhadi Bonding. Menurutnya, ketika menjadi manajer tim banyak mendulang kemenangan dan menjadi juara. Misalnya saat laga di Korwil Pati, tim PS Nojorono mampu meraih juara setelah mengalahkan Persikaba Blora. Timnya juga berhasil meraih kejuaraan di berbagai kota di Jawa Tengah. Seperti di Solo, Ambarawa, Klaten, dan Batang. ”Dari sinilah Pak T diakui dalam menangani tim sepak bola. Kami juga bangga ketika Pak T diminta menangani Persiku,” jelasnya.

Pak T juga dikenal sebagai salah satu yang aktif di kegiatan sosial. Perusahaan tempatnya bekerja, juga kerap memberikan bantuan ke berbagai kalangan. Misalnya memberikan beasiswa kepada anak-anak karyawan. Dia juga pernah menjadi anggota Dewan Kehormatan Palang Merang Indonesia (PMI) Cabang Kudus. Bahkan hingga tiga periode.

Menurut suami Yennywati Winanto ini, bisa membantu sesama itu merupakan hal yang menyenangkan. Semua pekerjaan yang ada dilakukan dengan baik, apalagi yang menyangkut misi sosial. ”Saya juga didukung perusahaan. Itu membuat kita semakin bisa berbuat baik kepada banyak orang. Misalnya setiap tiga bulan sekali karyawan PT Nojorono Tobacco International turut menyumbangkan darahnya ke PMI Cabang Kudus. Karyawan memahami, jika darah yang mereka sumbangkan sangat dibutuhkan orang lain,” katanya.

Beberapa kegiatan yang digelar perusahaan juga terbilang sukses dilaksanakan pria ini. Misalnya menggelar berbagai konser di Kudus dan sekitarnya. Selain band Padi Reborn saat launching Persiku, konser yang sukses dilaksanakan di antaranya konser band Ungu, Armada, Seventeen, dan Kotak.

Bukti lain kinerja Pak T adalah taman di depan kantor bupati Kudus. Sejak awal dibangun, dia dengan setia mengawasi prosesnya. Termasuk memilih jenis tanaman. Seringkali pria ini terlihat sedang mengecek langsung kondisi taman. Apakah sudah bagus dan terawat baik atau belum. Taman itu sumbangan PT Nojorono Tobacco International kepada Kudus agar membuat asri pemandangan di pusat kota.

Bagi Pak T, hidup memang harus bermanfaat. Bukan saja kepada diri sendiri, keluarga, namun juga kepada semua pihak. Apalagi bagi mereka yang membutuhkan. Jika semua orang bisa menyadari hal itu, tak akan sulit membangun kebaikan di dunia ini.

Contohnya baru-baru ini digelar dialog budaya ”Mutiara Nusantara”. Acara yang diprakarsainya itu, ditujukan untuk merayakan persatuan dan kesatuan Indonesia. ”Kita ingin menyampaikan semangat baik kepada semua pihak, bahwa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini sangat penting,” imbuhnya. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia