Rabu, 17 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Mengerti, Bukan Ingin Dimengerti

11 Maret 2019, 06: 05: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Mengerti, Bukan Ingin Dimengerti

SAYA orang Jawa Timur. KTP Sidoarjo. Tinggal di pinggiran. Selatan Surabaya. Terbiasa berbicara keras dan blak-blakan. Suatu saat sampai disindir oleh seorang kawan, wartawan di Semarang. ‘’Mungkin ke depan saya harus bilang ke tukang sound kalau suara Pak Baehaqi itu sangat bertenaga. Supaya (sound-nya) bisa disesuaikan,” ujarnya.

Karakter saya itu berbeda dengan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Beliau asli Lempongsari, tempat saya tinggal setahun terakhir. Penampilannya cool. Suaranya lembut. Tetapi dahsyat. Sindirannya seperti geledeg. ”Pak, itu memang dibikin bolong atau hilang,” katanya kepada salah seorang kepala dinas sambil menunjuk ikon Taman Meteseh yang bogang.

Setahun terakhir saya harus lebih serius menyelami karakter orang Jawa Tengah, khususnya Semarang. Lahir dan besar sebenarnya di Kudus. Tetapi, separo hidup nyaris bersama orang Surabaya yang terbiasa tanpa tedeng aling-aling. Hampir 30 tahun bekerja di Surabaya dan hampir 38 tahun tinggal di Jawa Timur.

Enam tahun lalu saya ditugaskan di tanah kelahiran, Kudus dan setahun belakangan merangkap di Semarang. Mau tidak mau harus lebih serius menyatu dengan karakter orang-orang yang halus, tetapi sangat kuat. Itu kalau mau berhasil. Tidak gampang. Sering kejeglong. Kena hantaman juga.

Suatu saat saya berjanji untuk membiayai Bakar-Bakar Jurnalistik. Yaitu bakar-bakar ikan, sosis, ayam, dan kambing yang dilakukan wartawan Radar Semarang. Itu untuk meredakan ketegangan setelah empot-empotan mengejar deadline. Kebiasaan saya terbuka. ”Bilang saja kalau mau bakar-bakar lagi, saya sediakan uangnya.” kata saya kepada  para wartawan. Secara khusus pesan itu juga saya sampaikan kepada pemimpin redaksi.

Sampai hitungan minggu tidak ada orang yang menjapri mengenai kegiatan bakar-bakar. Mungkin sungkan atau takut. Tiba-tiba ada video parodi minta-minta sumbangan yang diunggah di grup WA. Di ujung video itu diberi teks, ”iuran tadi bukan untuk dek haryanto yg lagi pusing bayar kos, tapi buat bakaran jurnalistik guys...sponsor klaim by pak baehaqi.” Tulisan aslinya seperti itu. Saya tertawa meski perasaan seperti disambar petir.

Menghadapi orang Jawa Tengah, khususnya orang Semarang itu tidak gampang. Diperlukan sensivitas yang tinggi. Padahal mereka juga sangat sensitif. Tidak peka bisa kena bom yang terbungkus sindiran halus. Terlalu peka bisa menyinggung perasaan. Apalagi terlalu keras dan blak-blakan. Di sini saya acungi jempol kepada Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Saya betul-betul belajar kepada keduanya. Bagaimana menghadapi masyarakat. Berkomunikasi dengan mereka. Dan menjadi pelayan mereka. Hendi -panggilan Hendrar Prihadi- dan Ganjar -panggilan Ganjar Pranowo- bisa mengambil peran dengan santai. Bisa ketawa-ketawa juga. Itulah kunci sukses menjadi pemimpin. Selalu bisa menghadapi persoalan tanpa ketegangan.

Saya tahu Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini itu luar biasa. Itu karena saya 30 tahun bekerja di Kota Buaya. Kota yang dipimpinnya juga luar biasa. Tetapi, meski baru setahun bekerja di Semarang saya bisa menyimpulkan Semarang itu hebat. Itu karena Semarang memiliki pemimpin yang hebat.

Kalau Semarang belum seperti Surabaya, itu karena masih dalam proses. Hendi baru tiga tahun memimpin wilayah seluas 373,7 km2. Sedangkan Risma -panggilan Tri Rismaharini- sudah delapan tahun memimpin Surabaya yang luas wilayahnya hanya 350 km2.

Semarang menjadi acuan perkembangan kota-kota lain di Jawa Tengah. Posisinya sangat strategis. Kalau Semarang maju, kota lainnya juga maju. Demikian sebaliknya. Maka wali kota harus memiliki jiwa setengah gubernur.

Hendi mempunyai dasar yang kuat dalam memimpin Semarang. Intinya mengerti. Bukan dimengerti. Lebih-lebih mengerti sebelum dimengerti. Adanya di dalam hati. (hq@jawapos.co.id)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia