Rabu, 24 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Features
Elfrida Aliffanti, Atlet Pencak Silat Kudus

Awalnya Tak Direstui Ayah saat Menekuni Olahraga Bela Diri

05 Maret 2019, 06: 00: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Elfrida Aliffanti

Elfrida Aliffanti (DOK PRIBADI)

Elfrida Aliffanti menekuni pencak silat sejak kecil. Namun, dirinya pernah ditentang sang ayah. Sebab, olahraga bela diri terbilang keras bagi perempuan. Dengan prestasi yang ditorehkan, ayahnya pun berbalik mendukungnya. Kini dia pun merambah ke wasit.

VEGA MA’ARIJIL ULA, Kudus

PENCAK silat bagi Elfrida Aliffanti sudah menjadi olahraga favorit. Olahraga yang identik dengan pukulan dan tendangan ini, ditekuninya sejak masih duduk di kelas VI sekolah dasar (SD). Tepatnya pada 2007. Bermula dari ekstrakurikuler di SD 1 Gulang, Mejobo, Kudus, dan ajakan teman-temanya, Elfrida mulai belajar olahraga bela diri itu.

GARANG SAAT BERTANDING: Elfrida Aliffanti saat bertanding di salah satu kejuaraan pencak silat.

GARANG SAAT BERTANDING: Elfrida Aliffanti saat bertanding di salah satu kejuaraan pencak silat. (DOK PRIBADI)

Dirinya semakin tertarik dengan pencak silat. Oleh karenanya, pencak silat kembali ditekuninya saat sekolah di SMP 1 Mejobo. Namun, keinginannya menekuni olahraga asli Indonesia ini, sempat pula ditentang oleh sang ayah. Sebab, menurut sang ayah olahraga pencak silat terbilang keras untuk perempuan. ”Pernah ditentang ayah. Ayah sampai curhat ke bude, katanya anak cewek kok ikut pencak silat. Jotos-jotosan gitu,” terangnya.

Namun, Elfrida tetap menekuni pencak silat. Alumni Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini, ingin membuktikan kepada sang ayah. Lambat laun sang ayah mendukung. Bahkan, saat Elfrida mengabari setiap akan bertanding, ayahnya selalu datang untuk menonton.

Tak tanggung-tanggung deretan prestasi di bidang pencak silat ia persembahkan untuk sang ayah. Mulai dari juara I Jawa Tengah Popda 2010 di nomor tarung, juara II Pekan Olahraga dan Seni antar Pondok Pesantren (Pospenas) 2013, juara III Kejuaraan Provinsi Jateng di Salatiga 2015, dan juara I Pekan Olahraga Mahasiswa (POM) Rayon 2015.

Sebagai atlet pencak silat, lebam di wajah akibat pukulan pernah dirasakan Elfrida. Pun dengan cedera engkel dan keseleo juga pernah dialaminya.

Namun, tahun ini dia memilih bidang lain. Namun masih ada hubungannya dengan pencak silat. Yakni sebagai wasit. Dirinya pun sering diminta membantu menjadi wasit saat ada even pertandingan pencak silat di Kudus dan di Unnes.

Baru-baru ini, Elfrida yang lulusan Jurusan Ilmu Keolahragaan, Unnes, ini, diminta menjadi wasit di ajang Pekan Olahraga Daerah (Popda) Kudus yang dilangsungkan di GOR Bung Karno, Kudus.

Disinggung soal jadi atlet atau wasit, Elfrida lebih senang menjadi atlet. Sebab, atlet lebih memiliki waktu istirahat yang lebih lama. Sedangkan wasit pencak silat harus tugas dari pagi hingga larut malam.

Dia saat ini menjadi wasit hanya membantu di sejumlah kejuaraan yang digelar di Kudus. Sebab, dia belum memiliki lisensi yang memperbolehkan menjadi wasit di tingkat yang lebih tinggi. Namun, dia mengaku tidak terlalu ngoyo untuk mengambil lisensi wasit. Sebab, dia kini sudah memiliki pekerjaan tetap sebagai staf administrasi di kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kudus.

Dara kelahiran Kudus, 9 Juli 1996 ini mengaku masih sering nimbrung latihan pencak silat dan jogging untuk menjaga kebugaran. Dirinya juga berpesan agar atlet-atlet pencak silat kudus dapat berprestasi.

”Untuk atlet pencak silat Kudus semoga terus berprestasi. Selain itu, semoga atlet pencak silat diberikan perhatian juga soal nutrisi. Karena kasihan kalau latihan berat tetapi tidak diberi asupan nutrisi dan vitamin. Perlu juga atlet diajak untuk refreshing agar tidak jenuh,” harapnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia