Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Pena Muda
Zaenudin, Difabel Pembuat Miniatur Bahan Kayu

Tak Mau Terus Frustasi, Sulap Bambu Jadi Bernilai Jual Tinggi

05 Maret 2019, 06: 35: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

TANGGUH: Zaenudin menunjukkan miniatur rumah yang terbuat dari bambu karyanya.

TANGGUH: Zaenudin menunjukkan miniatur rumah yang terbuat dari bambu karyanya. (M ULIN NUHA/RADAR KUDUS)

Share this      

Menjadi tuna daksa -kehilangan satu tangan- akibat kecelakaan kerja, tak membuat Zaenudin terpuruk. Dia mampu bangkit dan berkarya. Kini, limbah kayu dan bambu mampu disulap menjadi barang bernilai artistik. Tentunya bernilai jual tinggi.

SIFA ISTIQOMAH, Kudus

DENGAN hati-hati Zaenudin menata beberapa hiasan dari bambu karyanya di atas meja pameran di aula gedung DPRD Kudus. Sekilas memang tidak ada yang aneh dari pria kelahiran Kudus, 8 April 1989 tersebut. Namun, siapa sangka pada Maret 2017 lalu, ia telah kehilangan satu tangan bagian kiri. Akibat kecelakaan kerja yang dialaminya.

(M ULIN NUHA/RADAR KUDUS)

Saat awal hidupnya dengan satu tangan, rasa frustasi dirasakannya. Sebab, selain kehilangan sebelah tangan, Zaenudin juga kehilangan mata pencaharian. Itu karena ia tak lagi mampu melakukan pekerjaan seperti sebelumnya.

Selama proses penyembuhan pasca kecelakaan yang dialaminya, untuk mengusir kejenuhan, bapak satu anak ini iseng menyusun stick bekas ice cream milik Tyas Ayu Natasya, putri semata wayangnya. Siapa sangka, berawal dari keisengan tersebut, ternyata membuahkan sebuah karya miniatur rumah yang artistik.

Mulai dari situ, ia terus konsisten membuat hiasan atau miniatur yang terbuat dari stick bekas ice cream. Bahan itu, kemudian merambah ke limbah-limbah kayu maupun bambu di sekitar rumahnya.

Semakin banyak karya yang dihasilkan, semakin banyak ia memperoleh pesanan dari teman-teman maupun tetangga dekatnya. Melihat peluang tersebut, lelaki yang bertempat tinggal di Dukuh Tergo, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus ini, menjadikan ini sebagai mata pencaharian.

Melihat melimpahnya tanaman bambu di daerah tempat tinggalnya, Zaenudin pun konsisten membuat berbagai macam miniatur dari bambu. ”Dulu sering pakai stick atau kayu sisa pasrahan, sekarang pakai bambu karena mudah didapat. Di samping rumah banyak,” jelasnya.

Selain itu, ia juga bergabung dengan Forum Komunikasi Disabilitas Kudus (FKDK) bersama puluhan difabel se-Kabupaten Kudus lain. Dengan menjadi anggota FKDK, Zaenudin sering mengikuti pertemuan selapanan dengan semua anggota FKDK.

Dalam pertemuan tersebut, selain yasinan dan tahlil, para penyandang disabilitas anggota FKDK saling sharing tentang kegiatan ataupun keahlian baru yang dimilikinya. Hal ini memacu Zaenudin untuk terus mengasah kemampuan dan kreativitasnya dalam mengolah bambu sebuah karya yang bernilai artistik tinggi.

Keterbatasan fisik yang dialaminya tak menjadikan penghalang untuk tetap berkarya. Setiap hari, suami dari Nor Hasanah ini, membuat miniatur dari bambu. Dengan dibantu alat sederhana, ia melakukan tahap demi tahap pembuatan miniatur hiasan dari bambu itu sendiri. Mulai dari menggergaji, memotong bambu hingga pengecatan ia kerjakan seorang diri.

Saat ditemui pada puncak acara peringatan Hari Disabilitas Internasional di aula gedung DPRD Kudus sekitar Desember 2018 lalu, ia mengaku, untuk membuat satu miniatur dibutuhkan sekitar satu pekan waktu pengerjaan. Tergantung dari tingkat kerumitan dan juga ukuran miniatur bambu.

Sementara ditanya pemasarannya, Zaenudin mengaku masih dijual di rumah meskipun terkadang dibantu jual online oleh temannya via media sosial (medsos). ”Di rumah saja. Pada datang kerumah (pembelinya). Kadang juga dipasang di Facebook temen. Soalnya saya belum punya (akun) Facebook sendiri,” akunya.

Sedangkan harga yang dibanderol, untuk satu miniatur bambu Zaenudin menjual dengan harga berkisar Rp 100 ribu hingga 500 ribu. Tergantung tingkat kerumitan dan ukurannya.

Meskipun bahan bakunya mudah didapat, dia mengaku masih ada kendala berkarya. Terutama soal keterbatasan modal dan peralatan yang lebih canggih. Kepada tim Pena Muda, ia mengaku ingin membeli kompressor untuk pengecatan, sehingga hasil akhir pewarnaannya lebih rata dan bagus. Selain itu, prosesnya juga lebih cepat. Namun sayang, Zaenudin belum cukup modal untuk membeli alat semprot tersebut. Kini, dia menabung untuk membeli atau berharap ada pihak yang suka rela menyumbang. (*)

Rubrik ini adalah karya jurnalistik para penerima Beasiswa Anak Asuh - Sumbangsih Sosial Djarum Foundation. Diterbitkan atas kerja sama Radar Kudus, Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (FLKSA) Kabupaten Kudus dan Djarum Foundation. Para penerima beasiswa adalah anak asuh panti asuhan di Kudus yang mendapatkan beasiswa pendidikan penuh di SMK Binaan Djarum Foundation.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia