Rabu, 26 Jun 2019
radarkudus
icon featured
Sportainment

Esti Puji Lestari: Beli Persijap, Malah Suami Tak Bisa Main

01 Maret 2019, 09: 47: 41 WIB | editor : Ali Mustofa

Esti Puji Lestari: Beli Persijap, Malah Suami Tak Bisa Main

JEPARA - Koper merah ditarik Esti Puji Lestari. Masuk ke aula mes Persijap di Jalan Ki Mangunsarkoro, Nomor 17, Kelurahan Panggang, Kota, Jepara. Disambut oleh juru masak di mes itu. Keduanya pelukan dan cium pipi. Seperti kawan yang sudah lama tak bertemu.

Esti memang jarang ke Jepara. Apalagi sejak suaminya, Carlos Raul Sciucatti tak bermain di Persijap. Dulu, Esti memang domisili di Jepara. Mengontrak rumah. Selama kurang lebih dua tahun. Namun, ketika mau memperpanjang kontrak, pemilik rumah tak mau. Akhirnya, dia putuskan untuk domisili di Jakarta. Kalau ada urusan penting, dia baru ke Kota Ukir dan menginap di hotel. ”Toh saya juga sudah jarang ke Jepara. Kalau ada rumah di Jepara juga jadi jarang merawatnya,” ungkapnya.

Sang suami pula yang jadi faktor Esti masuk ke dunia sepak bola. Esti dan Carlos menikah pada 2014 lalu. Mereka kenalan di salah satu kedai Starbucks Coffe di Jakarta. Saat itu untuk urusan bisnis. Esti Awalnya mau bertemu lima menit saja. Begitu ngobrol dengan Carlos, dia merasa cocok. Akhirnya obrolan yang semula hanya direncanakan lima menit, berubah jadi lima jam.

Esti menemukan hal berbeda di diri Carlos. Yang jarang sekali ditemukan pada pemain sepak bola, terutama pemain asing. Yang biasanya identik dengan hidup mewah. Kehidupan yang glamor. Di mata Esti, Carlos itu sederhana. Apa adanya. Itulah yang akhirnya memikat hatinya. Bahkan, untuk urusan mengatur keuangan, Carlos lebih jago ketimbang Esti. Padahal, Esti yang punya latar belakang pebisnis.

Semua pendapatan yang didapat Carlos diserahkan ke Esti. Bahkan, gaji dari bertanding di level tarkam yang besarnya hanya Rp 500 ribu pun dia serahkan ke Esti. Uang itu ditaruh di samping tempat tidur. Paginya ketika Esti bangun, bertanya ke Carlos itu uang apa. Ternyata itu hasil Carlos bermain tarkam.

”Langsung saya cium Carlos. Lalu Carlos bilang, kalau saya dapat Rp 500 juta kamu cium saya 10 kali,” jelas Esti sambil tertawa.

Perempuan asli Sukabumi, Jawa Barat, itu juga sangat berperan dalam karir sepak bola Carlos. Dia yang jadi manajer Carlos ketika main di beberapa klub di Indonesia. Mengurus kontrak Carlos. Pun ketika sang suami ada masalah. Entah itu soal gaji ataupun Kartu Izin Tinggal Terbatas (Kitas). Esti yang turun langsung mengurusnya. Termasuk melobi manajemen klub.

Mulai membela Persijap pada 2008, Carlos sempat berpindah klub, seperti ke Persela Lamongan, Persidafon Dafonsoro, PSLS Lhoksumawe, dan Mitra Kukar. Carlos akhirnya kembali lagi ke Persijap pada 2014. Pemain asal Argentina itu sempat ragu. Karena masuk di tengah musim dan kondisi Persijap berada di jurang degradasi Liga 2.

Esti yang meyakinkan Carlos untuk kembali lagi berkostum Persijap. Justru dengan kondisi yang nyaris degradasi itulah, Esti meminta Carlos untuk membantu. Agar Persijap tetap berada di Liga 2. Entah apapun hasilnya, yang penting usaha dahulu. Meskipun akhirnya Persijap harus terdegradasi juga ke Liga 3.

Niat menyelamatkan kapal yang nyaris tenggelam, Esti akhirnya memutuskan membeli saham Persijap 20 persen. Dari pemilik saham mayoritas M Said Basalamah. Dengan perhitungan bisnis yang sangat matang. Seperti uji kelayakan. Semua dokumen dicek oleh Esti. Saat itu, Persijap memang punya utang miliaran rupiah. Kondisi keuangan sudah jelas minus. Aset juga tidak ada, karena statusnya milik Pemkab Jepara.

”Saya beli Persijap memang untuk suami saya. Supaya bisa main bola dengan jujur. Suporternya juga banyak. Suporter bilang saya cari untung. Memang ini bisnis, untung itu juga untuk gaji pemain,” ujarnya.

Esti mengakui dirinya memang nekat dan terlalu percaya diri saat membeli tim berjuluk Laskar Kalinyamat itu. Meskipun secara hitung-hitungan bisnis sudah matang, ada faktor lain yang tak diperhitungkan. Terutama dari internal Persijap sendiri. Seperti orang-orang yang tak punya integritas. Ada oknum manajemen dan pemain Persijap yang saat itu terlibat match setting. Informasi itu didapat dari pelatih Persijap saat itu berinisial IS.

Perjuangan Esti menyelamatkan Persijap semakin berat. Ketika saat itu PSSI dibekukan. Persijap berlaga di Indonesian Soccer Championship (ISC) B. Apesnya, regulasi saat itu tak memperbolehkan ada pemain asing di ISC B. ”Saya sedih. Sudah beli saham, tapi suami saya tidak bisa main,” ungkapnya.

Akhirnya, Carlos memutuskan mengambil kursus kepelatihan. Dorongan Esti ke Carlos agar ikut kursus kepelatihan bukannya tanpa alasan. Dari pengalamannya mengikuti Carlos dari satu klub ke klub lain, tak mudah menggantungkan masa depan sebagai pemain sepak bola di Indonesia.

Carlos pun sempat menjadi pelatih Persijap. Ketika Persijap tak lagi menjalin kerja sama dengan pelatih Fernando Sales. Meskipun hanya untuk menghabiskan sisa musim Liga 3 2017. Sebelum akhirnya Persijap mengontrak dengan Patrick Ghigani sebagai pelatih. Sedangkan Carlos merapat ke salah satu klub di Tiongkok.

(ks/lid/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia