Senin, 22 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Sportainment
Esti Puji Lestari Blak-blakan Match Setting

Catat Match Setting sejak Tiga Tahun Lalu

01 Maret 2019, 09: 25: 38 WIB | editor : Ali Mustofa

Esti Puji Lestari

Esti Puji Lestari (Kholid Hazmi/Radar Kudus)

Share this      

Sepak bola Indonesia sedang dihadapkan permasalahan match setting. Dari kasus ini, jumlah tersangka yang ditetapkan oleh Satgas Anti-Mafia Bola terus bertambah. Di antara yang getol menyuarakan perlawanan terhadap match setting yakni Esti Puji Lestari, Presiden Persijap Jepara. Berikut laporan wartawan Radar Kudus Vega Ma’arijil Ula dan Kholid Hazmi yang memiliki kesempatan wawancara dengan Esti.

DITEMUI di kantornya yang berlokasi di Jalan Ki Mangunsarkoro, Nomor 17, Kelurahan Panggang, Kota, Jepara, Esti Puji Lestari menyambut baik kedatangan wartawan Jawa Pos Radar Kudus. Esti menceritakan soal match setting yang beberapa hari terakhir masih menjadi perbincangan hangat publik.

Berawal dari inisiatifnya menulis data-data soal match setting di 2017, tak disangka data-data yang dia tulis manual di sebuah buku dapat bermanfaat hari ini. Meski tidak dapat dijadikan bukti kuat, setidaknya tulisan istri Carlos Raul Sciucatti itu, dapat memberikan pencerahan kepada Satuan Petugas (Satgas) Anti-Mafia Bola dalam bertugas membongkar kasus match setting.

Orang nomor 1 di Persijap Jepara itu, mengaku sudah getol untuk membongkar match setting jauh-jauh hari sebelum ramai dibicarakan seperti saat ini. Bahkan, Esti juga pernah menanyai pemain Persijap satu per satu soal match setting. Itu dilakukannya tiga tahun lalu.

”Tiga tahun lalu saya pernah menanyai beberapa pemain saya apakah pernah terlibat dengan match setting atau tidak. Saya masih ingat itu saya lakukan di Stadion Gelora Bumi Kartini (SGBK) Jepara,” terangnya.

Esti juga menceritakan, salah satu modus match setting itu, berasal dari manajer yang menawarkan ke beberapa pemain. Biasanya pemain yang berposisi sebagai penyerang akan diminta untuk tidak mencetak gol. Sedangkan untuk pemain belakang, biasanya diminta untuk membiarkan penyerang lawan mencetak gol dengan mudah.

Tak ketinggalan, ibu tiga anak ini juga menceritakan soal modus match setting yang biasanya terjadi di Jepara. Biasanya oknum masuk ke hotel tempat pemain menginap untuk diberi uang. Termasuk skor akhir pertandingan yang sudah dibicarakan. Yang lebih mengerikan lagi, kalau perjudiannya sudah lebih besar. Modus match setting dilakukan lebih detail mulai dari menit ke berapa pemain harus dikartu dan menit keberapa pemain harus mencetak gol.

Terkait pemain yang didatangi ke hotel oleh tamu ataupun mafia, sebenarnya hal tersebut tidak diperbolehkan. Hal ini juga pernah dialami sendiri oleh suami Esti. Perempuan kelahiran Sukabumi, 27 Maret 1980 ini, didatangi tamu tak dikenal sebelum pertandingan. Tak mau mengambil risiko, Esti mengimbau suaminya agar tidak menemui oknum tamu tersebut.

”Jangankan orang lain, saya saja mau menemui suami ke hotel memilih aman. Jadi saya temui setelah bertanding,” ujarnya. Kejadian serupa juga pernah terjadi pada pemain klub di Kalimantan Tengah (Kalteng) yang dipecat usai bertemu dengan orang di hotel walaupun orang tersebut belum tentu oknum match setting.

Soal match setting yang telah dilaporkannya, Esti menyampaikan, Satgas Anti-Mafia Bola bekerja profesional dan tidak terburu-buru. Sebab, satgas tidak mau gegabah jika tidak ada bukti yang kuat. Itu tidak masalah bagi Esti. Baginya, yang terpenting satgas tahu kalau di pesepakbolaan Indonesia benar-benar terjadi match setting. Jadi, satgas bisa bersinergi dengan PSSI. Karena selama ini saat pihak kepolisian akan megusut soal mafia bola di tanah air selalu dikaitkan dengan statuta PSSI.

Apa yang dilakukan oleh Esti tentu seperti dua mata uang. Ada yang mendukung dan ada yang tidak berkenan. Mereka yang kurang suka dengan sikap vokal Esti, biasanya menyerangnya secara personal. Yakni soal pencemaran nama baik dengan cara mengklaim Esti tidak pernah membayar gaji pemain.

”Saya ingin membuat buku yang membahas buku soal match setting ini. Agar orang tahu mengatur sepak bola di Indonesia ini bukan ke arah negosiasi, tetapi lebih ke nego-nego sanderan. Yakni kong-kalikong kalau tidak sejalan akan dihabisi satu-satu,” imbuhnya. (vga)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia