Selasa, 21 May 2019
radarkudus
icon featured
Features
Melihat Kreativitas Warga Ngagel

Gelar Pasar Senja, Angkat Jajanan Lokal dan Kelapa Kopyor

23 Februari 2019, 09: 45: 56 WIB | editor : Ali Mustofa

PROMOSIKAN POTENSI DESA: Suasana Pasar Senja yang buka setiap weekend dipenuhi pengunjung.

PROMOSIKAN POTENSI DESA: Suasana Pasar Senja yang buka setiap weekend dipenuhi pengunjung. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

Pasar Senja hadir tak hanya sebagai tempat jajan dan mencari hiburan. Lebih dari itu, kehadiran pasar ini, menjadi tempat promosi produk lokal andalan langsung di tempatnya. Di antaranya kelapa kopyor.

ACHMAD ULIL ALBAB, Pati

JALAN Mardi Santosa di Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, Pati, Sabtu (10/2) sore lalu sesak. Alunan melodis musik akustik sayup-sayup terdengar. Sekelompok anak muda memainkannya dengan penuh perasaan. Orang-orang berjejalan. Muda-mudi, anak-anak, sampai orang tua. Mereka terlihat hendak jajan sekaligus mencari hiburan di Pasar Senja.

MENGHIBUR:  Seniman sedang menghibur pengunjung di Pasar Senja.

MENGHIBUR:  Seniman sedang menghibur pengunjung di Pasar Senja. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

Seperti Angga, 26. Warga Kecamatan Tlogowungu itu, sambil menenteng belanjaan. Terus saja berjalan menengok dari satu stan ke stan lain. Di Pasar Senja ini, memang disediakan banyak jajanan. Terutama jajanan tradisional. Ada serabi, getuk, sampok, dan tentunya minuman andalan, es kelapa kopyor khas Desa Ngagel.

”Mumpung akhir pekan, cari hiburan sekalian jajan di sini. Tempatnya menarik. Ada hiburan musiknya juga,” kata alumni UIN Walisongo Semarang ini.

Desa itu memang masyhur sebagai penghasil kelapa kopyor. Hampir di tiap pekarangan rumah di desa itu, mayoritas ada pohon kelapa kopyornya. Di Pasar Senja, memang lebih banyak dijual jajanan. Bahkan, 80 persen dagangan yang dijajakan adalah jajanan. Sisanya pedagang pernak-pernik seperti bros. Ada juga yang menjual baju dan jilbab.

Penggagas sekaligus Ketua Pasar Senja Yusron Afifi, mengungkapkan, pasar berkonsep outdor ini, telah digelar sejak akhir 2018 lalu. Pasar Senja hadir setiap dua pekan sekali di Sabtu dan Minggu sore sampai malam hari. Dinamai Pasar Senja karena pelaksanaannya menjelang senja atau terbenamnya matahari. Orang-orang di daerah tersebut juga sering berjalan-jalan saat sore hari. Senja juga identik dengan suasana yang syahdu.

”Ide awal kehadiran pasar ini memang untuk menggeliatkan UMKM lokal dan melestarikan makanan tradisional. Makanya di sini banyak dijual jajanan seperti serabi, tape ketan, dan lainnya. Ini kan eranya ekonomi kreatif. Jadi, kami anak-anak muda berinisiatif untuk membuat pasar berkonsep outdor untuk mendukung perekonomian warga setempat,” jelasnya.

Di pasar ini, sudah ada 50 lebih pedagang yang menjadi member. Mereka berjajar sepanjang jalan desa selebar sekitar dua meter. Tampilan Pasar Senja juga dibuat menarik. Ada photo booth corner-nya, panggung senja untuk suguhan hiburan, dan bendera warna-warni yang menambah kesan meriah tempat itu.

Selain itu, tiap kali digelar, Pasar Senja selalu menampilkan hiburan-hiburan. Seperti angklung, musik akustik, tarian tradisional, hingga musikalisasi puisi. ”Ya, itu untuk menambah suasana pasar menjadi meriah dan memberikan hiburan kepada para pengunjung. Supaya tak bosan. Kami juga menjalin kerja sama dengan penggiat seni di sini,” imbuhnya.

Dari waktu ke waktu pengunjung pasar ini juga terlihat terus bertambah. Pengunjung bahkan ada yang datang dari Rembang maupun Jepara. Omzetnya pun lumayan. Dalam satu waktu, perputaran uang bisa mencapai Rp 20 juta lebih.

Sepoi-sepoi angin yang meniup dedaunan pohon kelapa kopyor menambah kesan menyenangkan, saat menghabiskan sore akhir pekan di Pasar Senja Desa Ngagel tersebut. Selain jajanan, ada pula pedagang yang menjajakan masakan laut. Sebab, Desa Ngagel ini memang berada di pesisir utara Kabupaten Pati.

Saat datang di pasar ini, pengunjung juga bisa melihat langsung pohon kelapa kopyor. Di dekat lokasi pasar dadakan itu ada kebun kecil kelapa kopyornya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia