Kamis, 21 Mar 2019
radarkudus
icon featured
Features
Muhadi, Pendiri Candi Joglo

Kenalkan Budaya dengan Candi, Koleksi Keris Zaman Mataram

21 Februari 2019, 08: 01: 30 WIB | editor : Ali Mustofa

NGURI-URI BUDAYA: Muhadi menunjukkan keris-kerisnya yang belum teridentifikasi asal muasalnya kemarin.

NGURI-URI BUDAYA: Muhadi menunjukkan keris-kerisnya yang belum teridentifikasi asal muasalnya kemarin. (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Muhadi mendirikan Candi Joglo karena keresahan melihat budaya nusantara mulai luntur. Selain itu, masyarakat kurang mengetahui secara utuh sejarah di Grobogan. Ia ingin mengenalkan kembali budaya dan sejarah itu dengan membangun candi.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Grobogan

TARIAN Dewi Shinta dengan gemulai melebur dalam irama gamelan ala nada Jawa. Lenggak-lenggok tubuhnya tampak seperti orang kebingungan. Mondar-mandir ke timur ke barat menguasai pelataran Candi Joglo, Krangganharjo, Toroh, Grobogan. Di atas gapura candi yang bercorak ala arsitektur Hindu itu, berdiri monyet merah. Clingak-clinguk seakan mencari seseorang.

Ya, ini merupakan sepenggal sendratari Ramayana yang dipentaskan di Candi Joglo milik Muhadi. Setelah pementasan itu, ia tampak memberikan evaluasi kepada anak-anak yang menari. Ia memang menggandeng anak-anak dan belajar menari di Candi joglo.

”Mereka (para penari, Red) ini dari pengelola Candi Joglo. Ada juga dari mahasiswa dan siswa-siswi sekolah-sekolah di Kabupaten Grobogan,” ujarnya.

Alasannya mendirikan candi ini, karena bentuk keprihatinan kepada budaya nusantara. Khususnya budaya Jawa yang mulai luntur. Selain itu, masyarakat kurang mengetahui secara utuh tentang sejarah Grobogan. Seperti sejarah kerajaan Mataram dan sejarah purbakala yang mengatakan wilayah Grobogan dulunya merupakan lautan.

Ia pun menggagas candi ini pada 2007. Pada 2010 mulai dibangun. Dan pada 2012 sudah berdiri. Candi ini mengusung tema Jawa-Bali. Desain gapura yang bercorak Hindu dipadukan rumah joglo. Tak lupa kain kotak-kotak hitam-putih khas Bali melilit di pohon-pohon di area candi.

”Candi Joglo tidak hanya sebuah penamaan, tapi merupakan apresiasi rumah adat. Khususnya joglo. Sudah saatnya kita membangkitkan kembali kesadaran berbudaya sebagai tonggak bangsa di masa yang akan datang,” kata pria kelahiran 25 Februari 1981 itu.

Memang, di area candi ini ada foto-foto Grobogan tempo dulu. Melihatnya, mampu membawa orang yang melihatnya kembali ke masa lalu. Seperti foto tugu Adipura dan Simpang Lima. Foto itu tampak sudah tua. Cetakannya pun masih hitam putih. Ada juga fosil-fosil dan gerabah rumah tangga tempo dulu.

Tak hanya itu, ia juga mengkoleksi berbagai barang-barang pusaka dari zaman kerajaan dahulu. Seperti keris dan tombak. Ia mengaku, ada lebih dari 50 benda pusaka yang tersimpan di galerinya. Beberapa sudah teridentifikasi asal muasalnya. Sebagian lainnya belum teridentifikasi. Ditengarai keris ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Kediri, Singosari, Majapahit, dan Mataram.

”Kebanyakan ya dari Mataram. Karena Mataram sudah menguasai hampir 500 tahun. Pusaka-pusaka ini ditemukan di Grobogan,” katanya.

Penemuan ini ditemukan di daerah Mrapen dan sekitar Grobogan. Dalam sejarah, Grobogan mempunyai seorang empu sakti. Dari tangan sang empu itu, yang menggembleng keris di Kerajaan Mataram.

Pusaka-pusaka ini ditemukan oleh para seniman. Mereka bertugas menginventarisasi seluruh punden dan bekas peninggalan nenek moyang di setiap dusun dan kecamatan. Bekerja sama dengan pemangku adat setempat.

”Ada yang koleksi sendiri. Ada juga sebagian sumbangan dari masyarakat. Sebagai edukasi budaya di Candi Joglo,” imbuhnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia