Rabu, 13 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Inspirasi

Tetap Setia meski Push Up 200 Kali

18 Februari 2019, 09: 20: 51 WIB | editor : Ali Mustofa

Zumrotul Mardiyah

Zumrotul Mardiyah (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Share this      

TERIK matahari menyala-nyala menghantam lapangan SMKN 2 Purwodadi. Siang itu cuaca memang panas. Tetapi Zumrotul Mardiyah tetap memilih baris-berbaris di tengah lapangan. Sambil mendengarkan instruksi dari pemimpinnya. Ia berusaha menyelaraskan gerakan agar serasi dengan teman-temannya.

”Langkah tegap maju jalan!,” seru komandan itu. Zumrotul Mardiyah sontak menghentakkan kakinya. Prok... bunyi langkah awalnya yang mantap. Ya, ia memang sedang mengikuti latihan Pasukan Pelajar Pengibar Bendera (Praspada).

Ia mengaku tertarik mengikuti kegiatan ini dari melihat kakaknya yang pernah mengikuti Pasprada. Dari situ seakan ia mulai jatuh cinta dengan ekstra kurikuler (ekskul) ini. Meskipun berat ia tetap menjalani.

”Waktu SMP saya melihat paskibraka di televisi. Kebetulan waktu masuk sekolah sini, ekskul paskibra-nya mememang menonjol. Jadi saya langsung gabung,” kata perempuan kelahiran Grobogan, 24 Februati 2003 ini.

Setelah masuk, ia harus berlajar menyesuaikan diri. Bahkan, terkadang berantem dengan kawan. Hanya gara-gara saling menyalahkan. ”Tapi besoknya ya sudah baikan lagi. Nggak sampai dibawa terus,” imbuhnya.

Perempuan yang hobi menggambar ini mengaku, setelah mengikuti Pasprada, ia merasakan ada pendidikan karakter yang baik. Meskipun keras, ia bisa menikmati. Ia sering disuruh push up oleh seniornya. Tak tanggung-tanggung, total push up dalam sehari bisa sampai 200 kali.

”Di sini (ekskul Pasprada, Red) semua sama. Mau itu cowok atau cewek. Tapi saya sudah siap. Ketika memutuskan masuk di sini, memang sudah konsekuensinya. Ya jalani saja. Sudah saya siapkan mental dari awal,” jelasnya.

Push up tersebut diberikan ketika melakukan kesalahan. Tetapi tidak sendirian. Ia menjalani hukuman bersama teman-temannya. Di ekskul ini menerapkan jiwa korsa. Setiap ada satu anggota salah semua harus bertanggung jawab.

”Wah push up-nya berapa kali udah gak terhitung. Kalau 50 ya lebih. 100 ya lebih. Pernah satu hari itu sampai 200 kali. Jadi setiap kesalahan push up 10 kali. Jadi yang 200 itu total semuanya,” kata siswa kelas XI ini.

Meskipun merasa jengkel ketika dihukum, ia tetap memiliki motivasi. Setelah dihukum ia menjadi lebih termotivasi, agar tidak melakukan kesalahan lagi. Bahkan, ia berharap agar pendidikan di Pasprada menjadi lebih keras lagi.

”Agar bisa terbentuk mental saya. Kemudian agar bisa bersaing dengan sekolah-sekolah lain. Lebih disiplin dan mindset-nya biar bagus,” imbuhnya. (vah)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia