Minggu, 18 Aug 2019
radarkudus
icon featured
Rembang

Ada Apa? Setahun Pembangunan Jalan Tegaldowo-Trembes Diaspal Dua Kali

16 Februari 2019, 14: 40: 45 WIB | editor : Ali Mustofa

HABIS DIPERBAIKI: Tong aspal bekas pembakaran berada di samping jalan tepat di depan Kantor Kepala Desa Dowan Kamis (14/2) kemarin.

HABIS DIPERBAIKI: Tong aspal bekas pembakaran berada di samping jalan tepat di depan Kantor Kepala Desa Dowan Kamis (14/2) kemarin. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

GUNEM – Pembangunan Jalan Tegaldowo-Trembes, Kecamaan Gunem, diduga tidak sesuai spesifikasi. Hal itu tampak dari hasil pembangunan yang rentan rusak, bahkan hanya dengan ditendang pelan di bagian pinggir. Warga pun protes.

Berdasarkan data LPSE Rembang, peningkatan Jalan Tegaldowo-Trembes Kecamatan Gunem dianggarkan sebesar Rp 1,1 miliar. Rekanan proyek ini yakni CV Bangun Putra Jaya asal Kudus. Proyek dikerjakan sejak 5 September 2018. 

Padahal, di tahun sebelumnya, atau pada 2017 lalu, proyek peningkatan jalan di kawasan itu sudah dilakukan. Tepatnya Jalan Trember-Tegaldowo-Pasucen Kecamatan Gunem. Nilai kontraknya pun mencapai Rp 1.9 M dengan APBD 2017.  

Salah satu warga setempat, Yanto menyebut, awalnya pembangunan jalan memakai kualitas hotmix. Namun, justru kualitasnya lebih bagus saat perawatan atau penambalan lubang pasca musim hujan beberapa pekan ini.

”Semula hotmix. Tapi kualitasnya kok malah yang membakar sendiri itu. Pas dicek, ditendang sedikit sudah rusak semua itu,” paparnya kemarin.

Dia menduga, bahan yang diambil dari Tuban, membuat tingkat kepadatannya berbeda. Sebab, radiusnya diduga melebihi dari yang seharusnya. Misalnya, bila seharusnya maksimal perjalanan 1,5 jam, dengan jarak yang lebih jauh memakan waktu hingga lebih dari 2 jam.

”Kan ada spesifikasinya itu. Hotmix itu. Nah, kalau dari Tuban kan bisa lebih, belum kalau macet dan antre. Mungkin seperti itu,” tambah dia.

Kamis Kemarin, koran ini membuktikan sendiri hasil hotmix yang berada tepat di depan kantor Balai Desa Dowan. Hanya ditendang sedikit bagian sampingnya, hotmix sudah hancur. Jalan dengan kondisi demikian pun rentan rusak lagi, apalagi di musim hujan seperti sekarang ini.

Anggota Komisi C DPRD Rembang, Puji Santoso menyebut, dalam setiap pembangunan jalan selalu sudah ada standar ketebalan, volume, yang semuanya ada dalam dokumen kontrak. Dengan adanya kasus tersebut, dia pun menduga ada beberapa sebab.

”Barangnya mugkiin sulit, banyak proyek, akhirnya kualitasnya kurang. Padahal aspal hotmix harusnya misalnya sekian derajat, tetapi itu kurang. Akhirnya atasnya dilapisi lagi, kemungkinan seperti itu,” kata dia saat dikonfirmasi kemarin.

Pihaknya pun dalam waktu dekat akan mengagendakan pengecekan langsung di lokasi. Untuk membuktikan kualitas aspal hotmix, dan perbaikan yang telah dilakukan rekanan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Tata Ruang Rembang Sugiarto hingga kemarin sore belum merespon saat dihubungi.

(ks/ali/ful/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia