Minggu, 24 Feb 2019
radarkudus
icon featured
Features
Rina Dwi Budiati, Perempuan Berbadan 200 Kg

Ingin Bahagiakan Anak ke CFD dan Jalan-Jalan

12 Februari 2019, 08: 31: 23 WIB | editor : Ali Mustofa

KESULITAN BERGERAK: Rina Dwi Budiati yang menderita obesitas masih berjualan martabak di sekitar madrasah.

KESULITAN BERGERAK: Rina Dwi Budiati yang menderita obesitas masih berjualan martabak di sekitar madrasah. (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Memiliki berat badan sekitar 200 kilogram membuat Rina Dwi Budiati kesulitan beraktivitas. Apalagi dia juga menderita penyakit selulitis. Berjualan martabak mini menjadi kesehariannya yang bisa menghibur. Dia ingin kembali normal agar bisa membahagiakan anaknya.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Grobogan

RINA Dwi Budiati tampak sibuk membolak-balikkan martabak mini dagangannya. Kesehariannya memang berjualan di madrasah Desa Karangharjo, Toroh, Grobogan. Ia tampak kelelahan, meskipun sekadar membolak-balikkan martabak berdiameter sekitar tiga sentimeter itu. Keringatnya mulai bercucuran di dahinya.

”Ya seperti ini keseharian saya,” kata perempuan kelahiran 4 November 1986 ini. Nada bicaranya seperti orang habis kecapaian berlari.

Sepertinya hal itu wajar. Melihat berat badannya yang sekitar 200 kilogram atau dua kuintal. Ia mengaku gerak tubuhnya terbatas. Hal itu terlihat ketika botol minyak goreng  jatuh tepat di bawah kakinya. Ia mendiamkan. Sepertinya kesulitan membungkukkan badannya.

Selain itu, ia juga mengidap penyakit selulitis. Rina mengeluh sering demam, gatal, dan panas di kulit. Hal ini membuat kulitnya melepuh seperti terbakar. Memang, ketika ia menunjukkan bekas luka di kaki kiri seperti habis tersudut knalpot motor. Hitam dan tampak gosong.

”Saya sudah mengonsumsi antibiotik selama tiga tahun tanpa berhenti. Saya takut jika kumat sak wayah-wayah (sewaktu-waktu). Ada luka kecil saja sulit sembuhnya,” katanya.

Kondisi seperti ini, membuatnya hampir putus asa. Bagaimana tidak, berat badanya makin hari makin meningkat. Awalnya ia sama seperti perempuan normal. Berat badannya sekitar 65 kilogram. Tingi badan sekitar 165 sentimeter. Cukup ideal. Tetapi berat badannya mulai meningkat ketika sedang mengandung Rafa Caesar, anak semata wayangnya 10 tahun lalu.

”Saat mengandung itu, saya memang suka ngemil dan makan. Akibatnya anak (Rafa Caesar, Red) dan ibu (dia sendiri, Red) menjadi obesitas. Anak saya empat kilo di dalam rahim. Saya 100 kilo lebih saat mengandung itu,” kenangnya.

Dengan kondisi itu, membuatnya harus dioperasi. Baru berselang satu bulan dari operasi itu, ia terkena infeksi di indung telur. Ia pun menjalani operasi pemotongan indung telur. Akibatnya, sekarang ia sudah tidak bisa punya anak.

”Saya sedih, ingin menyenangkan anak sudah tidak bisa. Saya juga ingin setiap Minggu ke CFD (car free day) dan jalan-jalan. Tapi minder. Pengen jalan saja sulit. Beruntungnya saya punya suami yang bisa menerima keadaan saya,” jelasnya seperti ingin menangis.

Saat berjualan martabak mini sambil berbincang dengan Jawa Pos Radar Kudus, sesekali anaknya menghampiri. Terkadang anaknya itu bersandar di pundaknya. Rina pun mengelus rambut anak semata wayangnya itu. Sayup-sayup terdengar suara menyenandungkan lagu untuk buah hatinya.

Dengan berjualan, bisa sedikit menghibur dirinya. Meskipun hasilnya tak seberapa, yang penting hatinya bahagia. Selain berjualan di madrasah, ia juga sering berjualan di Candi Joglo. Orang-orang sekitarnya sudah menganggap dia sebagai keluarga sendiri. Hal itu yang mungkin bisa menjadikan motivasinya.

Rina berharap, penyakitnya bisa segera diatasi. ”Ya ingin di operasi. Saya tidak tahu kenapa. Sepertinya di pencernaan saya ini mungkin ada semacam gangguan,” imbuhnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia