Minggu, 24 Feb 2019
radarkudus
icon featured
Features
Pementasan Wayang Tutur dari Bahan Janur

Tak Gunakan Pakem Pewayangan, Dalang Libatkan Penonton

11 Februari 2019, 15: 38: 43 WIB | editor : Ali Mustofa

PENUH PESAN: Pentas wayang yang dilakukan saat pameran seni rupa Hompimpah di gedung FKPPI Jalan Panglima Sudirman.

PENUH PESAN: Pentas wayang yang dilakukan saat pameran seni rupa Hompimpah di gedung FKPPI Jalan Panglima Sudirman. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

Djaswadi mementaskan wayang berbahan janur. Dia menggoyangkan wayang-wayang itu. Dia ingin pementasan ini membawa tutur untuk kehidupan anak-anak sekarang.

ACHMAD ULIL ALBAB, Pati

CAHAYA temaram menggelayut di pelataran gedung markas Forum Komunikasi Putra Putri Purnawiran dan Putra Putri TNI-Polri ( FKPPI) di Jalan Panglima Sudirman Senin (4/2) malam pekan lalu. Tikar yang digelar panitia satu per satu dipenuhi penonton. Mereka dari anak-anak kecil dan remaja. Bangunan berarsitektur kolonial tersebut tampak ramai.

Sebuah tampah besar diletakkan di tengah jalan. Bertumpu pada sebuah kursi berbahan plastik. Di atas tampah tersebut berjejal jajanan. Jagung rebus yang dipotong kecil-kecil. Kacang rebus, pisang rebus, hingga gorengan. Malam itu hujan rintik-rintik baru saja turun. Hawa dingin tak menyurutkan penonton untuk antusias mengikuti acara. 

Pentas wayang digelar sebagai pemungkas pameran seni rupa bertajuk Hompimpah. Wayang yang dipentaskan tak biasa. Tak ada pakem pewayangan seperti umumnya. Pengiringnya juga bukan seperangkat gamelan lengkap.

Hanya ada alunan rebab yang meliak-liuk, beriring dengan petikan gitar dan pukulan cajon. Lumayan rancak. Enak didengar. Sederhana. Dibanding sebuah pentas wayangan, lebih mirip pentas teater modern. Jangan ditanya ada sindennya. Hanya saja, media yang dipakai adalah wayang benar-benar wayang. Ada punokawan, ada juga tokoh butho (Raksasa dalam cerita pewayangan, Red).

Ada wayang kulit seperti biasa umumnya. Ada wayang berbahan janur dan batok. Mengingatkan mainan-mainan bocah-bocah tempo dulu. Salah satu yang membikin unik pentas wayang tersebut. Lakon yang dibawakan adalah Ajisaka. Seperti dalam kisah-kisah yang telah berulang dikisahkan.

Ada dua orang yang satu menjaga pusaka Ajisaka. Satunya lagi disuruh mengambil. Terjadi perselisihan. Adu kanugaran. Matilah kedua-duanya, karena saking sama kuat kanuragan yang dimiliki. Dan muncullah aksara Jawa Hanacaraka dari peristiwa tersebut.

Namun bukan pokok cerita tersebut yang hendak disampaikan ke penonton. Pentas wayang dengan dalang Djaswadi tersebut lebih banyak bertutur secara langsung kepada para penonton. Melainkan tentang pitutur-pitutur dalam kehidupan.

Dwi Santana, salah seorang perupa sekaligus panitia kegiatan menyebutkan, wayang tutur itu menjadi semacam dongengan kepada anak-anak terutama. Apalagi sekarang ini, dongeng sudah banyak dilupakan.

”Intinya memasukkan nilai-nilai kehidupan dari penuturan wayang. Misalnya soal kedisiplinan, watak jujur, dan semacamnya,” kata perupa asal Winong ini.

Djaswadi, yang akrab disapa Mbah Djas ini juga tampil menarik. Dalam mementaskan wayang-wayangnya terselip interaksi dengan penonton sambil melemparkan guyonan-guyonan. Praktis tak ada penonton mengantuk. Seperti saat bertutur tentang moral. ”Ya seperti kemarin itu, ada apem laku Rp 80 juta,” ceplos Mbah Djas, lantas disambut tawa riang dari penonton yang menyaksikan pentas wayang tutur tersebut. Suasana menjadi tambah riang. Penonton senang. (*)  

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia