Selasa, 18 Jun 2019
radarkudus
icon featured
Features
Ulfatun Ni’mah, Juara III Thailand Inventors

Langganan Juara Kelas, Kejar Publikasi Jurnal Internasional

11 Februari 2019, 09: 13: 02 WIB | editor : Ali Mustofa

MEMBANGGAKAN: Ulfatun Ni’mah (dua dari kanan) menunjukkan sertifi kat juaranya bersama rekan-rekannya satu tim.

MEMBANGGAKAN: Ulfatun Ni’mah (dua dari kanan) menunjukkan sertifi kat juaranya bersama rekan-rekannya satu tim. (Dok Pribadi)

Prestasi perempuan muda asal Kudus Ulfatun Ni’mah tak perlu diragukan. Sejak SMA, ia sering menjadi juara kelas. Kini di bangku kuliah, IPK pun tak pernah mengecewakan. Bahkan terakhir dia bisa menyabet Juara III Thailand Inventors Day 2019. Kini dia terus tekun belajar untuk mengejar agar bisa mempublikasikan jurnal internasional.

DIYAH AYU FITRIYANI, Kudus

PEMBAWAAN Ulfatun Ni’mah sederhana. Namun siapa sangka kesederhanaan penampilannya berbanding terbalik dengan kecerdasan yang dimilikinya. Dengan ramah ia mulai menceritakan bagaimana akhirnya ia dan rekan satu timnya dinobatkan sebagai juara III pada ajang Thailand Inventors Day 2019. Even ini diselenggarakan oleh National Research and Council of Thailand (NRCT) serta bekerjasama dengan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA).

Ulfa, panggilan sehari-harinya, mengaku sebenarnya ajang itu tidak asing di telinganya. Bahan sejak awal masuk kuliah anak pasangan Subarkah (Alm) dan Kasmiyati itu sudah naksir dengan even itu. Namun, kesempatan untuk mengikutinya belum pernah ia dapatkan. Hingga akhirnya pada semester 8 ini ia beru bisa merealisasikannya.

”Alhamdulillah diberi kesempatan ikut dan menang,” kata mahasiswa S-1 Fisika Universitas Diponegoro itu.

Semangat Ulfa selalu bertambah ketika melihat kakak angkatannya mengikuti even semacam ini. Namun saat itu gadis yang berasal dari RT 3/ RW10 Dukuh Jelak, Desa Kesambi, Mejobo, Kudus itu memang belum memiliki banyak waktu luang. Selain kuliah, ia juga terbilang cukup aktif berorganisasi di kampus. Selain itu, ia juga mengambil kerja part time sebagai guru les.

”Jadi, semester kemarin saya rasa waktu yang tepat. Karena hanya untuk KKN, kerja praktik dan skripsi. Jadi saya serius konsentrasi untuk ini,” tutur gadis kelahiran Kudus, 10 Desember 1996 itu.

Kecerdasan Ulfa memang sudah terlihat sejak duduk di bangku SMA. Sejak di MAN 1 Kudus ia sering masuk paralel. Sejak menjadi mahasiswa, terhitung sudah 4 kali menerima hibah penelitian universitas dari tahun 2016, ”Saya kuliah dari uang beasiswa Bidikmisi dan ngajar privat,” ungkapnya.

Dalam Thailand Inventors Day 2019 atau IPITEX 2019 inovasi yang ditawarkan berupa pengoptimalisasian turbin angin savonius dengan penggunaan octagonal tube converter (OTC) yang dapat dimanfaatkan pada daerah yang memiliki kecepatan angin rendah.

Untuk cara kerja alatnya sendiri hampir sama dengan turbin angin lainnya. Bedanya ditambah dengan OTC, di mana nantinya angin yang masuk dari sisi manapun, akan diserahkan ketika menumbuk bladenya. Sehingga keluaran dayanya akan bertambah besar. Untuk manfaatnya sendiri bisa untuk pembangkit listrik tenaga angin di daerah yang memiliki kecepatan rendah.

”Untuk pendaftaran sendiri itu awalnya pribadi dari kelompok PKM. Jadi bukan secara nyata didelegasikan pihak universitas. Pendaftaran awal, kami submit abstrak dan persyaratan lainnya. Untuk selanjutnya dari pihak INNOPA sebagai pihak penyeleksi awal menyatakan kelompok kami lolos mewakili ke Thailand,” jelas mahasiswa ber IPK 3.53 itu.

Timnya tersebut terdiri dari lima orang. Selain dirinya ada juga Nurul Halwiyah  yang berasal dari Rembang, mahasiswa Biologi 2015, Diah Ayu Suci Kinasih dari Bojonegoro, mahasiswa  Fisika 2015, Tenny Ruth Simamora dari Medan, mahasiswa Geologi 2015, dan Firza Rizki Apriliani dari Kendal, mahasiswa statistika 2017.

”Jadi kami bukan satu jurusan,” imbuh anggota IPPNU Ranting Kesambi itu.

Meskipun awalnya produk dari PKM nya dengan kakak kelas. Namun ia mengaku telah melakukan modifikasi, sehingga bisa diikutkan acara ini. Sebab, produk PKM dulu dirasa kurang optimal karena jumlah blade dan design OTCnya yang kurang. Sehingga ini diperbaiki lebih lanjut.

”Saya rasa energi itu hal terpenting,” ucap gadis yang bercita-cita sebagai dosen itu.

Saat ini, ia mengaku sedang sibuk dengan agenda tugas akhirnya di Surabaya. Usai pekerjaan ini, ia berencana ingin mencoba juga untuk publikasi jurnal internasional. Ia akan tetap mengembangkan penelitian dan selalu ingin menulis. Khususnya karya tulis ilmiah.

”Saya selalu menyemangati diri saya sendiri meskipun ekonomi keluarga bisa dibilang  tingkat menengah ke bawah, tetap harus yakin kalau kita bisa. Asal mau bersungguh-sungguh dan mau memanfaatkan peluang yang ada,” pungkas penyuka bakso itu. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia