Senin, 16 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Sepotong Tumpeng untuk Senyum Prabangsa

11 Februari 2019, 08: 53: 41 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

SEBUAH pesta kecil digelar di lobi samping Jawa Pos Radar Kudus Building. Yang hadir seluruh wartawan, awak redaksi, dan karyawan lainnya. Ada satu tumpeng. Nasinya kuning. Meski sederhana, tak mengurangi arti kesakralannya. Itulah cara yang dilakukan Jawa Pos Radar Kudus untuk memperingarti Hari Pers Nasional kemarin (10 Februari 2019).

Saya diundang untuk memberi sambutan. Tetapi sudah telanjur di Surabaya. Lagi pula saya baru tiba di rumah malam sebelumnya setelah menempuh perjalanan Kudus – Semarang – Magelang – Jogjakarta – Surabaya. Wejangan pun disampaikan Pemimpin Redaksi Zaenal Abidin. Doa dipimpin Ali Mustofa. Keduanya sama-sama menyandang gelar sarjana S2.

HPN itu jatuh 9 Februari. Saya merayakannya di Magelang bersama emak-emak guru yang mengikuti Pelatihan Guru Menulis. Pesertanya kira-kira 50 orang. Sebagian besar perempuan. Kalau para guru pintar menulis, kelak akan memperkuat tulisan wartawan di media massa. Saya mengapresiasi. Rela menyambangi meskipun hanya beberapa menit. Sekedar untuk berselfi bersama peserta. Sekaligus mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional.

Itulah salah satu kegiatan nyata yang dilakukan oleh Radar Semarang yang juga saya pimpin untuk menghidupkan pers di tanah air. Sama sekali tidak ada hura-hura. Sambutannya luar biasa. Tepuk tangan gemuruh ketika saya mengatakan, “Hari ini adalah Hari Pers Nasional dan para guru mengisinya dengan berlatih menulis.”

Hampir bersamaan dengan kegiatan di Magelang, Presiden Joko Widodo menghadiri puncak peringatan HPN di Surabaya. Acaranya biasa saja. Tetapi, usai acara presiden memberi Kabar istimewa. Pemimpin Redaksi Jawa Pos Abd. Rokhim menanyakan remisi yang diberikan pemerintah kepada I Nyoman Susrama, otak pembunuhan terhadap wartawan Jawa Pos Radar Bali Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa. Presiden mengatakan telah mencabutnya (remisi tersebut).

Remisi berupa pengurangan hukuman dari seumur hidup menjadi 20 tahun penjara itu melukai hati insan pers. Bahkan seluruh masyarakat Indonesia yang peduli keadilan. Betapa tidak? Prabangsa dengan idealismenya mengungkap kasus penyelewengan justru dibunuh secara keji (11 Februari 2009). Mayatnya ditemukan di laut seminggu kemudian.

Ketika remisi dikeluarkan, para insan pers sempat lunglai. Termasuk saya yang sudah 34 tahun menjadi wartawan. Apalagi remisi itu dikeluarkan di saat  media massa cetak terpuruk oleh desakan media digital dan media sosial. Seolah wartawan media cetak tidak dihargai lagi. Maka, pencabutan remisi menjadi angin segar yang membangkitkan semangat kewartawanan kami. Mudah-mudahan Prabangsa tersenyum di alam sana.

Saya bersyukur dalam kondisi yang sulit itu ada angin segar lainnya. Dalam evaluasi tahunan di Madiun Rabu minggu lalu, Jawa Pos Rada Kudus yang saya pimpin masih bisa mempertahankan prestasi. Memang tidak juara satu atau dua seperti tahun sebelumnya. Tetapi, masih meraih juara harapan. Satu perusahaan lainnya yang juga saya pimpin, Radar Semarang, meraih juara III. Alhamdulillah.

Di bawah Jawa Pos Radar Group terdapat 18 perusahaan. Radar Kudus selalu meraih prestasi baik dalam enam tahun terakhir. Tahun 2016 meraih juara pertama sekaligus menorehkan nilai tertinggi secara nasional di bawah grup Jawa Pos. Tahun 2017 menggondol juara II. Tahun 2018, di saat sebagian besar perusahaan pers menghalami kesulitan, Radar Kudus meraih juara harapan.

Dari sisi bisnis, Radar Kudus menunjukkan perkembangan yang meyakinkan. Ada enam indikator yang dinilai. Lima diantaranya mengalami pertumbuhan. Salah satu di antaranya iklan. Itu menunjukkan kepercayaan masyarakat yang semakin besar. Labanya juga meningkat. Sehingga perusahaan semakin sehat dan kuat.

Sebagai pemegang manajemen, saya memberikan apresiasi. Maaf bukan bermaksud sombong. Apresiasi itu berupa kenaikan gaji yang diterima mulai akhir Januari lalu. Persentasenya melebihi kenaikan upah minimum regional (UMR). Kami berkeyakinan apabila kesejahteraan terjaga, wartawan bisa menjunjung nilai-nilai idealismenya (Kada alfaqru an yakuna kufron = Kefakiran bisa menjerumuskan orang menjadi kufur). Juga tidak dilecehkan.

Ke depan tantangan media massa cetak akan semakin besar. Kami menyadari. Kami terus berbenah diri. Memperkuat perusahaan dari berbagai sisi. Kualitas menjadi inti. Itulah tanggung jawab kami agar pers tetap hidup.  Agar Prabangsa bisa tersenyum di alam sana.

Selamat Hari Pers Nasional. (hq@jawapos.co.id)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia