Minggu, 24 Feb 2019
radarkudus
icon featured
Inspirasi

Hibur Anak di Pengungsian Banjir

09 Februari 2019, 08: 08: 54 WIB | editor : Ali Mustofa

Siddiqoh Taqiyya

Siddiqoh Taqiyya (DOK. PRIBADI)

MENJADI relawan merupakan bentuk dari kepedulian terhadap sesama manusia. Mereka rela mengorbankan waktunya demi meringankan beban korban bencana alam. Hal itu ditunjukkan Siddiqoh Taqiyya.

Gadis imut yang akrab disapa Dita ini relawan dari Mapsicare, jurusan Psikologi, Universitas Muria Kudus. Ia bergabung dengan Mapsicare sekitar setahun lalu. Dengan dasar dan komitmen yang kuat hati kecilnya terpanggil ikut bergabung dengan kegiatan relawan di kampusnya.

"Tak ada ajakan dari teman. Ini memang panggilan hati saya yang ingin membantu sesama," katanya.

Dita sebelumnya mengikuti organisasi Palang Merah Indonesia (PMI). Kemudian bergabung ke Mapsicare. Alasannya karena ingin mengisi waktu luangnya dengan kegiatan positif. Awal pergerakannya ketika memberikan trauma healing kepada korban banjir di Desa Jati Wetan sepakan yang lalu.

Dia dan rekan-rekannya menghibur anak-anak korban banjir di posko pengungsian. Di sana ia mengajak bermain bersama dan melakukan kegiatan menggambar. Kegiatan tersebut ditujukan untuk menghibur anak-anak agar tak merasa bosan di pengungsian. Serta menumbuhkan semangat baru setelah rumah mereka dilanda bencana.

”Saya menyukai kegiatan yang mengandung unsur kemanusian,” katanya.

Dara kelahiran Kudus, 4 Maret 2000 ini mengaku, sangat grogi ketika pertama kali mengisi kegiatan tarauma healing di aula Balai Desa Jati Wetan lalu. Untuk menanggulangi rasa groginya Dita kembali pada prinsip awalnya. Yakni ingin belajar dan menolong sesama. Dari situlah ia lebih enjoy ketika memberikan materi kepada anak-anak korban bencana banjir.

Kepeduliannya terhadap sesama membuatnya siap dikirim menolong korban becana. Meskipun itu di luar Kota Kudus. (gal)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia