Kamis, 27 Jun 2019
radarkudus
icon featured
Hukum & Kriminal

Tipu Petugas Bank, Enam Sindikat Pemalsu Dokumen Diamankan Polisi

06 Februari 2019, 10: 13: 05 WIB | editor : Ali Mustofa

PALSUKAN DOKUMEN: Kapolres Kudus didampingi Kasat Reskrim Polres Kudus saat menunjukkan barang bukti yang digunakan tersangka saat gelar perkara Senin (4/1) kemarin.

PALSUKAN DOKUMEN: Kapolres Kudus didampingi Kasat Reskrim Polres Kudus saat menunjukkan barang bukti yang digunakan tersangka saat gelar perkara Senin (4/1) kemarin. (DIYAH AYU FITRIYANI/RADAR KUDUS)

Share this      

JEKULO - Enam orang sindikat pemalsu surat-surat berharga seperti surat tanda nomor kendaraan (STNK), kartu tanda penduduk (KTP), kartu keluarga (KK), buku nikah dan surat-surat berharga lainnya, ditangkap aparat satuan Reskrim Polres Kudus. Keenam pelaku masing-masing berinisial MJ (45), BMY (35), JN (37), SR (43), KW (54) serta AM (49) mereka mempunyai peranan sendiri-sendiri. Mulai dari yang membuat, perantara sampai pemesan.

Kapolres Kudus AKBP Saptono mengatakan, penangkapan para pelaku berawal dari informasi masyarakat adanya seseorang yang menjual mobil yang dilengkapi dengan STNK yang diduga palsu. Mobil bernopol AB 1326 MH ternyata bukan nomer aslinya.

”Oleh anggota kemudian dilakukan pengecekan. Berdasarkan nomer rangka dan nomer mesin muncul nopol mobil yang asli yakni A 1045 BC milik warga Serang Banten. Maka pemilik mobil yang tertera dalam STNK palsu kami amankan”, ujarnya.

Pengembangan kasus tersebut, diketahui pelaku utama pembuat STNK palsu berinisial MJ (45) warga desa Glantengan, Kecamatan Kota, Kudus. MJ merupakan otak pembuat surat-surat berharga palsu. Sebab rumahnya didapati barang bukti lain seperti KK, KTP dan buku nikah palsu. ”Kasus ini akan kami kembangkan, kemungkinan masih ada jaringannya”, imbuhnya.

Tersangka MJ mengaku, menjalankan aksinya berdasarkan pesanan. Harga yang dipatok pun beragam mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 2,5 juta. Aksi membuat surat-surat palsu sudah dijalani selama 4 tahun. ”Kira-kira sudah ada 20 pemesan”, ungkapnya.

Surat-surat berharga palsu tersebut memang sekilas mirip aslinya. Sehingga cukup banyak yang terkelabuhi. KTP maupun KK palsu ini rata-rata digunakan untuk mengelabuhi petugas perbankan.

”Setahu saya syaratnya cukup mudah hanya mengirim foto dokumen yang dibutuhkan. Pihak bank juga sudah percaya,” katanya.

Rata-rata pemesan yang meminta jasanya telah mempunyai BI checking jelek. Sehingga sulit mendapat pinjaman ke bank. Berkat bantuan dokumen palsu yang dibuatnya, pemesan akhirnya dapat kucuran dana pinjaman.

Dalam kasus tersebut, para pelaku akan dijerat pasal 263 KUH Pidana dan pasal 480 KUH Pidana tentang menggunakan surat palsu atau pertolongan jahat (penadah). Ancaman kurungan 6 tahun penjara.

(ks/daf/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia