Sabtu, 20 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Doa yang (Tak) Tertukar

04 Februari 2019, 07: 52: 51 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

ALKISAH 1

DAHULU kala di Mostar, Bosnia, hidup seorang mufti. Namanya Mustafa Ejubovic. Lahir pada 1651 dan meninggal 1707.  Ayahnya seorang profesor terkemuka. Mustafa mendapat titisan darah ayahnya. Dia melanjutkan sekolah di Konstantinopel sampai mendapat gelar guru besar. Ilmunya dibawa pulang dan dia mendapat julukan mufti.

Mufti adalah ulama yang memiliki wewenang untuk menginterpretasikan teks dan memberikan fatwa kepada umat (bisa diklik di Wikipedia). Fungsi mufti kadang-kadang diambil oleh suatu organisasi ulama seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) maupun oleh Pengadilan Agama.

Meski seorang ulama besar, terkenal, dan berpengaruh, ada saja anak-anak yang berani menggodanya (sehari setelah kunjungan presiden ke Mbah Moen kisah ini diunggah Republika.co.id). Saat itu, Mustafa sedang lewat di sebuah masjid. Ada beberapa anak yang sedang bermain. Tak lazim. Mereka menggunakan keranda jenazah untuk memecah tawa. Seorang anak dijadikan ‘’mayat’’. Disuruh pura-pura mati. Kemudian dibaringkan di keranda tersebut. Dipikul beramai-ramai. Mereka terpingkal-pingkal.

Ketika Syeh Mustafa yang juga dianggil Yuyo atau Jujo lewat, anak-anak tersebut semakin bertingkah. Dimintanya wali keramat itu untuk menyalati. Kok mau-maunya Syeh Mustafa memenuhi permintaan anak-anak tersebut.

Ketika prosesi salat mau dilaksanakan, Syeh Mustafa berbalik menghadap ke anak-anak yang sudah berdiri berbaris di belakangnya. ‘’Yang mau disalati itu yang hidup apa yang mati,’’ tanya syeh kepada anak-anak. ‘’Yang mati,’’ jawab anak-anak serentak. Pertanyaan itu diulangi hingga dua kali. Jawaban anak-anak tetap sama.

Salat jenazah pun dilakukan. Anak-anak menahan tawa. Sampai akhirnya salat jenazah selesai. Anak-anak cekikikan. Syeh Yuyo meninggalkan mereka. Anak-anak kemudian membuka keranda membangunkan temannya yang disuruh pura-pura mati. Berkali-kali dibangunkan, ‘’mayat’’ tersebut tidak bereaksi. Ternyata betul-betul menjadi mayat. Heninglah jadinya. Mereka lantas sadar bahwa seorang mufti tidak bisa dimain-mainkan.

Alikisah 2

Pada Jumat lalu seorang ulama besar Indonesia yang hidup di Desa Karangmangu, Sarang, Rembang, Jateng, mendapat kunjungan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Ulama yang sangat disegani bernama KH Maimoen Zubair atau lebih dikenal Mbah Moen. Kunjungan orang nomor satu di Indonesia itu, disambut gempita oleh santri dan masyarakat lainnya. Sampai akhirnya Mbah Moen diminta memimpin doa.

Mbak Moen yang mengenakan baju putih dan penutup kepala yang juga putih memenuhi permintaan tersebut. Awalnya tidak menggunakan teks. Tak berapa lama beliau merogoh saku mengeluarkan kertas berwarna kuning. Membacanya. Menyambung doa yang diucapkan sebelumnya. Presiden Jokowi yang juga mengenakan baju putih dan kopiah hitam mengamini dengan mengangkat tangan.

Saat membaca doa itulah Mbah Moen mendoakan Prawobo Subianto, calon presiden nomor urut 02 yang menjadi rival Joko Widodo yang bernomor urut 1.  ‘’..Hadza rois Pak Prabowo....” Saat doa itu masih dibacakan suasana tetap khusuk. Pak Jokowi tidak bereaksi sama sekali. Beliau tetap menunduk.

Setelah doa usai, terjadi kasak-kusuk. Ketua DPP PPP Romahurmuziy alias Rommy yang kemudian mendekati Mbah Moen sampai kamar tidurnya. Presiden diajak serta. Dalam waktu sekejap geger di mana-mana. Pihak-pihak yang pendukung Jokowi mengklarifikasi.

Hak Prerogatif Tuhan

Siapapun yang berdoa, apapun yang diucapkan, Tuhan maha tahu. Tuhan mengetahui persis apa yang ada di dalam hati manusia. Bahkan yang di lubuk paling dalam. Tidak diucapkan pun Tuhan tahu. Pengucapannya salah Tuhan juga tahu yang sebenarnya. Tidak ada doa yang tertukar. Wallahu yaklamu waantaum la taklamun (QS Albaqoroh 216).

Tidak semua doa mesti dikabulkan meskipun Tuhan mengatakan, ud’uni astajib lakum (berdoalah niscaya aku kabulkan (QS Almu’min 60). Tuhan mengetahui kondisi masing-masing umatnya. Adakalanya permintaan tidak dikabulkan karena tidak sesuai kondisinya. Bisa jadi ada orang yang tidak meminta, tetapi malah diberi. Allah berkuasa atas segala sesuatu (QS Albaqoroh 20).

Doa yang disampaikan Mbah Moen dan diamini oleh seluruh orang yang hadir pada saat kunjungan presiden bukanlah satu-satunya doa kepada Tuhan. Banyak doa lainnya yang disampaikan banyak kiai, para wali, para habib, para mufti, dan orang-orang arif, pintar, dan berilmu tinggi lainnya. Doanya macam-macam. Manusia tidak akan tahu doa siapa yang dikabulkan.

Kewajiban manusia hanya berusaha dan berdoa. Soal hasil, serahkan kepada Tuhan. Kenapa mesti ribut soal doa, toh Tuhan tidak bisa didekte. (hq@jawapos.cp.id)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia