Kamis, 27 Jun 2019
radarkudus
icon featured
Politik

Blusukan di Pati Sandiaga Uno Disambut Teriakan “Jokowi, Jokowi”

31 Januari 2019, 08: 10: 09 WIB | editor : Ali Mustofa

SAPA WARGA: Cawapres nomor urut 2 Sandiaga Uno berdialog dengan warga di Juwana kemarin.

SAPA WARGA: Cawapres nomor urut 2 Sandiaga Uno berdialog dengan warga di Juwana kemarin. (SRI PUTJIWATI/RADAR KUDUS)

Share this      

PATI  – Calon Wakil Presiden Sandiaga Salahudin Uno Rabu kemarin (30/1), kembali datang di Kabupaten Rembang. Sebelumnya, pada 11 Januari lalu, dia menyapa pedagang Pasar Kota Rembang. Kali ini, Sandi memilih blusukan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tasikagung.

Dia tiba di TPI Tasikagung pukul 09.30. Kedatanganya melihat secara langsung aktivitas nelayan. Dengan dikawal tim advance beserta ajudan dia menuju dermaga. Salam dan sapa dilakukan. Di sana dia melihat bongkar muat ikan. Sesekali berinteraksi dan diajak foto pendukungnya. Di sekitar dermaga, Sandi mendapatkan banyak aspirasi soal keinginan cantrang dilegalkan.

Setelah beberapa menit di dermaga, Sandi yang mengenakan sepatu boots putih bergegas menuju TPI. Sesampainya di TPI, Sandi sempat disambut teriakan. Ternyata dari pendukung kubu pasangan calon lawan.

(SRI PUTJIWATI/RADAR KUDUS)

Sandi bergegas mendekati sumber teriakan. Interaksi hangat terjadi, sembari dirinya membelai tangan orang yang berteriak itu. Sambil jalan, Sandi disambut nelayan, petani garam, petani dan tebu. Salah satu nelayan dari Desa Tasikagung Nursaroh, menginginkan nelayan sejahtera dan cantrang dilegalkan. ”Kami tidak tenang kalau belum ada kejelasan,” ujarnya.

”Usulan-usulan reorientasi ekonomi semakin dirasakan. Sebagai alternatif yang lebih menjanjikan masyarakat di sini. Mereka menginginkan satu perubahan, baik kepemimpinan, rezim, dan kebijakan. Harapannya, fokus pembangunan ke depan dalam segi manunia (nelayan dan petani garam) yang saat ini belum merasakan pembangunan ekonomi,” kata Sandi.

Ditanya soal melegalkan cantrang, Sandi mendengar bukan pertama kali. Namun, nelayan sudah berjuang sudah lima tahun dan bertemu presiden empat kali. Makanya harus ada pemerintahan yang kuat dan tegas. Soal kebijakan berpihak nelayan.

Ini komitmen Sandi. Kontrak politik sudah disodorkan dari nelayan cantrang maupun petani garam. Saat ini, sudah diterima dan harus diwujudkan. Sesuai komitmen ingin menyejahterakan rakyat dan merubah regulasinya.

Selain itu, Sandi menyerap aspirasi adanya modernisasi kapal. Untuk itu harus dibantu dari sisi permodalan. Agar nelayan bisa beli cold storage. Karena selama ini, kebanyakan nelayan hanya menggunakan es batu agar ikan awet. Tapi, akhirnya banyak ikan busuk.

Lebih lanjut saat dikonfirmasi soal adanya teriakan pendukung Jokowi-Maruf, Sandi menganggap hal itu biasa. Apalagi ini pesta demokrasi. Justru dirinya melihat senang. Karena menunjukan mereka ikut menyambut. ”Saya tidak marah. Juga kami pernah disambut hal yang sama di beberapa daerah. Ini bentuk rasa syukur dan gembira. Didatangi calon pemimpin yang mungkin di Kabupaten Rembang belum datang pemimpin lain,” ujarnya.

Usai dari Rembang, Sandi bertolak ke Pati. Ia mengunjungi beberapa lokasi di Juwana. Salah satunya ke Pasar Juwana. Di sana ia diserbu emak-emak bakul. Sandi juga sempat memborong pisang dan sembako.

Pukul 10.30 kemarin, Sandi tiba di Juwana dengan dikawal ketat kepolisian. Pukul 11.45 sudah memasuki Kecamatan Juwana. Tujuan awal di Juwana mengunjungi TPI II Juwana. Namun, ketika iring-iring rombongan sampai di pertigaan Desa Dukukeras memasuki jalan TPI II Juwana, ada rombongan motor yang meneriaki ”Jokowi, Jokowi.” Rombongan itu hanya berteriak saja sambil konvoi.

Sesampainya di TPI II Juwana, Sandi yang memakai kaus biru muda, celana hitam, dan sandal santai langsung disambut nelayan dan para bakul yang lelang di sana. Kehadirannya dihiasi hujan deras, sehingga ia tak dapat berkeliling mengecek nelayan di kapal. Sandi langsung membuka acara di TPI dan mengumpulkan warga.

Sandi menyerap aspirasi dari elemen masyarakat mulai dari emak-emak, sopir truk, tokoh nelayan, dan lainnya. Masyarakat mengadukan banyak hal. Mulai dari kebijakan cantrang, BPJS Kesehatan, hingga Jalan Pantura yang rusak parah. Semuanya ditanggapi. Namun sebelum menjawab pertanyaan dari warga, ia memberikan obat sakit kepala supaya tidak pusing dengan keluhan hidup.

Sekitar pukul 12.30, ia bertolak ke Pasar Juwana. Sandi langsung menuju ke lantai II. Di ruang itu banyak ditempat para pedagang sembako dan buah. Ketika meninjau pedagang, ia memborong pisang raja dan sembako. Kunjungan Sandi di Pasar Juwana hanya berlangsung sekitar 20 menit.

Ia mengatakan, pedagang di Pasar Juwana merasa mengalami kelesuan dan sepi. Saat menyerap aspirasi pedagang, mereka menginginkan pasar itu ditata dengan tuntas, supaya pembeli tak hanya membeli di depan pasar. Sedangkan pedagang di lantai II tak dijamah pembeli, sehingga sepi. Kalau ditata baik, ekonomi akan bergerak dan tidak ada kesenjangan pedagang.

Sementara itu, pada saat mengunjungi warga di TPI II Juwana, dia diwaduli banyak hal termasuk, rusaknya Jalan Pantura. Meskipun pemerintah saat ini menggenjot infrastruktur, tetapi masyarakat tidak merasakan langsung dampaknya karena yang digenjot pembangunan tol.

”Saya mengalami sendiri kerusakan Jalan Pantura saat perjalaan ke Rembang dan Pati. Ini mengakibatkan pengemudi truk kesulitan. Tadi, pengawal kepolisian juga kesulitan. Saya juga mendapatkan keluhan dari nelayan cantrang yang sampai 4-5 tahun ini tak ada solusinya. Nantinya kami akan mencarikan solusi dengan mendengarkan semua masukan dari nelayan,” tegasnya.

Usai kunjungan di Juwana, ia senang dengan sambutan masyarakat yang antusias. Terkait adanya konvoi sekumpulan warga yang menerikakan Jokowi, Sandi menanggapi dengan santai. Apa yang dilakukan warga itu hanyalah dinamika dan konsekuensi demokrasi.

(ks/noe/put/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia