Rabu, 16 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Features
Mochammad  Yusuf, ”Profesor” Anggur

Miliki 90 Jenis Anggur Impor, Terbesar Kelima Se-Jateng

31 Januari 2019, 07: 44: 08 WIB | editor : Ali Mustofa

BERINOVASI: Mochammad Yusuf menunjukkan tanaman anggur yang dikembangkan.

BERINOVASI: Mochammad Yusuf menunjukkan tanaman anggur yang dikembangkan. (DOK PRIBADI)

Share this      

Mochammad Yusuf memang hanya tamatan MTs. Tetapi, dia dijuluki ”professor” anggur. Ini berkat keuletannya mengembangkan anggur berbagai varian. Uniknya, ilmunya diperoleh lewat belajar otodidak dengan komunitas di Facebook.

WISNU AJI, Rembang

UNTUK menjadi professor, butuh sekolah tinggi. Tetapi, tidak demikian dengan warga Pamotan, Rembang satu ini. Namanya Mochmamad Yusuf. Dirinya hanya lulusan MTs. Tetapi ilmunya melebihi status sekolah yang ditempuh.

Dirinya mendapatkan julukan profesor. Namun ini hanya melekat dari kesibukannya saat ini sebagai pengembang tanaman anggur. Memang lulusan pondok Senori, Tuban kerjanya serabutan. Dulunya juga pernah kuli bangunan.

Tetapi motivasinya untuk berkembang besar. Buktinya, dia yang terlahir dari keluarga petani, berusaha keras mencari ilmu. Ilmu yang diperoleh tidak hanya lewat sekolahan. Tetapi dia menjelah di dunia maya.

Awalnya dia buka-buka Facebook. Akhirnya menemukan grup komunitas pembudidaya buah impor. Akhirnya dia tertarik masuk di dalamnya. Lalu, pada 2015 lalu dirinya iseng-iseng mencoba menanam anggur merah. Saat itu media yang digunakan lahan pekarangan rumah. Wajar, modal yang dimiliki pas-pasan.

Selain terkendala modal, dirinya belum familiar menanam anggur. Hampir 1,5 tahun anggur yang ditanam belum berbuah. Justru dirinya makin penasaran. Sebab, yang berkembang pesat hanya pohonnya.

Perlahan, namun langkahnya pasti. Dirinya tidak malu belajar. Akhirnya kembali meminta masukan dari rekan-rekannya yang lebih mahir. ”Menanam anggur, tidak sekadar disiram dan dikasih pupuk. Tapi ada pemangkasan yang tepat sasaran dan waktu,” itu kata teman yang memberikan pencerahan bagi saya.

Dia mengaku, awalnya dia hanya tahu anggur merah. Dia menanam selama 1,5 tahun sering gagal, karena tidak berbuah. Namun, hal itu tidak membuatnya patah semangat. Anakan hasil cangkok ditanam di pekarangan rumahnya. Ternyata ada yang merambat di pohon belimbing.

Salah satu ujung cabangnya patah. Nah, di situ justru muncul buah anggur. Akhirnya ia menemukan teknik, untuk memotong cabang yang masih hijau. Ternyata benar, pohon berbuah. Hal ini membuat dirinya makin tertarik mendalami belajar menanam anggur.

Karena tahu tekniknya warga RT 3/RW 2, Desa Japerejo, Kecamatan Pamotan, Rembang, ini, mencoba menanam di area persawahan. Kebetulan orang tuanya memiliki lahan. Dulunya untuk tebu. Luasnya sekitar 1/4 hektare di dekat tempat tinggalnya.

Bibit yang ditanam merupakan hasil cangkokan. Untuk lebih bervariatif, dirinya berburu bibit juga di Singgahan, Tuban. Lalu, mencari varian lain dengan impor dari Ukraina. Harganya sampai Rp 2,5 juta per tiga batang. Itu belum termasuk ongkos kirim.

Kini, usia tanaman anggurnya sudah empat bulan. Dengan jenis varian yang dimiliki 90 macam anggur impor. Kini, terus diseleksi mana yang cocok. Kebetulan sudah ada 10 lebih jenis anggur yang berbuah. Ada yang merah, hijau, kuning, dan hitam.

Memang tempat tinggalnya terbilang cocok. Kontur tanah dataran rendah di Desa Japerejo, Kecamatan Pamotan. Jadi, tanaman mendapatkan sinar matahari yang cukup, sehingga hasilnya bagus.

Dari ketelatenannya, Yusuf sering mendapatkan order pesanan bibit. Pemesan datang dari Semarang, Magelang, Bantul, hingga Riau. Saat ini, dia berstatus sebagai pembudidaya anggur terbesar ke-5 se-Jawa Tengah (Jateng).

”Kalau ada yang ingin mencicipi ya silakan datang ke sini datang di rumah. Kalau ingin belajar, saya juga silakan dan gratis,” ujarnya.

Bibit dengan harga termurah jenis ninel dia jual seharga Rp 50 ribu. Paling mahal jenis alvatar, kuat menembus harga Rp 5 juta. Keunikan jenis ninel itu, buahnya lonjong mirip terong. Sejak Lebaran 2018 sampai sekarang, omzet penjualannya diperkirakan sudah di atas Rp 50 juta. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia