Selasa, 18 Jun 2019
radarkudus
icon featured
Hukum & Kriminal

Sadis! Adik Kandung Dibantai, Kerasnya Bacokan Bikin Ususnya Keluar

Soal Perebutan Batas Tanah Warisan

28 Januari 2019, 09: 38: 42 WIB | editor : Ali Mustofa

TAK MENYESAL: Pelaku pembacokan hingga tewas Wadiyo dimintai keterangan di Mapolsek Karangrayung kemarin

TAK MENYESAL: Pelaku pembacokan hingga tewas Wadiyo dimintai keterangan di Mapolsek Karangrayung kemarin (SIROJUL MUNIR/RADAR KUDUS)

GROBOGAN – Aksi yang dilakukan Wadiyo, 70, sungguh nekat. Dia tega membantai adik kandungnya sendiri, Radi, 65, dengan cara sadis dibacok. Penyebabnya karena perebutan batas tanah warisan orang tua mereka.

Korban tewas karena mengalami luka parah dan kehabisan darah. Totalnya ada empat bacokan. Masing-masing, satu bacokan di tangan, satu di leher, dan dua di perut hingga ususnya keluar.

Peristiwa menggegerkan ini, terjadi di rumah Radi yang berada di Dusun Dunglo, RT 5/RW 5, Desa Jetis, Karangrayung, kemarin pagi sekitar pukul 09.15. Kapolsek Karangrayung AKP Sukardi, mengatakan, saat itu, pelaku yang rumahnya di Dusun Beketro, RT 1/RW 1, Desa Telawah, Karangrayung, datang ke rumah korban. Namun, korban tidak ada di rumah.

DIAMANKAN: Pelaku pembacokan adik kandung hingga tewas Wadiyo ditahan di Mapolsek Karangrayung kemarin.

DIAMANKAN: Pelaku pembacokan adik kandung hingga tewas Wadiyo ditahan di Mapolsek Karangrayung kemarin. (SIROJUL MUNIR/RADAR KUDUS)

Kemudian pelaku menunggu di depan rumah. Beberapa waktu kemudian, korban datang dengan menggendong cucunya. Pelaku menanyakan batas tanah sawah bagiannya dari warisan orang tuanya. Tanah itu berbatasan langsung dengan tanah milik korban.

Wadiyo saat itu juga membawa tali untuk mengukur tanah. Hal ini dilakukan, karena dia merasa tanahnya diserobot adiknya itu seluas 2,5 memanjang. Korban pun tidak terima atas pernyataan kakaknya itu. Korban juga tak mau mengukur ulang tanah itu. Akhirnya terjadi cek-cok. ”Pelaku merasa ditantang oleh korban, bahkan diancam akan dibacok,” ujar AKP Sukardi.

Merasa terancam, Wadiyo tak pikir panjang kemudian mengayunkan bendho (sabit tebal) ke arah adiknya itu. Dan mengenai tangan dan leher korban. Saat itu, korban dalam kondisi masih menggendong cucunya.

Korban pun lari masuk ke rumah. Dia meletakkan cucunya di dipan di dalam rumah dan akan mengambil sabit. Namun, pelaku keburu mengejarnya. Korban yang belum sempat mengambil sabit, dibacok lagi di perut kanan dan kiri hingga keluar usunya. Korban pun meninggal dunia di tempat.

Dikatakan, dari keterangan pelaku saat diinterogasi, dia terpaksa membacok korban karena diancam akan dibacok korban yang juga adik kandungnya itu. Pelaku kemudian melakukan inisiatif membacok terlebih dahulu. Dan mengenai tangan kanan dan leher saat berada di luar rumah. Kemudian membacok lagi saat di dalam rumah mengenai perut hingga ususnya keluar.

Tetangga korban yang mengetahui kejadian ini, malaporkan ke perangkat desa. Kemudian melapor ke Polsek Karangrayung. Satu jam kemudian, datang Tim Inavis Porles Grobogan untuk olah tempat kejadian perkara (TKP).

 Kapolsek mengatakan, motif pembacokan ini perebutan batas tanah sawah. Pelaku mengaku tanahnya diserobot 2,5 meter memanjang. ”Korban tidak mau saat diajak melakukan ukur ulang dan justru menantang pelaku. Hingga akhirnya pelaku membacok korban terlebih dahulu,” ujarnya.

Usai lakukan pembacokan terhadap adiknya, pelaku pulang ke rumahnya. Anggota Polsek Karangrayung langsung menangkap pelaku di rumahnya tanpa ada perlawanan.

Barang bukti yang berhasil diamankan, satu bilah bendho, baju korban, dua tali tambang warna hijau dan kuning untuk mengukur tanah, dan sepeda. Saat ini, pelaku diamankan di Mapolsek Karangrayung untuk dilakukan berita acara pemeriksaan (BAP) dan ditahan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pelaku terancam melanggar Pasal 351 Ayat 3 KUH Pidana.

Wadiyo pelaku pembacokan saat di depan penyidik mengaku tidak menyesali perbuatannya itu. Dia mengatakan, melakukan pembacokan itu karena ditantang adiknya akan dibacok. Selain itu, korban juga tidak mau diajak mengukur ulang batas tanah sawah miliknya dan milik korban.

”Wong tuwo kok ditantang, meh dipekno arit meh dibacok. Yo tak bacok ndisik. (Orang tua kok ditantang, mau diambilkan sabit mau dibacok. Ya tak bacok duluan). Saya tidak menyesal,” kata Wadiyo yang mengaku sudah sering ditantang korban yang juga adiknya itu.

Sementara itu, ketika wartawan ini ke rumah duka sudah ada puluhan warga datang takziyah. Korban akan dimandikan, disalatkan, dan dimakamkan. Korban memiliki satu istri bernama Suparmi dan lima anak. Rencananya, keluarga akan menggelar tahlil bersama selama tujuh hari.

Saat wartawan koran ini meminta keterangan kepada anaknya, tidak dijawab dan menyerahkan semua kepada yang berwajib untuk proses hukum. Diketahui, permasalahan cek-cok antara kakak-beradik ini, sudah berlangsung lama. Terutama memang perkara tanah warisan orang tuanya.

”Sebelum kejadian ini, mereka (korban dan pelaku, Red) sudah sering cek-cok di sawah. Keduanya rebutan batas tanah,” ujar Pariyem, tetangga korban.

(ks/mun/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia