Rabu, 17 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Hatiku Tetap Padamu Prabangsa

28 Januari 2019, 07: 51: 15 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

NAMA lengkapnya Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa. Biasa dipanggil Prabangsa. Sudah 10 tahun suami Anak Agung Sagung Mas Prihantini itu, tidak lagi menghirup udara di bumi. Dia tenang di alam sana.

Tiba-tiba minggu lalu seolah dia bangkit kembali. Menggetarkan jagad. Seperti tulisannya tentang kasus korupsi ketika dibaca oleh I Nyoman Susrama, adik bupati Bangli saat itu. Pemicunya adalah remisi yang diberikan oleh pemerintah kepada Susrama, otak pembunuhan terhadap Prabangsa. Dari hukuman seumur hidup menjadi 20 tahun penjara. Dunia kembali gempar.

Wartawan Jawa Pos Radar Bali itu, meninggal dibunuh secara keji oleh komplotan yang diperintah oleh Susrama pada 11 Februari 2009 silam. Eksekusi dilakukan di rumah Surama di Banjar Petak, Bangli. Mayatnya dibuang ke laut. Enam hari kemudian, ditemukan di Teluk Bungsil, perairan Padang Bai, Karangasem, Bali.

Kasus itu membuat gempar jagad raya. Bukan hanya di Indonesia. Bahkan di luar negeri. Wartawan dengan idealismenya yang mengungkap kasus korupsi bukannya dilindungi. Dia dihabisi oleh keluarga penguasa. Di saat bangsa ini sedang memasuki era reformasi. Sedang menggalakkan pemberantasan korupsi. Sedang giat menegakkan hukum.

Banyak orang yang marah. Keluarga, wartawan, LSM, dan masyarakat umum. Termasuk saya juga. Saya tidak kenal akrab Prabangsa. Tetapi tahu. Saya pernah mengisi pelatihan jurnalistik di Jawa Pos Radar Bali yang dihadiri Prabangsa juga.

Prabangsa adalah sosok wartawan dengan dedikasi tinggi. Meskipun sudah menjadi redaktur, dia masih sering turun ke lapangan. Menggali berita dan menulisnya. Termasuk kasus korupsi di Dinas Pendidikan Kabupaten Bangli yang menjadi pemicu pembunuhan itu.  Sebelum dibunuh, dia menjadi redaktur halaman Dwipa 1 dan 2. Dua halaman itu, berisi berita-berita daerah se-Bali.

Saya menangis dalam hati ketika mendengar Prabangsa dibunuh. Apalagi secara keji. Oleh keluarga penguasa lagi. Malam itu, saya di kantor Jawa Pos di Graha Pena Surabaya. Posisi saya sebagai kepala Koordinator Liputan. Mengkoordinasikan berita-berita dari seluruh Indonesia, termasuk dari Bali.

Saya minta foto Prabangsa ke Radar Bali, tempatnya bekerja. Saya masih ingat dikirimi beberapa foto. Saya memilih foto dengan kepala agak gundul. Tersenyum lebar. Giginya yang putih kelihatan jelas di antara mukanya yang cokelat kehitaman. Kumis dan jenggotnya tipis. Kelihatan gagah dan optimistis. Foto itu kemudian saya jadikan poster. Saya minta redaktur budaya Arif Santoso untuk membuatkan puisi.

Setelah poster itu jadi, saya tunjukkan kepada Dahlan Iskan, pemilik Jawa Pos, yang waktu itu datang ke Graha Pena. Saya minta izin untuk memasang poster itu. Dahlan menyetujui. Poster kemudian ditempatkan di dinding lobi Graha Pena lantai IV di depan ruang redaksi. Poster itu juga ditempatkan di Radar Bali. Kopiannya beredar di mana-mana.

Ketika kasus itu mencuat lagi belakangan ini, saya lihat poster itu dibawa oleh salah satu aktivis yang menuntut agar remisi Prabangsa dicabut. Hati saya ikut berdebar melihat poster itu. Prabangsa, rekan saya jurnalis yang memiliki dedikasi tinggi, dibunuh secara keji. Sudah begitu, pembunuhnya dikasih remisi lagi. Dalam hati saya juga protes.

Belakangan saya merasakan mencari wartawan yang baik saja sulit. Apalagi yang memiliki idealisme dan dedikasi sangat tinggi seperti Prabangsa. Sempat terbesit kekhawatiran jangan-jangan banyak orang yang takut menjadi wartawan. Memang sudah ada Undang-Undang Pers yang memayungi. Tetapi, tampaknya masih belum cukup melindungi. (hq@jawapos.co.id)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia