Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Achmad Fathoni, Perakit Motor Listrik

Sumber Energi Pakai Baterai Laptop Bekas

25 Januari 2019, 08: 50: 36 WIB | editor : Ali Mustofa

MERAKIT ULANG: Ahmad Fathoni saat merakit ulang motor listrik yang dia beri baterai laptop bekas.

MERAKIT ULANG: Ahmad Fathoni saat merakit ulang motor listrik yang dia beri baterai laptop bekas. (SUBEKAN/RADAR KUDUS)

Share this      

Kecintaannya terhadap kendaraan listrik, membuat Ahmad Fatoni menemukan ide cemerlang untuk merangkai ulang motor listrik yang sudah rusak. Bahkan sumber energinya mengunakan baterai laptop bekas.

SUBEKAN, Blora

 NAMANYA Ahmad Fatoni ini merupakan guru SMK Muhammadiyah 2 Cepu. Tak sebatas menjadi pendidik, dia juga piawai merakit motor listrik. Uniknya, motor listrik rakitannya itu, memanfaatkan baterai bekas laptop sebagai sumber energinya.

Toni –sapaan akrabnya- mengaku, ia mulai merakit ulang motor listrik bertenaga baterai laptop ini, sejak November 2018 lalu. Awalnya dia mendapatkan motor listrik bekas dari salah satu temannya di Jawa Barat. Motor itu, dikirim melalui kendaraan pegangkut cabai hingga Cepu, Blora.

”Motor listrik itu awalnya sudah tidak bisa lagi digunakan. Lantaran baterainya sudah tidak ada,” terangnya.

Sesampainya di Cepu, ternyata motor itu dinilai masih bagus. Dinamonya dengan kekuatan 6.00 watt juga dalam kondisi normal. Hanya tidak ada baterainya.

Melihat hal itu, dia langsung putar otak. Sebab, harga baterai baru harganya mahal. Satu baterai bisa mencapai Rp 2 juta. Karena keterbatasan dana dan ingin motor listriknya tetap bisa hidup, dia mendapatkan ide untuk menggunakan baterai laptop bekas. ”Satu baterai (laptop bekas) cuma Rp 7 ribuan. Saya langsung saja pesan (baterai laptop bekas) lewat teman,” jelasnya.

Saat itu Fatoni memesan sekitar 600 baterai. Sayangnya bukan satu merek. Sehingga dia harus memilah. Sebab tidak semua baterai bisa digunakan.

Kemudian dia rakit menjadi satu. Setiap rakitannya mengunakan 286 buah buah baterai. Setiap satu baterai memiliki tenaga rata-rata 1,5 ah. ”Secara total baterai ini, memiliki kekuatan 50 ah,” jelas pria berambut cepak ini.

Setelah dirangkai, selanjutnya melakukan penstabilan saat mengecas. Untuk itu, dia mengunakan battery management system (BMS). Sehingga bisa merata masuk dalam baterai. ”Tapi, terkadang ada baterai yang tidak bisa dicas. Itu terlihat dari BMS yang ada lampunya. Jika semua bisa dicas, ada penunjuk lampu yang menyala. Jika tidak ya tidak menyala. Baterainya harus diganti,” ujarnya.

Toni mengaku, selama ini dia hanya menggunakan ilmu prakiraan. Meski hasilnya kurang stabil, namun motornya sudah bisa digunakan dan diuji coba untuk bekerja. ”Seharusnya ada penelitian dahulu terkait daya tampung setiap baterai itu. Agar kapasitas baterai itu bisa merata. Saat dicas bisa penuh bareng dan habis bareng. Bukan seperti milik saya sekarang. Tidak stabil. Karena tidak bisa melakukan penelitian satu-satu terkait baterainya. Karena untuk meneliti dan mengukur kemampuan baterai itu alatnya mahal,” ujarnya sambil terkekeh.

Sakarang dengan baterai rangkaiannya itu, motor listriknya sudah bisa berjalan sejauh 11 kilometer dengan kecepatan sekitar 40 kilometer per jam. Untuk jarak tempuh itu, dia cukup melakukan cas selama dua jam.

Dia mengaku, tujuan awal dirinya merangkai ulang motor listrik tersebut, tidak lain untuk digunakan berangkat kerja. Agar tidak perlu boros beli bahan bakar minyak (BBM) dan mengurangi polusi udara.

”Saya memang suka sekali dengan motor listrik. Apalagi saya suka dengan dunia kelistrikan sejak kuliah. Saat kuliah di STTR Cepu, saya ambil jurusan tehnik mesin. Saat itu, saya sudah melakukan penelitian yang dibiayai oleh Dirjen Dikti,” kenangnya.

Selain merakit motor tenaga listrik menggunakan baterai bakas laptop, dia juga menggunakan solar cell sebagai sumber listrik di rumahnya. Bahkan, sudah dua tahun ini. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia