Minggu, 20 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Features
Didik Widiyatno dan Eni Kuswati

Penggagas Fogipsi, Tak Menerima Undangan di Hari Ngajar

22 Januari 2019, 08: 00: 44 WIB | editor : Ali Mustofa

FOTO BERSAMA: Didik Widiyanto (kanan) beserta Eni Kuswati memperlihatkan hasil karyanya berupa buku kemarin.

FOTO BERSAMA: Didik Widiyanto (kanan) beserta Eni Kuswati memperlihatkan hasil karyanya berupa buku kemarin.

Share this      

Guru tidak sekadar mengajar tapi harus ada gebrakan pengembangan diri. Itulah prinsip dari pasangan suami istri Didik Widiyanto dan Eni Kuswati. Keduanya berprofesi menjadi tenaga pendidik. Hal itulah, yang mengantarkannya mencetuskan Forum Guru IPS Seluruh Indonesia (Fogipsi).

 INDAH SUSANTI, Kudus

 KOMPAK, kata tersebut patut disematkan pada pasangan suami istri Didik Widiyanto dan Eni Kuswati. Mereka tidak hanya kompak dalam karir. Tapi juga kerja sama dalam mendidik anak. Juga mengatur kesibukan masing-masing.

Saat singgah di rumahnya Jalan Kyai Kijing, Gang, Mawar, RT 5/RW 1, Desa Ngembal Kulon, Jati, pasutri tersebut baru saja datang dari Demak. Keduanya baru saja bertemu dengan mahasiswanya.

Didik mengatakan, sebenarnya guru juga bisa nyambi jadi dosen. Asalkan, upgrate ilmu. Jadi, tidak melulu mengajar siswa. Tapi juga mahasiswa.

”Saya dan istri memang suka organisasi. Pemikiran kami selalu sama. Ini sudah terjalin sejak kami masih sama-sama lajang di kampus. Tapi beda jurusan. Saya dan istri bertemu di sebuah organisasi kampus,” tandasnya.

Didik lulusan Unnes jurusan pendidikan teknis mesin. Sedangkan Eni lulusan dari pendidikan IPS. Perjalanan merintis karir juga butuh perjuangan. Kali pertama mengajar Didik di SMK NU Ma’arif di 1999. Kemudian pindah mengajar ke SMK Al Hikmah 2000 hingga sekarang.

”Istri setelah lulus sempat balik kampung dan nganggur. Tapi, setelah saya nikah dengannya ikut saya ke Kudus. Pada waktu menikah dan punya anak yang pertama 2006, gaji saya masih Rp 289 ribu. Istri tenaga honorer di salah satu SMP di kudus,” ungkapnya.

Kemudian, pemerintah pusat ada pengangkatan yang tanpa tes. Istrinya ikut pemberkasan. Diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) penempatan di SMPN 2 Kudus.

”Saya yang masih swasta hingga sekarang, tapi alhammdulillah kami berdua bisa saling suport. Sampai mengambil S2 istri harus bareng saya. Bahkan sampai S3 yang sekarang baru proses kuliah,” ungkapnya.

Eni menyambung cerita Didik, bisa tercetus Forgipsi berawal dari pertemanan sesama guru IPS di facebook. Kemudian, membentuk forum di medsos. Ternyata persoalan yang dihadapi guru sangat kompleks. Termasuk ada hambatan pelatihan workshop yang hanya itu-itu saja yang diberangkatkan oleh Dinas Pendidikan di beberapa daerah.

”Jadi mereka ingin ikut pelatihan. Tapi tidak pernah ada kesempatan. Padahal, hal tersebut sangat penting untuk peningkatan jenjang karir atau kenaikan pangkat,” jelasnya.

Kemudian, Eni berdiskusi dengan suami, lalu terbentuklah Forgipsi bersama dengan teman-teman guru seprofesi lainnya. Eni saat ini menjabat sebagai ketua umum Fogipsi nasional. Di dalamnya sudah ada 34 provinsi yang sudah dibentuk Fogipsi.

”Suami saya menjadi dewan penasehat. Sebagai ketua dewan pembina dari Sultan Cirebon PRA. Arif Nata Diningrat yang kebetulan masih saudara. Kami membentuk Fogipsi 2016. Kegiatan kali pertama difasilitasi Sultan di Kasultanan Cirebon 2017. Pesertanya yang datang dari seluruh Indonesia. Kegiatan kedua di Kendari,” ungkapnya.

Eni mengatakan, bisa keliling Indonesia menjadi narasumber yang mematok bayaran. Bahkan, ada pengalaman sampai ke wilayah Papua bersama Didik. Mereka berdua sering diundang menjadi narasumber workshop yang tingkatannya tingkat nasional.

”Handphone saya sampai ada dua karena sudah mulai berkembang dan masing-masing Fogipsi dari tingkat provinsi hingga kabupaten sudah terbentuk. Bahkan adanya forum ini informasi selalu update kali pertama sebelum pemkab kabupaten mengetahuinya,” terangnya.

Meski, pasutri tersebut memiliki segudang kegiatan. Tapi, mereka tetap mengajarkan pada ketiga putrinya hidup mandiri. Memperhatikan sekolah anak-anaknya. Eni mengatakan, kalau ada waktu luang rekreasi sederhana. Misalkan jalan-jalan ke mall atau ke pantai.

”Saya tidak menyangka bisa keliling Indonesia. Saya tak menerima undangan dari Senin-Kamis. Hanya menerima undangan Jumat-Minggu. Karena saya izin tugas belajar. Jadi tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM),” ungkapnya.

Didik dan Eni juga membuat buku dan beberapa jurnal. Pasutri kompak untuk peningkatan prestasi demi mencerdaskan generasi ke depan. Mereka juga berkomitmen untuk tidak mengabaikan siswanya meski kegiatan di luar sudah menantinya.

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia