Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Muhammad Rizal Zaky, Juara Kaligrafi Pelajar

Telat Satu Jam karena Lupa Bawa Kanvas

14 Januari 2019, 07: 10: 30 WIB | editor : Ali Mustofa

RAIH JUARA: Muhammad Rizal Zaky mendapatkan juara III kaligrafi pelajar tingkat Provinsi Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

RAIH JUARA: Muhammad Rizal Zaky mendapatkan juara III kaligrafi pelajar tingkat Provinsi Jawa Tengah beberapa waktu lalu. (DOK. PRIBADI)

Share this      

Muhammad Rizal Zaky berhasil sabet juara III lomba kaligrafi pelajar tingkat Provinsi Jawa Tengah. Awal mula ia tak percaya diri terjun di seni kaligrafi. Ia merasa goresannya jelek. Tapi siapa sangka, rintisan sejak SD sampai SMP ia berhasil menyabet beberapa juara.

VACHRI RINALDY LUTHFIPAMBUDI, Kudus

SALAM hangat diucapkan oleh Kusmadhi dan Mugiharti ketika menyambut wartawan Jawa Pos Radar Kudus di kediamannya. Memasuki ruang tamu tampak berjajar sekitar lima piala di almari. Lukisan-lukisan cantik juga menghiasi dinding ruangan. Memang, suasana artistik begitu kental jika memasuki rumah ini.

Tak lama kemudian datang seorang anak dari ruang tengah. Tak kalah ramah dari orang tuanya. Ia juga menyambut baik kedatangan wartawan Jawa Pos Radar Kudus. Dia Muhammad Rizal Zaky. Peraih piala-piala yang terpampang di almari itu.

Anak yang lahir di Pati, 12 Juli 2003 ini memiliki segudang prestasi. Dari SD ia sudah aktif mengikuti lomba-lomba. Seperti, matematika, catur, dan kaligrafi. Tak tanggung-tanggung hampir setiap lomba yang diikutinya selalu membawa pulang piala juara. Baik itu di tingkat kecamatan, kabupaten, hingga provinsi.

Prestasi tertingginya ketika ia berhasil mendapatkan juara III lomba kaligrafi tingkat provinsi 2018. Ia mengaku belajar seni lukis tulisan arab itu semenjak kelas IV SD.

”Awalnya orang tua sempat ragu. Karena melihat tulisan saya jelek. Saat itu gambar saya juga jelek. Tetapi entah kenapa saya yang dipilih pelatih untuk mengikuti lomba kaligrafi. Katanya sih saya bisa dilatih,” kata anak yang akrab dipanggil Zaky ini.

Karena merasa dipercaya sang guru, ia giat berlatih dalam melukis. Pentas perdananya berhasil sukses menyabet juara I tingkat kecamatan.

”Setelah itu saya lanjut ke tingkat kabupaten. Tetapi tidak mendapatkan juara. Waktu itu saingannya memang berat-berat,” jelasnya.

Sepertinya hal tersebut tak mematahkan semangatnya. Di tahun berikutnya, ketika mengiNjak kelas V ia kembali mengikuti lomba kaligrafi. Kali ini ia menang juara I tingkat kabupaten.

”Untuk yang kedua ini saya berhasil menang. Karena banyak berlatih sehingga ada perkembangan. Tetapi saat di tingkat provinsi, tempatnya di Solo saya tidak menang. Masalahnya lupa bawa kanvas. Ya harus beli dulu dan toko kanvasnya baru buka pukul 09.00. Akhirnya saya telat satu jam,” jelasnya sambil tertawa mengenang masa-masa itu.

Lulus dari sekolah dasar, ia melanjutkan ke SMP N 3 Pati. Sama seperti di SD. Pada kelas VII ia juga mengikuti lomba kaligrafi. Ia menjelaskan latihannya di SMP cukup giat.

”Awalnya sih latihannya gak terlalu giat. Tetapi mendekati hari hari perlombaan, latihannya langsung giat. Pukul 00.00-01.00 baru sampai rumah,” kata bungsu dari tiga bersaudara itu.

Tetapi latihan giatnya itu terbayar dengan piala juara III tingkat provinsi. ”Kemungkinan masih bisa lebih baik lagi. Kesalahannya waktu itu dalam proses menggambar. Ada yang menggunakan spidol. Sehingga itu mengurangi poin saya,” tambahnya.

Tak hanya kepiawaian menggoreskan tinta ke kanvas. Ia juga piawai dalam berbagai bidang. Hal ini terbukti dengan prestasi juara II lomba siswa berprestasi tingkat kabupaten.

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia