alexametrics
Sabtu, 15 Aug 2020
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan
Merasakan Nikmatnya Jalan Tol Trans Jawa

Paling Mengerikan Jalur Salatiga - Semarang

14 Januari 2019, 06: 47: 48 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

ALHAMDULILLAH. Akhirnya bisa melaksanakan perintah Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Semarang Arif Riyanto dengan sempurna. Merasakan nikmatnya jalan tol trans Jawa Semarang – Jakarta dengan mengemudi sendiri. Ini kelanjutan perjalanan minggu lalu Surabaya – Semarang.

Banyak orang tidak percaya saya mengemudikan sendiri mobil dari Semarang ke Jakarta setelah menempuh perjalanan Surabaya – Semarang. Termasuk General Manager Radar Semarang Iskandar dan Manajer Iklan Radar Semarang Sugiyanto. Bahkan, anak saya juga heran. “Pak ,hanya nyoba tol atau ada keperluan lain di Jakarta,” tanya anak pertama saya.

Saya ke Jakarta betul-betul hanya ingin mencoba tol baru khususnya di wilayah Jawa Tengah yang baru dioperasikan menjelang pergantian tahun. Di Jakarta tidak ngapa-ngapin. Hanya tidur di Hotel Ibis. Makan malam dengan menu salad dan tongseng kambing untuk menghangatkan badan seharga Rp 172 ribu. Minumnya teh tawar Rp 24 ribu, teh paling mahal yang pernah saya minum.  

Pulangnya saja yang mampir di Cirebon. Berziarah di makam Sunan Gunung Jati. Seumur hidup baru kali itu saya berziarah ke makam salah satu wali sembilan yang bernama Syarif Hidayatullah.

Ada pengalaman baru saat berziarah itu. Tidak bisa masuk ke area makam kecuali mendapat izin dari keraton. Saya sudah berusaha lewat pintu belakang. Membawa guede warga setempat . Tapi, mentok. Bisa melalui jalur keluarga keraton, tetapi harus membayar Rp 2 juta. Saya sempat menawar. Infaq turun hingga Rp 1,5 juta. Saya tetap tidak sanggup. Akhirnya saya hanya bisa berziarah di pintu ketujuh dengan membayar guede Rp 100 ribu. Untuk sampai makam masih dua pintu lagi.

Saya mencoba tol Semarang  - Jakarta dengan tetap mengambil hari kerja. Maksud saya agar berada dalam kondisi rata-rata lalu lintas di jalan tol. Berangkat dari pintu tol Banyumanik, Semarang, pukul 14.00. Sampai pitu tol Halim, Jatinegara,  pukul  20.32. Di sinilah kilometer nol jalan tol Jakarta – Semarang – Surabaya.

Sampai di pintu tol itu total jarak tempuh 429 kilometer dengan waktu tempuh 6 jam 32 menit. Itu termasuk istirahat, buang air kecil, salat, dan makan, di rest area Cikopo sekitar setengah jam. Juga melewati kemacetan sejak kilometer 49 di sekitar Karawang. Kemacetan ini tergolong parah.  Sering lalu lintas sampai berhenti total. Jalan pun kebanyakan hanya 20 Km/jam. Karena, ada pembangunan jalur MRT di sepanjang jalan tol itu sampai Jakarta.

Sejak memasuki pintu tol Banyumanik saya bertekad untuk mematuhi semua peraturan lalu lintas di jalan tol. Termasuk kecepatan maksimal 100 Km/jam. Sampai pintu tol Tembalang yang masih masuk wilayah Semarang, belum banyak kendaraan yang menyalip. Maklum jalannya naik turun seperti Banyumanik – Salatiga pada jalur tol Semarang – Surabaya.

Jalan tol dari Salatiga sampai Semarang adalah yang paling membahayakan. Banyak tanjakan dan turunan tajam. Di jalan yang menurun gas bisa naik dengan sendirinya. Kalau tidak waspada bisa lepas kendali. Karena itu, di jalur itu dibikin jalur-jalur darurat untuk penyelamatan bila terjadi remblong. Di wilayah Semarang yang naik turun itu, saya pastikan kecepatan di bawah 100 Km/jam.

Selepas Semarang saya mulai menyalip beberapa kendaraan. Namun, mulai banyak kendaraan yang menyalip juga. Termasuk mobil kecilyang tergolong city car. Perkiraan saya, kendaraan yang menyalip saya itu pada kecepatan sekitar 110 – 120 Km/jam. Beberapa di antaranya sampai 150 km/jam.

Di sekitar Batang saya sempat menaikkan gas secara drastis sampai 140 KM/jam dengan RPM 4.000 karena ada mobil di belakang yang melesat dengan kencang. Saya hanya ingin mengukur kecepatan mobil itu. Ternyata Fortuner putih itu tetap menyalip saya. Wush. Perkiraan saya sampai 160 Km/jam.

Saya sadar, mengemudi di jalan tol dengan kecepatan di atas 100 KM/jam adalah pelanggaran. Tetapi, sepanjang perjalanan mencoba tol baru dari Surabaya – Semarang – Jakarta kemudian balik ke Semarang nyaris tidak ada mobil yang diberhentikan petugas karena pelanggaran kecepatan itu.

Saya hanya mendapati polisi menghentikan mobil pikap di Brebes. Entah apa pelanggarannya. Muatan mobil itu tertutup rapat. Tetapi penutupnya tidak terpal. Ketika balik dari Jakarta ke Semarang juga hanya mendapati satu mobil yang dicegat polisi di wilayah Cirebon. Saya bisa memastikan bukan karena pelanggaran kecepatan.

Kesimpulan saya, banyak kendaraan yang melebihi batas kecepatan di jalan tol Surabaya – Semarang – Jakarta. Seolah mereka dibiarkan.

Seperti kondisi jalan Tol Surabaya – Semarang, tol Semarang – Jakarta termasuk masih lengang, khususnya di wilayah Jawa Tengah yang baru dioperasikan menjelang tahun baru lalu. Tidak banyak truk yang lewat seperti di jalan arteri. Mungkin karena biayanya mahal. Saya harus membayar Rp 264 ribu untuk jalur Surabaya (Waru) – Semarang (Banyumanik) dan Rp 220 ribu untuk jalur Jakarta (Kemayoran) – Semarang (Banyumanik).

Meski relatif sepi, beberapa kali saya mendapati mobil beriringan. Itu karena kecepatan mereka relatif sama. Di jalur antara Batang - Pekalongan  saya sempat beriringan lima mobil dengan kecepatan 80 km/jam. Sebuah mobil Karimun dengan penumpang penuh mengambil lajur kanan. Meskipun ada empat mobil di belakangnya termasuk saya, city car itu tidak mau beralih ke lajur kiri. Padahal banyak peringatan lajur kanan hanya untuk mendahului. Akhirnya empat mobil termasuk mobil saya menyalip dari kiri. Itu juga pelanggaran.

Ada pelanggaran menyalip yang lebih parah. Menjelang tol Kanci, beberapa mobil beriringan di sebelah kanan. Mobil-mobil itu termasuk saya hendak menyalip truk gandeng yang juga beriringan. Tiba-tiba melesat mobil Kijang dengan kecepatan tinggi melewati bahu jalan. Itu pelanggaran yang sangat membahayakan. Pelanggaran seperti ini baru bisa dimaklumi di jalan macet seperti sepanjang tol Tangerang – Jakarta.

Ada perbedaan yang mencolok jalan tol Semarang – Surabaya dengan Semarang – Jakarta. Tol Semarang – Surabaya nyaris sepenuhnya cor. Sedangkan Semarang Jakarta beraspal pada beberapa ruas. Saya merasakan lebih enak di jalan aspal dibanding di jalan cor. Rasanya lebih empuk. Hanya saja, kalau malam terasa gelap. Lebih-lebih bila hujan seperti yang saya alami ketika memasuki wilayah Cirebon, Jabar. Lampu penerangan juga tidak ada.

Di sepanjang jalur wilayah Jabar sampai Jakarta juga banyak lubang. Kecil tapi cukup terasa. Nggerojal. Sudah banyak lubang yang ditutup. Tapi, orang Indonesia tidak pintar menambal jalan. Tidak pernah ada tambalan jalan yang rata. Jangan pernah mengindari lubang itu ketika mendapati secara mendadak dengan kecepatan tinggi. Sangat berbahaya. Lewati saja meski nggeronjal.

Kesimpulan akhir saya berkendara di jalan tol Surabaya – Semarang –Jakarta cukup nyaman sepanjang mengikuti aturan yang ditentukan. Dengan kecepatan maksimal 100 Km/jam kendaraan tenang meski melewati jalan dengan beda ketinggian dan belokan. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/zen/top/JPR)

 TOP