Minggu, 24 Mar 2019
radarkudus
icon featured
Features
Sudah Kusuka, Band Orang Kantoran

Bawa Alat Musik Sendiri, Latihan di Ruang Rapat Kantor

12 Januari 2019, 07: 13: 00 WIB | editor : Ali Mustofa

PERFORM: Band ”Sudah Kusuka” saat tampil di CFD di Jalan R Suprapto, Kota Purwodadi, Grobogan, baru-baru ini.

PERFORM: Band ”Sudah Kusuka” saat tampil di CFD di Jalan R Suprapto, Kota Purwodadi, Grobogan, baru-baru ini. (SUDAH KUSUKA FOR RADAR KUDUS)

Berkarya di bidang seni bisa di mana saja dan tak tepatok pada profesi tertentu. Contohnya personel band ”Sudah Kusuka”. Seluruh personel yang orang kantoran. Namun mereka tetap eksis, meski latihan harus di ruang rapat tempat mereka bekerja. Termasuk membawa alat musik sendiri.

 INTAN M SABRINA, Grobogan

 DI tengah kesibukan kerja, personel ”Sudah Kusuka Band” tetap bisa menjadi satu penghibur di dunia musik di Kabupaten Grobogan. Uniknya, band ini ternyata beranggotakan para pekerja Bank Jateng Cabang Purwodadi.

Dengan kesibukan bekerja, tak membuat enam personel yang bekerja di bank pemerintahan ini berhenti mengembangkan hobinya. Dari hobi yang sama, mereka membentuk grup musik yang telah berdiri sejak 2014 lalu.

Awal terbentuk, salah satu karyawan yang bernama Angga memang sulit terpisahkan dengan musik dalam kesehariannya. Saat memasuki dunia kerja, ia bertemu kawan lama yang sempat satu band semasa sekolahnya dulu. Iseng, mereka mulai mengenalkan musik di kantornya.

Para pimpinan pun tertarik dan mulai memperhatikan perform Angga dan salah satu kawannya tersebut. Tak lama berselang, mulai ada karyawan lain yang bergabung. Antara lain, Jeje (vokal), Angga (bass), Saghe (gitar), Aang (gitar), Agung (keyboard), dan Hendy (drum).

”Sekitar 10 September 2015 lalu, mulai ada penambahan personel. Awalnya hanya dua menjadi enam personel. Karena ada karyawan tambahan yang bisa bermain musik yang tertarik bergabung,” papar salah satu personel, Stefanus Angga.

Mereka mulai menjadi andalan pengisi musik di setiap kegiatan internal kantor. Bahkan, mereka mulai ikut mengisi acara di car free day (CFD) di Jalan R Suprapto, Kota Purwodadi. Mereka juga pernah diminta mengisi kegiatan pemkab, seperti pembukaan Pasar Kuliner di Eks Stasiun baru-baru ini.

”Seringnya (diminta tampil) di acara internal kantor. Namun, juga kerap diundang ke (Bank Jateng) cabang lain. Malah kadang juga diundang di acara keluarga karyawan Bank Jateng seperti ulang tahun, khitanan, hingga pernikahan,” jelasnya.

Dengan kerapnya diminta mengisi acara, akhirnya mereka membuat nama ”Bima Band”. Nama tersebut diambil dari produk unggulan tabungan di Bank Jateng yang bernama Tabungan Bima. Tapi, tak lama kemudian berganti nama menjadi ”Sudah Kusuka”. ”Sudah Kusuka tak memiliki filosofi apa pun. Tiba-tiba salah satu personel tercetus kata tersebut. Harapannya, agar penikmat musik kami bisa langsung jatuh hati menikmati lagu yang kami mainkan,” jelasnya.

Menurutnya, untuk genre musik yang mereka usung adalah pop klasik, yakni top 40. Mereka kerap membawakan lagu pop tahun 90-an. Sebab, penikmat musik mereka adalah para orang tua.

Dalam sepakan, mereka melakukan sekali latihan, yakni setiap Rabu. Mulai sepulang kerja dari pukul 19.00 hingga 22.00. Jadi, tak mengganggu pekerjaan dan tetap lancar latihan.

”Tapi kalau pas lembur, latihannya ya ditunda dulu. Tapi, kalau ada panggilan di acara yang cukup besar, kami melakukan latihan empat kali dalam sepekan. Setiap latihan kami harus membawa perlengkapan band sendiri. Latihannya di ruang rapat kantor,” jelasnya.

Selama mengisi di berbagai acara, band ini mengaku tak mematok tarif manggung. Mulai dari nasi kotak hingga sejumlah nominal yang cukup besar sempat mereka dapatkan. Sebab, berdirinya grup band ini, hanya untuk menghibur masyarakat dan sembari menyalurkan hobi. Jadi, tak terlalu dikomersilkan.

”Kami sudah sibuk dengan kerjaan masing-masing. Kalau dikomersilkan dan menerima banyak undangan kok kurang etis. Nanti kerjaan keteteran,” ujarnya.

Meski begitu, mereka mengaku enjoy bisa bermain musik bersama dengan kawan sejawat. Sebab, komunikasi yang mudah mereka bisa berbagi keluh-kesah kerjaan. Hingga menghilangkan stres pekerjaan yang mereka geluti.

Saat ditanya soal kendala selama ini, mereka mengaku kerap mengalami. Terlebih masalah penentuan waktu latihan. ”Kesulitannya paling mengumpulkan personel saja. Meski sudah dijadwalkan, tetapi kadang terbentur lembur kerjaan. Namun, kami berharap ke depan masih tetap bisa ngeband, meski dengan kesibukan kantor. Sebab, bisa menghibur diri sendiri dan orang lain,” katanya.

Selain waktu, kesulitan lain tentang perbedaan pendapat aransemen. Namun mereka malah kerap menyatukan perbedaan tersebut dan menghasilkan musik yang unik.

Tak hanya itu, dalam berbagai penampilan, selalu memiliki pengalaman unik tersendiri. Terlebih, pengalaman saat manggung di salah satu acara kantor. Ada salah satu peserta yang ingin ikut menyanyi, namun lagu dangdut. ”Kami alirannya kan pop klasik. Bingung kalau harus beralih ke dangdut. Tapi, harus tetap profesional melayani permintaan,” kesannya.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia