Sabtu, 19 Jan 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Warkop ”Free Wifi” dan Anak Sekolah

12 Januari 2019, 07: 01: 04 WIB | editor : Ali Mustofa

Retno Endah Kurnianingrum, S.Pd, Guru SMPN 1 Sarang

Retno Endah Kurnianingrum, S.Pd, Guru SMPN 1 Sarang (DOK. PRIBADI)

DAHULU warung kopi (warkop) adalah tempat para bapak-bapak melepas lelah, setelah bekerja seharian. Sambil ngobrol dengan teman. Sekarang, tidak lagi hanya bapak-bapak. Kemajuan teknologi telah merubah warkop biasa menjadi warkop berlabel “free wifi”. Saat ini, anak-anak sekolah lebih mendominasi warkop dibandingkan bapak-bapak.

Setiap sudut desa dan pelosok kampung menjamur warung-warung kopi berlabel “free wifi”.  Free berarti bebas alias gratis sedangkan wifi bisa diartikan akses internet. Artinya, setiap pengunjung warkop bisa mengakses internet tanpa biaya alias gratis.

Hanya dengan modal membeli secangkir kopi seharga Rp 3 ribu, pengunjung bisa menjelajah dunia maya sepuasnya. Dengan begitu, tidaklah mungkin pengunjung warung- warkop zaman now didominasi bapak-bapak lagi. Tapi, telah berganti dengan anak-anak muda dan anak-anak usia sekolah.

Mudah dan murahnya akses internet sebenarnya akan sangat positif. Jika bisa menggunakan dengan baik. Tetapi yang dikhawatirkan adalah sebaliknya. Mereka mengakses sesuatu yang mungkin tidak atau belum diperbolehkan untuk mereka akses.

Sebagai seorang guru, merasa sangat prihatin setiap kali melewati warung kopi berlabel “free wifi” yang penuh dengan anak-anak muda. Sebagian besar mereka masih berusia anak sekolah. Tangan kiri memegang rokok (sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan seorang pelajar). Tangan kanan memegang smartphone. Sesekali menyeruput kopi yang mereka pesan. Memang tidak semua pengunjung adalah pelajar.

Tidak masalah bagi mereka yang bukan pelajar. Tetapi bagi anak-anak yang masih berusia sekolah dan masih bestatus pelajar, pastilah akan mengganggu kegiatan belajar mereka. Waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk belajar, habis terbuang percuma.

Itu mengapa terkadang ada anak yang mengantuk ketika mengikuti pelajaran di kelas. Karena mereka menghabiskan waktu di warkop hingga larut malam. Jangankan mengerjakan tugas sekolah, jadwal pelajaran untuk esok hari saja tak tahu. Anak-anak sudah asyik dengan dunia mereka, yang seharusnya belum saatnya.

Fenomena semacam ini seharusnya menjadi perhatian bersama. Sebagai orang tua, harus lebih dapat menciptakan suasana rumah atau sekolah lebih nyaman. Agar anak-anak kita sebagai generasi penerus dan calon-calon pemimpin bangsa tak lagi merasa lebih nyaman berada di warkop daripada di rumah atau di sekolah. Sebagai orang tua harus mengarahkan anak-anak menjadi generasi yang kreatif dan gemar berkegiatan positif, daripada hanya nongkrong di warkop.

Keberadaan warkop di berbagai desa, sudah membawa perubahan bagi lingkungan sekitarnya. Perubahan ada yang berdampak positif dan negatif. Saat wifi digunakan untuk mencari sumber belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah, akan berdampak positif. Tapi, saat digunakan hanya sebagai tempat nongkrong dan pelarian dari rumah, dampak yang timbul akan negatif.

Anak lebih nyaman di warung kopi dari pada di rumah. Semua kembali ke diri keluarga masing-masing. Semoga bermanfaat. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia