Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Bank Sampah Karang Taruna Tunjung Seto

Jumlah Nasabah Ratusan, Keuntungan Capai Rp 20 Juta

10 Januari 2019, 23: 50: 49 WIB | editor : Ali Mustofa

STUDI BANDING: Karang Taruna Tunjung Seto, Desa/Kecamatan Bae, Kudus, menerima studi banding dari Karang Taruna Desa Prambatan Lor, Kaliwungu, kemarin.

STUDI BANDING: Karang Taruna Tunjung Seto, Desa/Kecamatan Bae, Kudus, menerima studi banding dari Karang Taruna Desa Prambatan Lor, Kaliwungu, kemarin. (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)

Share this      

Bank sampah Tunjung Seto, Desa/Kecamatan Bae, Kudus, berhasil mengelola sampah berbasis ekonomi. Sekarang ini bank sampah itu memiliki 386 nasabah. Keuntungan nasabah diambil setahun sekali. Saat Lebaran.

 INDAH SUSANTI, Kudus

Rumah milik Anshori, ketua Karang Taruna Tunjung Seto di Karang Taruna Tunjung Seto, Desa/Kecamatan Bae, Kudus, sangat ramai kemarin. Beberapa orang terlihat serius melihat guntingan platik. Guntingan itu sudah dirangkai sedemikian rupa menjadi dompet dan bunga plastik.

M Anshori menjadi mentor di acara tersebut. Sekitar 50 orang memperhatikan. Mereka dari Karang Taruna Prambatan Lor, Kaliwungu, Kudus.

Pengolahan sampah di Bank Sampah Tunjung Seto yang tak lain milik Karang Taruna Tunjung Seto, Bae. Bank sampah itu cukup sukses. Di 2018 bank sampah ini mampu meraup keuntungan Rp 20,15 juta. Kesuksesan inilah kemudian bank sampah itu jadi rujukan banyak lembaga sosial, lingkungan, dan pemerintahan.

Organisasi itu berdiri berawal dari keprihatinan sampah dibuang. Juga tidak ada pemilahan tepat. Lebih memprihatinkan lagi, banyak masyarakat membuang sampah di sungai. Dari kejadian tersebut, salah satu anggota Karang Taruna Tunjung Seto, memfoto timbunan sampah. Kemudian diunggah di media sosial (Medsos).

Unggahan tersebut banyak yang komentar. Akhirnya pengurus Karang Taruna yang diketuai M. Anshori mengajak anggota rapat bersama membahas hal tersebut. ”Kami berpikir, bagaimana masyarakat tidak membuang sampah ke sungai. Kalau cuma melarang terus sampah itu dibuang ke mana?,” ungkap Anshori.

Tepat 1 Mei 2016, Karang Taruna Tunjung Seto mendirikan bank sampah.Diberi nama Bank Sampah Tunjung Seto Bae.

Menurut Direktur Bank Sampah Desa Bae Moh Fatchur, anggota bank sampah diambilkan 15 orang. Terdiri dari perwakilan lima rukun warga (RW). Tiap satu bulan sekali, masyarakat dapat mengumpulkan sampahnya ke posko bank sampah di lima RW itu.

Selanjutnya, masyarakat yang menjadi nasabah bank sampah mendapatkan buku tabungan. Dicatat jenis sampah yang dikumpulkan oleh nasabah tersebut. Memilah-milah sendiri sesuai barangnya. Maka nilainya akan lebih tinggi dibandingkan sampah belum terpilah.

Fatchur, menambahkan, sampah-sampah yang dikumpulkan dibawa ke penampungan induk. Kemudian dipilah-pilah 15 anggota bank sampah. Untuk menjual sampah yang sudah dipilah, pihaknya bekerja sama dengan pengepul.

”Tidak hanya satu pengepul. Namun lebih dari dua pengepul. Ketika setiap kali akan menjual barang sampah selalu menghubungi tiga pengepul. Itu untuk mengetahui pengepul mana yang harganya lebih tinggi,” tegasnya.

Selain itu lanjut Fatchur, sampah tersebut, oleh anggota bank sampah ada yang dijadikan kerajinan seperti tas, dompet, kopiah, bunga, tempat pensil dan lainnya. Hasil kerajinan, kemudian dijual melalui online.

Bahkan melalui tawaran online, pihaknya, mendapat undangan ke SMP 1 Lasem pada Oktober lalu. Di sana memberikan pelatihan cara membuat kerajinan dari barang bekas botol mineral. Dijadikan tempat pensil.

Sementara itu, Anshori menambahkan, Karang Taruna dengan segudang kegiatan di luar bank sampah, mampu mengelola dengan baik. Cukup menakjubkan. Akhir  tahun 2018 meraup pendapatan sebesar Rp 20,15 juta.

Dibanding tahun sebelumnya, yang hanya memperoleh pendapatan sebesar Rp 17,6 juta. Anshori, mengatakan, ada kenaikan pendapatan sebesar Rp 3 juta lebih. Sementara itu, untuk nasabah bank sampah di desanya ini sebanyak 386 orang. Mereka mengambil tabungannya setiap kali menjelang lebaran.

”Ada satu nasabah yang mendapatkan tabungan dari bank sampah sebesar Rp 1,4 juta. Memang, sesuai aturan diambilnya satu tahun sekali pada saat Lebaran. Karena kebutuhan nasabah paling banyak pengeluaran saat hari raya,” terangnya.

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia