Minggu, 17 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Anak-Anak Indonesia Rendah dalam Literasi Matematika?

10 Januari 2019, 23: 13: 10 WIB | editor : Ali Mustofa

Sutantiningsih, S.Pd.,Guru Matematika di SMPN 3 Jekulo, Kudus

Sutantiningsih, S.Pd.,Guru Matematika di SMPN 3 Jekulo, Kudus (DOK. PRIBADI)

Share this      

RENDAHNYA kemampuan numera siswa di Indonesia bukan lagi berita baru. Hasil PISA tahun 2000 hingga 2015 mengejutkan. Secara konsisten menempatkan siswa-siswa kita yang berusia 15 tahun pada peringkat bawah.

Disebutkan juga bahwa ditemukan anak-anak Indonesia ternyata belum mampu menerapkan pengetahuan prosedural matematika ke dalam permasalahan yang dihadapi sehari-hari. Sudahkah kemampuan anak-anak Indonesia memasuki ambang gawat darurat bermatematika?

Ini berarti kemampuan berliterasi matematika juga sangat rendah. Kalau memang ini yang terjadi, berarti kemampuan matematika tidak berkembang seiring bertambahnya tingkatan sekolah yang diikuti anak-anak. Penurunan kemampuan bermatematika dari tahun ke tahun bila dibiarkan, anak-anak Indonesia akan mengalami gawat darurat matematika.

Sejatinya peran serta pendidikan matematika dalam pendidikan secara keseluruhan sangat luas. Tidak hanya berkaitan tentang hal yang teknis dan ilmiah. Buktinya, bahwa persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari dapat diuraikan dalam model matematika, sehingga penyelesaiannya lebih cepat dan sederhana.

Hal ini sesuai dengan tujuan pengajaran matematika di sekolah yang tertuang dalam kurikulum, bahwa matematika melatih siswa untuk berpikir kritis, kreatif, inovatif, serta mampu menyelesaikan masalah dengan tepat, singkat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Matematika merupakan ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antarbilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah bilangan. Dalam perkembangannya, bilangan ini diaplikasikan ke bidang ilmu-ilmu lain sesuai penggunaannya.

Menurut James dalam Suherman, dkk (2003:16), matematika diartikan sebagai ilmu logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang saling berhubungan satu sama lain dengan jumlah yang terbagi ke dalam tiga bidang. Yaitu aljabar, analisis, dan geometri.

Penyeimbangan penggunaan otak kiri dan otak kanan (otak kiri digunakan untuk menghitung dan otak kanan untuk kreativitas) perlu sekali dilakukan. Hal ini untuk mematematisasikan situasi di sekelilingnya, sehingga guru harus mampu berkomunikasi dengan baik dalam kegiatan pembelajaran. Tujuannya, agar materi atau konsep yang disampaikan tidak disalahterimakan siswa. Hal ini agar pengajaran matematika tidak membosankan, menarik, dan menyenangkan.

Agar mudah belajar matematika, kita perlu tahu karakteristiknya. 1) Objek yang dipelajari abstrak. Sebagian besar yang dipelajari dalam matematika adalah angka atau bilangan yang secara nyata tidak ada atau merupakan hasil pemikiran otak manusia. Inilah yang mengakibatkan matematika sulit dipelajari dan sulit diajarkan, karena objek yang dipelajari.

Guru harus dapat mengembangkan kualitas pribadi dan siswanya secara keseluruhan, yaitu: kebiasaan bekerja dengan baik seperti imajinatif, kreatif, dan fleksibel, sistematik, independen dalam berpikir dan bertindak, bekerja sama, serta cermat. Serta sikap positif terhadap Matematika terpesona; berminat dan termotivasi; gembira dan menyukai matematika; menghargai maksud, kekuatan, dan relevansi matematika dalam kehidupan; kepuasan yang tumbuh dari keberhasilan dan keyakinan akan kemampuannya mengerjakan matematika.

2) Kebenarannya berdasarkan logika. Kebenaran dalam matematika adalah kebenaran secara logika bukan empiris. Artinya, kebenarannya tidak dapat dibuktikan melalui eksperimen seperti dalam ilmu fisika atau biologi. 3) Pembelajarannya secara bertingkat dan kontinyu. Pemberian atau penyajian materi matematika disesuaikan dengan tingkatan pendidikan dan dilakukan secara terus-menerus. Artinya dalam mempelajari matematika harus secara berulang melalui latihan-latihan soal.

4) Ada keterkaitan antara materi yang satu dengan yang lainnya. Materi yang akan dipelajari harus memenuhi atau menguasai materi sebelumnya. Contohnya, ketika akan mempelajari tentang volume atau isi suatu bangun ruang, maka harus menguasai tentang materi luas dan keliling bidang datar.

5) Menggunakan bahasa simbol. Dalam matematika penyampaian materi menggunakan simbol-simbol yang telah disepakati dan dipahami secara umum. Misalnya menggunakan simbol + (penjumlahan), - (pengurangan), : (pembagian), dan seterusnya, sehingga tidak terjadi dualisme jawaban.

6) Diaplikasikan dibidang ilmu lain. Matematika dapat digunakan untuk menyeleksi atau menyaring data yang ada. Tujuan penggunannya untuk mengetahui kemampuan berpikir cepat dan dapat menyelesaikan masalah. Dalam bidang informatika atau komputer menggunakan konsep bilangan basis. Teknik industri atau mesin matematika digunakan untuk menentukan ketelitian suatu alat ukur atau perkakas yang digunakan.

Dengan mengetahui manfaat matematika dalam kehidupan sehari-hari, pengajar harus pandai mengorelasikan perencanaan pembelajaran dengan kehidupan nyata. Pemilihan metode mengajar yang tepat bukan tidak mungkin hasil belajar siswa akan mengalami peningkatan.

Pemahaman terhadap asumsi bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit setidak-tidaknya akan ditinggalkan. Dengan matematika siswa juga dapat belajar berargumentasi, mengerti apa yang dibicarakan, memahami lalu dapat mengkomunikasikan. Matematika tidak sekadar angka dan bilangan yang harus dipelajari secara ilmiah di bangku sekolah, tetapi menyatu dalam kehidupan sehari-hari. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia