Sabtu, 19 Jan 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Miris! Bocah 15 Tahun Ini Terpaksa Putus Sekolah, Pilih Jualan Gandos

09 Januari 2019, 22: 33: 58 WIB | editor : Ali Mustofa

PUTUS SEKOLAH: Slamet Daryanto terpaksa berjualan gandos untuk bantu perekonomian keluarga.

PUTUS SEKOLAH: Slamet Daryanto terpaksa berjualan gandos untuk bantu perekonomian keluarga. (DIYAH AYU FITRIYANI/RADAR KUDUS)

Tuntutan ekonomi menjadi alasan paling masuk akal yang menyebabkan pekerja anak bermunculan. Tidak hanya di ibu kota, di kota industri ini juga marak pekerja yang melihatkan anak. Mulai dari pengamen cilik, penjual rujak, peminta-minta, hingga kini penjual gandos. Rata-rata berusia 7 hingga 15 tahun.

 Slamet Daryanto, 15, satu diantara anak yang putus sekolah lantaran himpitan ekonomi. Dia mengaku sejak ayahnya meninggal dunia pada 2016 lalu, ekonomi keluarganya mulai terganggu. Beralasan tidak ingin memberatkan beban orang tua, Daryanto – sapaan akrabnya – memutuskan untuk menjadi penjual gandos. Gandos itu sendiri makanan ringan yang terbuat dari tepung beras dan santan kepala. Rasanya semakin gurih lantaran ditambahi garam dan gula.

”Tak ada biaya sekolah, jadi saya memutuskan keluar. Ingin usaha saja biar ibu ada yang bantu. Kasihan di rumah yang bekerja hanya ibu saja,” kata bocah yang sempat menamatkan sekolah dasar itu. Saat ini Daryanto tinggal bersama ibu dan neneknya di sebuah kontrakan di RT 1/RW 4 Desa Pasuruan Lor, Jati.

Sebelum memutuskan untuk tidak sekolah, dia mengaku sempat bersekolah di MTs Hasyim Asyari duduk di bangku kelas VII. Namun karena tidak ada biaya, akhirnya tidak dilanjutkan.

Daryanto mengaku, selama dua bulan terakhir, setiap hari mangkal di Jalan Niti Simito No 645 Purwosari Kudus di Desa Purwosari, Jati dengan gerobak yang dipikulnya. Ia berjualan dari pukul 16.00 hingga maghrib.

Penghasilan Daryanto tak pasti. Kadang Rp 20 ribu. Kadang pula Rp 40 ribu. Uang hasil berjualannya itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi ibunya yang hanya seorang buruh warung makan. ”Untuk bantu ibu dan biaya kebutuhan di rumah,” ujarnya.

Terpisah, Andri Dwiastuti, ibu Daryanto mengatakan sebelumnya tidak mengetahui jika anak semata wayangnya itu berjualan kue gandos. Dia baru tahu setelah tetangga memberitahunya. Sama halnya apa yang dikatakan Daryanto, perekonomian keluarga memang menurun drastis sejak suaminya meninggal. ”Putus sekolah karena biaya. Anak saya kalau telat bayar SPP kan isin (malu), karena sering telat belum bayar SPP,” katanya.

Dia mengatakan selama tidak sekolah anaknya menghabiskan waktu berdiam diri di rumah. Untuk menghindari pergaulan bebas. Menurutnya, anaknya dibiarkan untuk berjualan kue gandos. Kebetulan ada tetangga yang menawari berjualan gandos. Selain tak butuh lamaran, juga tak butuh modal.

”Pengen saya ya sekolah. Tapi ekonomi keluarga seperti ini. Saat masih sekolah, sering telat bayar iauran SPP. Akhirnya 2017 lalu berhenti karena malu,” jelasnya.

Melihat kondisi keluarga ini, membuat warga sekitar menaruh simpati. Beberapa dari mereka hampir setiap hari membeli kue gandos yang kini sudah mulai jarang ditemui di pasar.

”Memang sengaja beli. Ya, itung-itung bisa bantu perekonomian keluarga dan melariskan dagangan. Bantu biar cepet habis,” ucap Laila Agusriah, 21, warga Kelurahan Purwosari.

(ks/daf/mal/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia