Rabu, 26 Jun 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan
Merasakan Nikmatnya Jalan Tol Trans Jawa

Kecepatan 130 Km/Jam Masih Disalip

07 Januari 2019, 21: 38: 35 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

SUDAH lama saya ingin mencoba tol trans Jawa Surabaya-Semarang-Jakarta. Bahkan, sejak sebelum dioperasikan menjelang tahun baru. Lebih-lebih setelah Pemimpin Redaksi Radar Semarang Arif Riyanto mengeluarkan perintah. Saya pun mencobanya minggu kemarin. Belum seluruhnya. Masih Surabaya-Semarang.

Aro -sapaan akrab Arif Riyanto- memerintah saya secara halus. Tidak menggunakan kata perintah. Bunyinya kira-kira begini, ”Pak Baehaqi tidak ingin mencoba jalan tol Surabaya-Semarang-Jakarta?” Aro orang Jawa. Dia tidak berani memerintah saya, karena secara organisasi di perusahaan dia anak buah. Saya juga orang Jawa. Harus tahu apa yang diinginkan. Lebih-lebih dia sebagai penanggung jawab koran. Saya harus tunduk kepadanya.

Awalnya saya ingin mencoba tol itu Minggu, 30 Desember 2018. Dari Semarang ke Surabaya. Mobil sudah saya siapkan. Kepunyaan Radar Semarang yang masih relatif baru. Tetapi, hari itu saya masih ada kegiatan di Kudus. Perjalanan tak bisa lewat tol. Akhirnya saya putuskan ketika balik ke Semarang Rabu, 2 Januari 2019. Petimbangan saya hari itu sudah hari kerja. Lalu lintas normal.

Keluar dari rumah di Sidoarjo, Jatim, persis pukul 07.00. Harus menerobos kemacetan di jalan raya Waru yang klasik. Sampai di pintul tol pukul 07.20. Saya berniat mematuhi semua rambu-rambu dan peraturan lalu lintas di jalan tol. Termasuk tidak membuang apapun di jalan tol dan memacu kendaraan maksimal 100 kilometer/jam.

Dari Surabaya saya laksanakan betul niat saya. Kecepatan konstan 100 kilometer per jam. Kondisi lalu lintas sepi. Tidak ada truk maupun bus yang melintas. Tentu yang saya tahu. Bisa jadi ada jauh di depan atau di belakang. Rasanya nyaman. Expander keluaran tahun 2018 yang saya kendarai seorang diri terasa anteng.

Menjelang Mojokerto saya teringat harus menghadiri rapat di Radar Kudus pukul 10.00. Siangnya pukul 13.00 bertemu Bupati Kudus M Tamzil di Pendapa Kabupaten Kudus. Berikutnya bertemu Dirut PT Mubarok Food M Hilmy yang memproduksi jenang Kudus, pukul 15.00. Saya mencoba menaikkan speed menjadi 110 kilometer per jam. Di jalan yang menurun kadang-kadang jarum speedometer menunjuk angka 120. Masih tetap nyaman.

Di sekitar Mojokerto saya harus mengecek isi kartu tol. Khawatir tidak mencukupi. Saya tambah Rp 100.000 di salah satu gerai yang ada di rest area. Di sini ada persoalan yang membuat saya harus berhenti lama. Ketika transaksi selesai, saya minta agar saldo akhir di kartu saya dicek. Isinya ternyata Rp 592.000. Saya tidak percaya. Saya minta dicek sekali lagi. Betul. Isinya Rp 592.000.

Saya sempat bengong. Ingat saya teman-teman tidak pernah mengisi karto tol sampai Rp 500.000. Demikian juga saya. Kemudian naluri saya sebagai direktur yang biasa mengontrol keuangan muncul. Saya minta agar dicek saldo awal kartu sebelum ditambah Rp 100.000. Tercatat hanya Rp 92.000.

Saya tidak pintar ilmu matematika. Nilai berhitung saya di ijazah SLTA hanya 5. Tertulis dengan tinta merah.  Tetapi, di akunting manapun tidak ada perhitungan 92.000+100.000 = 592.000. Saya simpulkan terjadi kesalahan di kasir. Si kasir yang cantik (menurut saya) mengingat-ingat. ”Apa mungkin pengisian sebelumnya masuk ke sini,” gumamnya sambil menimang kartu saya.

Sebelum saya, ada orang yang juga mengisi kartu tol. Tetapi orangnya sudah pergi. ”Tetapi sudah masuk di struk,” kata pelayanan itu. Pertanyaannya, bagaimana mungkin pengisian kartu tol orang tersebut masuk ke kartu tol saya? Sebelum pertanyaan itu terjawab, si kasir menawarkan solusi. Isi karto tol saya di debit Rp 400.000. Sehingga tinggal 192.000. Saya sepakat. Pikir saya, human error atau mecanical error bisa saja terjadi. Jangan pernah menolak kenyataan ini.

Sebelum saya melanjutkan perjalanan saya iseng bertanya lewat grup Whatsapp Radar Semarang. Berapa tarif tol Surabaya-Semarang. Dalam waktu singkat sudah ada yang menyahut. Dari Surabaya sampai pintu tol Banyumanik 246.000. Wah, mumpung belum berangkat saya tambah lagi kartu tol saya Rp 100.000.

Karena waktu saya terpotong banyak saat pengisian karto tol, saya pacu kendaraan lebih kencang lagi. Kali itu menjadi 120 kilometer konstan. Saya sadar, itu melanggar aturan. Di sepanjang jalan tol sudah ada rambu, minimal kecepatan 60 kilometer per jam dan maksimal 100 kilometer per jam. Rambunya berupa angka 60 tertulis warna biru dan 100 dengan warna merah. Saya paham betul karena punya SIM.

Menurut saya, kecepatan 120 kilometer itu sudah kencang. Tetapi, masih banyak mobil yang menyalip saya. Heran juga. Berarti mereka juga melanggar aturan. Selagi saya menyadari soal pelanggaran itu, di kejauhan terlihat mobil petugas berhenti di piggir jalan. Salah seorang mengangkat kamera. Membidikkannya ke arah saya. ”Ah, pasti kena tilang,” pikir saya. Saya turunkan kecepatan menjadi 100 kilometer per jam. Ternyata saya dibiarkan lewat.

Persoalan bagi saya muncul lagi ketika mendekati Kertosono, Jatim. Tanda bahan bakar berkedip-kedip. Ketika mau masuk tol saya tidak sempat mengisi BBM. Bahkan, ketika ada SPBU selepas pintu tol Surabaya, saya juga tidak mengisinya. Ternyata setelah itu tidak ada lagi SPBU. Ada dua buah, tetapi belum beroperasi. Terpaksa, di Ngawi saya keluar tol. Menuju jalur arteri arah Solo. Kira-kita membutuhkan waktu 10 menit. Pelajarannya, isi BBM penuh tangki sebelum masuk tol Surabaya-Semarang dan sebaliknya.

Usai mengisi bensin, saya coba injak pedal gas lebih dalam lagi. Speedometer menunjuk angka 130 dan RPM 3.500. Pada kecepatan ini pun masih ada beberapa kendaraan yang menyalip saya. Saya perhatikan ada Pajero, Fortuner, Innova, dan CR V. Di jalan tol itu, hanya sedikit sekali saya bertemu mobil sedan.

Pada kecepatan 130 kilometer itu, saya sempat disalip Fortuner. Posisi saya agak mendekati garis tengah. Demikian juga Fortuner itu. Perkiraan saya mobil itu berkecepatan 150 kilometer. Wush... Mobil yang saya tumpangi kaget. Terasa terangkat. Untung, sejak menaikkan kecepatan ke 110 sampai 130 kilometer per jam saya pegang erat kemudi. Tidak berani sekalipun melepas satu tangan. Mata tidak berkedip. Kaki terus pada posisi.

Setiap kali melewati jembatan kecil atau gorong-gorong, kewaspadaan saya tingkatkan. Jalannya tidak cor. Tetapi diaspal. Warnanya kelihatan jelas berbeda. Sering ketinggiannya tidak sama. Ada di beberapa titik yang terasa nggeronjal. Biasanya setiap melewati sambungan jalan cor itu, saya turunkan kecepatan hingga 110 kilometer. Itu pun masih terasa nggeronjal. Tetapi, pada kecepatan 100 kilometer kendaraan masih stabil.

Kewaspadaan ekstra harus saya tingkatkan ketika memasuki wilayah Jawa Tengah. Terutama setelah Ungaran. Pada jalan yang menurun, kecepatan naik dengan sendirinya meskipun pedal gas tidak ditambah tekanannya. Kalau tidak waspada bisa sangat fatal. Kecepatan saya sering naik dengan sendirinya sampai menyentuh angka 140. Ketika saya tahu itu mesti segera saya turunkan.

Akhirnya saya sampai pintu tol Banyumanik, Semarang, pukul 10.49. Lebih cepat kira-kira empat jam dibanding lewat  jalur nontol. Selanjutnya menuju Kudus. Rapat telah selesai. (hq@jawapos.co.id)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia