Minggu, 24 Mar 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Berharap Lebih Baik

02 Januari 2019, 22: 21: 40 WIB | editor : Ali Mustofa

Ihwan Sudrajat, Kepala Badan Pengelola Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Tengah

Ihwan Sudrajat, Kepala Badan Pengelola Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Tengah (DOK. PRIBADI)

RASANYA tahun baru 2018 baru kemarin dirayakan. Kini kita sudah ada di tahun baru 2019. Usia pun bertambah satu tahun lagi. Semoga kita makin matang dan makin dewasa. Bagi mereka yang sukses mencapai target 2018, langkahnya pasti lebih ringan saat memasuki tahun yang baru.

Sebagai Komisaris Utama BUMN PT KIW (Kawasan Industri Wijaya Kusuma) saya merasakan kesuksesan yang telah diraih PT KIW. Perusahaan yang dimiliki oleh pemerintah pusat sebagai pemegang saham pengendali, Pemerintah Provinsi Jateng dan Pemerintah Kabupaten Cilacap berhasil mengakhiri 2018 dengan baik.

Satu persatu direksi perusahaan saya jabat tangannya dengan erat. Termasuk Anton, anggota dewan komisaris. Sore itu (28/12), seperti biasa kami lakukan. Saya memimpin rapat bulanan dewan komisaris dengan direksi, sekaligus mengevaluasi hasil akhir tahun 2018. Rapat cukup singkat. Direksi melaporkan bahwa perusahaan berhasil menutup target laba tahun 2018 dengan angka 100,15 persen.

Sejak awal tahun saya sudah meminta direksi untuk bekerja keras mencapai target. Pertengahan Desember lalu, direksi belum berani memastikan. Sudah tiga tahun, realisasi laba tidak pernah mencapai 100 persen target.

Saya masih ingat, 10 tahun lalu saat Gubernur Bibit Waluyo menugaskan saya menjadi komisaris utama PT KIW. Tugas ini sungguh berat, karena kinerja perusahaan saat itu buruk. Dapat mencapai titik impas sudah prestasi. Setiap selesai memimpin rapat, saya selalu menanyakan ketersediaan dana untuk mendukung operasional perusahaan. ”Masih cukup hingga bulan depan, Pak Komut,” kata Toni, direktur Keuangan PT KIW saat itu.

Awal yang Sulit

Tahun pertama sebagai komisaris utama (komut) kondisi keuangan perusahaan memprihatinkan. Perhatian PSP hampir tak ada. Bahkan, setoran modal selama 10 tahun menjadi komut, tak pernah dilakukan. Perusahaan harus berjuang keras mengatasi kebutuhan modal. Tidak ada bank yang mendekat dan berminat membiayai investasi perusahaan. Untunglah, pada tahun kedua saya bisa meyakinkan Gubernur Bibit Waluyo untuk menyetujui setoran modal Rp 6 miliar, sehingga perusahaan dapat memamerkan lahan yang siap dijual.

Kekayaan perusahaan hanya beberapa hektare lahan rawa yang membutuhkan dana besar, sehingga siap dijual. Juga luasan eksisting yang sudah dihuni investor. PT KIW mengantongi izin pengembangan kawasan hingga 250 hektare. Masih ada sekitar 150 hektare lahan yang harus dibebaskan. Setoran modal Rp 6 miliar sangat membantu perusahaan untuk menyediakan lahan matang seluas 4 hektare, menjadi awal kebangkitan perusahaan.

Dua tahun pertama (2009-2010) adalah cobaan berat yang harus dihadapi direksi baru. Beruntung saya mempunyai direksi yang penuh talenta dan semangat serta sangat komunikatif dengan komutnya. Hanya ada tiga modal kami untuk membuat perusahaan bangkit dan berkembang. Yaitu semangat membesarkan, bekerja sepenuhnya untuk perusahaan, dan menanamkan mimpi-mimpi kepada seluruh pekerja perusahaan.

 Mimpi Besar

Ada dua mimpi besar yang ingin diwujudkan dewan komisaris dan direksi. Yaitu meningkatkan pendapatan tetap dan meningkatkan kepercayaan industri perbankan kepada perusahaan. Kami harus berusaha keras agar seluruh biaya operasional perusahaan bisa dicukupi dari pendapatan tetap. Bukan hasil penjualan tanah.

Untuk itu, setiap tahun ditargetkan bisa dibangun 10 ribu meter persegi gudang setara pabrik untuk disewakan. Juga mengembangkan pabrik air bersih dengan kapasitas per detik yang jauh lebih besar, sehingga seluruh perusahaan yang beroperasi di kawasan PT KIW bisa terpenuhi kebutuhannya. Menyelesaikan utang yang masih tersisa adalah langkah strategis yang harus segera diselesaikan untuk meningkatkan kepercayaan perbankan. Saya meminta direksi untuk menggunakan pembiayaan bank dalam mengembangkan investasinya, agar efisiensi dan efektivitas investasi meningkat.

Pada 2015, PT KIW mendapat predikat BUMN infrastruktur terbaik se-Indonesia dari majalah Info Bank. Jayadi, direktur utama (2008-2018) juga mendapat predikat direktur utama terbaik.

Saya kira wajar dan sudah seharusnya ia mendapat predikat tersebut. Beberapa langkah terobosan telah dilakukan olehnya, terutama menerapkan good corporate governance tanpa kecuali. Untuk keputusan-keputusan yang bersinggungan dengan resiko hukum, selalu ia mintakan rekomendasi dewan komisaris. Di sini saya diuji sebagai wakil pemegang saham. Perlu keberanian besar, terutama jika mengingat risikonya dalam memberikan dukungan terhadap direksi. Hal ini beberapa kali terjadi dan selama itu, dukungan dewan komisaris kepada direksi sangat kuat. Bahkan tidak jarang kami mendorong direksi untuk mengambil opsi-opsi strategis yang relatif berisiko tentu dengan perhitungan yang matang.

Pada 2019, perusahaan mendapatkan laba kurang dari Rp 500 juta. Lima tahun kemudian, 2014 laba perusahaan mencapai Rp 43 miliar. Biaya operasional pun sejak 2015 sudah didukung oleh pendapatan tetap dengan rasio 1,2. Artinya masih ada laba bersih yang diperoleh perusahaan. Deviden PT KIW kepada para pemegang saham terus meningkat setiap tahun. Ibarat seorang gadis, PT KIW kini telah berganti rupa menjadi cantik dan seksi. Dulu tak ada perbankan yang mendekat. Sekarang banyak bank yang mendekat untuk membiayai investasi perusahaan.

Mei 2019, masa tugas saya sebagai komut PT KIW berakhir. Tentu saya bangga dengan kinerja PT KIW, saya berharap mereka tidak lupa dengan mimpi besarnya menjadi BUMN Kawasan Industri terbaik di Jateng. Dari mimpi itulah, PT KIW mampu beralih rupa. Penuh percaya diri. Bahkan, sekarang PT KIW sudah punya anak perusahaan yang siap bersinergi dengan siapa pun untuk mengembangkan kawasan industri baru di Jateng. Tentunya, langkah perusahaan akan makin lincah dalam mengembangkan diri dan berkompetisi dengan kawasan industri lain di Jateng.

Puas rasanya saya meninggalkan perusahaan ini. Apalagi direksi baru saat ini selalu optimistis. ”Tak ada masalah yang tidak ada solusinya,” kata Rachmadi Nugroho, dirut PT KIW yang baru sambil memeluk saya. Saya bangga dengannya karena ia pun tidak berbeda dengan Jayadi, dirut sebelumnya yang selalu terbuka dengan saya dan mempunyai mimpi yang sama, mewujudkan perusahaan terbaik.

Selamat tahun baru 2019, sematkan selalu harapan yang lebih baik untuk kita menapaki waktu demi waktu. (Dalam keheningan malam tahun baru 2019 di Bandung). (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia