Minggu, 17 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Jepara

Cuaca Ekstrem, Penyeberangan ke Karimunjawa Dihentikan

01 Januari 2019, 20: 53: 16 WIB | editor : Ali Mustofa

TINGGI: Ombak setinggi dua meter mengahantam penahan gelombang di TPI Ujungbatu kemarin. Nelayan tak melaut selama sepekan karena cuaca ekstrem.

TINGGI: Ombak setinggi dua meter mengahantam penahan gelombang di TPI Ujungbatu kemarin. Nelayan tak melaut selama sepekan karena cuaca ekstrem. (M. KHOIRUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

JEPARA  - Cuaca buruk di Perairan Jepara membuat pihak Syahbandar Jepara memilih tidak mengeluarkan surat persetujuan berlayar (SPB). Akibatnya, kapal penyeberangan yang biasa melayani rute Jepara-Karimunjawa maupun sebaliknya tak beroperasi sejak Minggu (30/12). Begitu juga dengan nelayan yang tak lagi bisa melaut.

Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Syahbandar Jepara Sutarto mengatakan, penerbitan larangan melaut mengacu kepada prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG. Pihaknya menyampaikan cuaca dan gelombang laut yang tinggi sejak dua hari terakhir tidak aman untuk pelayaran. Terutama untuk kapal penumpang dan kapal-kapal lain dengan freeboard kurang dari 2,5 meter.

Pada prakiraan cuaca, tinggi gelombang berkisar antara 1 hingga 2,5 meter dengan kecepatan angin 10-25 knot untuk perairan Jawa Tengah dan Karimunjawa. Tapi kenyataan di laut lepas tinggi gelombang mencapai 3 meter. ”Kami tidak menerbitkan SBP sampai dengan kondisi cuaca dan gelombang laut dinyatakan aman untuk melaut. Kami imbau untuk tidak berlayar tanpa SBP,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

(M. KHOIRUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Sutarto melanjutkan, karena itu sejak pukul 07.00 Minggu (30/12), pihaknya tidak menerbitkan SPB untuk kapal penumpang dan kapal-kapal lain dengan freeboard kurang dari 2,5 meter. Hal serupa juga dilakukan kemarin, pihak Syahbandar kembali tak mengeluarkan SPB.

Tidak dikuarkannya SBP ini, menyebabkan kapal penyeberangan KMP Siginjai dan KMC Express Bahari yang seharusnya bertolak dari Jepara menuju Karimunjawa terpaksa tertahan di dermaga Jepara. KMC Express Bahari menyeberangkan penumpang dari Karimunjawa ke Jepara pada pukul 08.00 Minggu (30/12). Seharusnya pada jadwal pemberangkatan dilakukan pada pukul 11.00. Karena mempertimbangkan peringatan cuaca buruk. Setelah itu, tidak ada lagi penyeberangan baik KMP Siginjai maupun KMC Express Bahari.

”Kondisi tak beroperasinya kapal penyeberangan itu akan berlangsung hingga cuaca dan gelombang laut dinyatakan aman untuk pelayaran,” tuturnya.

Dengan kondisi cuaca buruk ini pula, Sutarto menyampaikan, pihaknya juga mengimbau tidak melakukan pelayaran tanpa SPB dari Syahbandar. Surat resmi terkait hal tersebut sudah disampaikan ke pihak-pihak terkait. Di antaranya PT ASDP Jepara, PT Pelayaran Sakti Inti Makmur di Jepara hingga Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara.

Pantauan Jawa Pos Radar Kudus, tak ada satu pun kapal yang bersandar di Pelabuhan Jepara. Kapal yang didominasi dari luar Jepara itu sudah kembali ke tempat asal. Sedangkan nelayan Jepara menepikan kapalnya di Kaliwiso. Sudah sepekan sebelum adanya larangan berlayar, nelayan Jepara tidak lagi melaut. Di sekitar Tempat pelelangan Ikan Ujungbatu, ombak setinggi dua meter menghantam penahan ombak. Percikan air itu bahkan sampai ke area TPI di sisi paling barat. Beton yang biasa digunakan warga sebagai akses jalan pun tidak lagi dilalui. Selain ombak tinggi juga sebagian mengalami kerusakan tergerus ombak.

Sementara itu, salah satu nelayan yang memilih tidak melaut yakni Suhadi, 56, warga Kelurahan Ujungbatu Kecamatan Kota. Ia  terpaksa tak melaut karena cuaca yang tidak menentu dan sepinya tangkapan ikan. Untuk mengisi waktu luang ia memperbaiki jaring sembari menunggu cuaca membaik. “Sudah seminggu ini tidak melaut karena sepi,” katanya.

Di Kabupaten Rembang, aktivitas di kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPI) Tasikagung Rembang tampak lengang kemarin. Hal ini lantaran tidak ada aktivitas di TPI. Kondisi ini akibat cuaca buruk beberapa hari terakhir. Perusahaan pengolahan ikan juga memilih libur.

Para nelayan mengamankan perahu dan kapal mereka di Dermaga Tasikagung sebelah timur. Mereka memilih memperbaiki kapal dan jaring.

Komandan Pos Angkatan Laut Lettu Hartono kondisi ombak tinggi terjadi sejak Jumat (28/12). Nelayan diimbau tidak melaut. Surat sarana berlayar (SSB) juga tidak dikeluarkan.

”Kalau nelayan kecil tetap memaksa di laut. Kami ingatkan selalu membawa peralatan alat perlengkapan. Seperti pelampung,” pesannya.

Ia menjelaskan, pada siang hari gelombang air laut cukup tinggi. antara 1,5 sampai 2 meter. Jelang sampai sampai sore hari ombak bisa capai 3-4 meter.

Tentunya bagi semua kapal cukup berbahaya saat melaut. Kalaupun menebar jaring, kurang menguntungkan bagi nelayan. Makanya nelayan lebih memilih beristirahat sejenak. Sampai semuanya normal.

”Nelayan mulai Rembang sampai Sarang rata-rata mengikuti imbauan kami. Mereka mengikuti apa yang telah disampaikan sebelumnya,” paparnya.

(ks/war/noe/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia