Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Resolusi Bulat, 2019 Ganti Semangat

01 Januari 2019, 17: 57: 36 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

SELAMATAN yang satu ini oleh sebagian orang Jawa Tengah disebut kembul bujana. Nasi dan aneka lauk ditata di atas daun pisang. Memanjang tanpa pisah. Lauknya aneka macam. Ada sayur gudangan, ikan asin, ayam goreng, dan tempe. Makannya lesehan. Menyantapnya dengan tangan alias tanpa sendok. Itulah cara karyawan Radar Semarang selamatan menutup tahun 2018.

Begitu doa yang dipimpin KH Agus Syukron dari Pedurungan, Semarang, selesai, seluruh karyawan yang duduk berhadap-hadapan segera menyantap hidangan itu. Tidak ada perbedaan antara staf, manajer, dan direktur. Semua makan makanan yang sama dengan cara yang sama. Bahkan, kiai, penyanyi, dan tim musiknya, ikut berbaur menikmati sajian yang sama.

Dulu saya sering mengikuti selamatan seperti itu. Biasanya pada peringatan hari-hari besar Islam. Di masjid atau di langgar. Bagi saya dan sebagian penduduk desa waktu itu, selamatan itu pesta. Maklum, hidup serba kekurangan. Bisa makan enak hanya kalau ada selamatan atau kalau ada tetangga yang mengantar berkat.

Bagi karyawan Jawa Pos Radar Semarang, kembul bujana itu juga istimewa. Bukan karena tidak pernah makan enak. Tetapi, tidak pernah menjumpai lagi cara selamatan tradisional itu. Nilainya sangat tinggi. Rasa kebersamaannya kuat. Manajer Keuangan Radar Semarang Indah Fajarwati yang melahirkan ide itu kebanjiran acung jempol. Acara tutup tahun pun menjadi sangat bermakna.

“Kembul bujana tetap dipertahankan untuk kebersamaan dan kekompakan,” kata Arif Riyano, pemimpin redaksi Radar Semarang. “Kumpul bareng dapat makanan jasmani dan rohani. Insyaallah lebih maju lagi di tahun 2019,” tambah Miftakhul A’la, desainer koran yang istrinya hafal (hafidloh) Alquran. ‘’Tahun ini plong. Mengakhiri dengan optimisme guna menatap dan menghadapi tahun depan yang diprediksi masih sulit,’’ sambung Dinar Sasongko, wartawan di Salatiga.

Selamatan Kembul Bujana itu juga pernah dilakukan oleh Jawa Pos Radar Kudus. Yang punya ide juga manajer keuangan (Etty Muyassaroh). Radar Semarang mengambil inspirasi dari saudara mudanya itu. Mereka sama-sama ingin menempatkan kebersamaan dalam perusahaan sebagai kekuatan. Apalagi di tahun politik 2019 yang berpotensi menimbulkan keretakan hubungan antarorang.

Meski tidak dengan kembul bujana acara tutup tahun di Radar Kudus juga dilandasi kesederhanaan dan kebersamaan. Makan juga lesehan. Cukup dengan pecel Bu Sarni yang terkenal dengan cungornya itu. Diiringi musik religi dengan dua penyanyi. Yang penting tausiah KH Imam Fathoni beserta doa yang dipimpinnya. “Sing sopo wonge njaluk bakal entuk (siapa yang meminta/berdoa bakal mendapatkan,” katanya.

“Acara yang sangat baik untuk dilanjutkan. Sehingga, dapat terus terjaga motivasi dan zero mind proces anggota tim,’’ komentar ustad Amin, seorang hafidl (penghafal) Alquran yang ikut menghadiri acara di Radar Kudus. Komentar itu tidak disampaikan langsung ke saya, tetapi melalui temannya Linda yang menyanyi pada kesempatan itu.

Di Radar Semarang tausiah disampaikan KH Ali Syukron dari Pedurungan, Semarang. Materinya sederhana. Tetapi, penyampaiannya luar biasa. Kocak sekali. Satu jam nyaris tanpa tawa. Acara juga ditutup dengan hiburan lagu-lagu religi. Karyawan merasa terisi jasmani dan rohaninya. Inilah modal untuk menyongsong tahun 2019 yang dimulai hari ini.

Bagi saya acara doa bersama di Radar Kudus maupun Radar Semarang minggu lalu sudah cukup untuk menutup tahun 2018 dan menyambut tahun baru 2019. Saya pun memutuskan untuk tidak ikut dalam gegap-gempita menyambut tahun baru tadi malam. Toh acaranya begitu-begitu saja. Tidak lebih dari hura-hura.

Sebelumnya sempat terbesit niat untuk melihat aksi Semarang Bridge Fountain yang diresmikan Wali Kota Hendrar Prihadi persis di malam pergantian tahun. Menurut saya air mancur warna warni yang bisa menari-nari itu spektakuler. Tempatnya di jembatan banjir kanal barat, jalan Jendral Sudirman, Semarang.

Saya memilih menikmati pergantian tahun di rumah Sidoarjo, Jatim, ditemani kentang godog kesukaan saya, sambil bermuhasabah (introspeksi). Banyak pengalaman dan kenangan di tahun 2018. Banyak kenikmatan dan ujian. Banyak keberhasilan dan kegagalan. Banyak peristiwa yang menyenangkan. Banyak kejadian yang memilukan. Semua silih berganti. Pahala dan dosa berpadu.

Kita hanya bisa berdoa agar diteguhkan niat baik kita. Dimudahkan segala upaya kita. Dicukupi kebutuhan kita. Dijauhkan dari semua persoalan.

Mudah-mudahan semua itu menambah semangat untuk memasuki tahun baru. Yang dikatakan orang sebagai tahun politik. Yang oleh sebagian orang dianggap berat. Mari kita teguhkan tekad. Resolusi bulat, 2019 ganti semangat. (hq@jawapos.co.id)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia