Selasa, 25 Jun 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Menyerah Bukan Pemecahan Masalah

27 Desember 2018, 21: 30: 20 WIB | editor : Ali Mustofa

Ihwan Sudrajat, Kepala Badan Pengelola Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Tengah

Ihwan Sudrajat, Kepala Badan Pengelola Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Tengah (DOK. PRIBADI)

Share this      

ASHARI, kepala Unit Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Temanggung, selalu menghindar bertemu saya, setiap kali menghadiri rapat pengendalian. Saya sering mengingatkannya untuk memperbaiki kinerja pendapatan di unitnya yang belum mencapai target yang diharapkan. Suatu ketika saya mengunjungi kantornya tanpa memberi tahu sebelumnya. Ashari tampak kaget dan tidak siap bertemu.

Dalam setiap kunjungan ke lapangan, saya selalu mengumpulkan seluruh staf, menganalisis kinerja, membuka Tanya jawab dan memompa semangat mereka. Itu pula yang saya lakukan di Temanggung. Namun sebelum pertemuan dilakukan, Ashari meminta bicara berdua. Pada kesempatan itu, Ashari menyatakan tidak mampu memenuhi target yang dibebankan ke unitnya. Ia pun sudah siap jika dimutasi ke dinas atau badan lainnya. Terjawab sudah teka-teki selama ini, ternyata inilah alasannya Ashari selalu menghindar. Selama ini ia menyembunyikan rahasianya. Sehingga membuatnya tertekan. Sebelum saya menjadi atasannya, ia masih bisa mengatasi tekanan itu. Hal ini bisa terjadi karena dua hal. Tidak ada yang mengingatkan dan banyak temannya yang mempunyai kinerja tidak berbeda dengannya. Ashari sudah mengangkat bendera putih tanda ia menyerah.

Sesaat setelah dilantik sebagai Kepala Badan Pengelola Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo memberi saya waktu 6 bulan. Dengan dua target mencapai target APBD 2017 dan wajib pajak kendaraan bermotor (WPKB) dapat membayar di mana saja. “Siap Bapak” hanya itu jawaban saya. Karena pertama saya masih terkaget-kaget dengan jabatan tersebut. Kedua, tidak ada alasan saya menolak tantangan karena ketika terpilih berarti saya harus siap dengan segala konsekuensinya. Termasuk target pendapatan yang ditetapkan dalam APBD 2017.

“Apa papa mampu?” tanya isteri saya. Ternyata kecemasan besar melandanya. Ia takut saya terpaksa mengundurkan diri karena tidak mampu, padahal selama empat tahun ia merasakan beban sebagai pendamping staf ahli gubernur. Mungkin tidak terbayang jika kelak saya harus kembali terjun payung karena tidak mampu menjawab tantangan gubernur. Tujuh bulan kemudian, Juli 2017, saat dievaluasi Tim Panitia Seleksi Jabatan Tinggi Pratama, saya bisa bercerita cukup lancar tentang kinerja selama 6 bulan. Tidak terbayang beban saya jika dalam enam bulan tidak bisa menjawab tantangan gubernur.

Masuk Dalam Hatinya

Saya tidak marah dengan curhatan Ashari. Saya menerimanya dan mencoba meyakinkannya. “Belum tentu orang yang menggantikan bisa sebaik kamu-loh mas,” jawab saya. Agak lama kami berdiskusi tentang tim work-nya yang lemah. Terbatasnya anggaran dan infrastruktur, dukungan bupati Temanggung yang kurang dibanding bupati lainnya dan upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mencapai target pendapatan. “Sampaikan kepada saya, apa yang harus saya lakukan agar target UPPD Temanggung bisa dicapai,” kata saya dengan nada bertanya. Ashari menjawabnya dengan tersenyum. Lalu menyalami saya dengan erat. Dilanjutkan salam komando. Menunjukkan bahwa ia siap menjalankan tugasnya.

Tidak banyak kata yang saya ucapkan. Tapi saya berhasil meyakinkan bahwa ia sanggup mengajak seluruh stafnya untuk mencapai target. Dengan sikap mencoba mengerti, ajakan menyatukan visi dalam bekerja dan menginternalisasikan komitmen, saya meyakini dapat mengisi ketidaknyamanan hatinya.

“Saya yakin Temanggung bisa lebih dari 105 persen pencapiannya,” ucap saya.

“Lebih pak Kaban,” jawab Ashari, yang duduk di sayap paling kanan saat rapat pengendalian kinerja menjelang berahirnya tahun 2018.

“Berapa pakAshari?” Tanya saya. “110 persen pak Kaban!” jawab Ashari mantap.

Saya pun mengacungkan jempol saya tanda apresiasi yang tinggi. Tidak terlihat lagi wajah pasrahnya. Kini Ashari tampil meyakinkan ketika saya justru agak ragu dengan hitungannya.

 

Keputusan Termudah

Saya teringat saat hendak kembali ke Semarang. Di teras depan Kantor UPPD Temanggung.  “Jika kita bekerja jangan sampai kita melempar handuk putih sebelum kita berusaha. Menyerah adalah keputusan yang termudah. Siapa pun bisa melakukannya terutama jika kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan” kata saya kepada Ashari dan staf-stafnya. Sebelum pamit kembali ke Semarang.

Kalimat itu sengaja saya sampaikan untuk meyakinkan bahwa usahanya masih perlu didorong.

Masih banyak di antara kita yang urung bertindak karena menghkawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Apalagi jika mempunyai masa lalu yang traumatik sehingga pikiran dan hati kita tersandera oleh masa lalu tersebut. Masa lalu jelas harus dibuang jauh-jauh. Keyakinan pada diri sendiri sangat penting jika kita ingin menjadi pemenang. Mencapai target mewujudkan mimpi-mimpi.

Venus Williams, petenis USA yang memenangkan emas olimpiade mengatakan bahwa kita harus yakin pada diri sendiri ketika orang lain tidak yakin kepada dirimu.

Keyakinan pada diri sendiri memang sangat penting dalam menghadapi persoalan ataupun keinginan mewujudkan mimpi-mimpi kita. Keyakinan ini akan tumbuh dengan sendirinya jika kita menguasai masalah yang dihadapi. Untuk itu, kita harus mau belajar dan mau mendengar sehingga kita dapat memahami persoalan secara komprehensif dan membangun formula yang lebih strategis dalam melangkah. Motivasi yang kuat untuk menyelesaikan misi dan mewujudkan visi menjadi bahan bakar yang sangat penting bagi kita untuk melangkah, lebih cepat, lebih jelas dan lebih tegas.

 

Kita Mampu Mengerjakannya

Jangan terlalu melihat kelemahan diri sehingga terlalu cepat menyimpulkan bahwa kita tidak mampu. Kita hanya bisa menyerah terhadap keadaan. Jangan pernah mengungkapkan kalimat “aku tidak bisa” atau “Seandainya aku bisa”.

Menurut Jack Canfield (JC) dalam bukunya The Sucess Principles mengatakan bahwa otak kita dirancang memecahkan masalah apa pun dan meraih tujuan apa pun yang kita inginkan. Setiap kata yang kita piker dan ucapkan menurut JC berpengaruh terhadap tubuh kita. Hal ini ditujukan JC, dengan tingkat laku balita. Hampir tidak ada rintangan yang bisa menghentikan balita untuk melakukan apa pun. Sepertinya tidak ada kata menyerah, selalu ingin mencoba. Namun semakin besar, rasa tak terkalahkan terhapus oleh kekerasan emosional dan fisik yang diterima dari keluarga, teman dan guru, sampai tidak lagi percaya bahwa kita bisa melakukannya.

Maka ketika kita sudah hampir menyerah, mari kita bangun kembali kepercayaan diri bahwa kita mampu mengerjakan dan mampu mewujudkannya. Sekalipun beberapa hari lagi anda akan pensiun dari tugas dan tanggung jawab. Maka, tanamkan dalam pikiran kita bahwa kita tetap harus menjadi orang yang bernilai, dengan meninggalkan warisan yang bernilai yaitu prestasi. (tulisan ini terinspirasi kata-kata Venus Wiliams). (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia