Rabu, 24 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Kalau Surabaya Bisa, Kenapa Semarang Tidak?

24 Desember 2018, 23: 45: 30 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

PAGI kemarin panitia Lomba Kampung Hebat Kota Semarang agak pesimistis. Ada kabar Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi harus menghadiri enam acara di hari libur long long week end. Panitia sudah menyiapkan plan B.

Saya santai saja. Pukul 05.00 sudah berangkat bersama instruktur senam dari kantor Radar Semarang di Jalan Veteran 55. Tiba di lokasi pukul 05.55. Suasana masih sepi. Tapi, saya yakin bapaknya wong Semarang Pak Hendi datang seperti road show pertama di Pedurungan Tengah, Kecamatan Pedurungan. Road show kedua kemarin dilaksanakan di Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu. Daerah yang nyaris berbatasan dengan Kendal.

Saya tahu isi otak dan hati orang nomor 1 di Kota Atlas itu. Di mana pun Hendi ingin menyatu dengan rakyatnya. Mengetahui kehidupannya. Berdialog dengan mereka. Menyelami hatinya. Menyentuh kesadarannya. Mengajak menata lingkungannya. Dan meningkatkan taraf hidupnya menjadi lebih baik.

Lomba Kampung Hebat yang digagas oleh Jawa Pos Radar Semarang dan diselenggarakan atas kerja sama dengan Pemkot Semarang adalah sarana untuk itu semua. Setiap bulan dilakukan road show ke salah satu kecamatan yang diwakili kelurahan. Acaranya sederhana. Senam pagi bersama, jalan sehat menyusuri kampung, dan pameran produk unggulan desa.

Saya surprised ketika pukul 06.15 Wakil Wali Kota Hevearita Gunaryanti Rahayu muncul di lokasi. Mbak Ita –panggilannya- kelihatan fresh meski sempat terserang flu ketika terjadi perubahan cuaca ekstrem belakangan ini. Baju dan kerudungnya yang merah menambah wajahnya bercahaya. ”Pak Wali datang kok,” ujar Mbak Ita yang mengatasi flunya dengan kerikan dan pijat.

Memang sempat deg-degan ketika ajudan mengabarkan Pak Wali agak terlambat. Apalagi setelah diikuti perintah agar jalan sehat diberangkatkan saja oleh Mbak Ita. Sedangkan Pak Wali akan menyusul. Mbak Ita sangat bijak. Dia memilih menunggu pasangannya. Tak lama kemudian Pak Wali betul-betul muncul dengan mobil putih. Itu sangat menambah keyakinan bahwa wali kota sangat concern membangun kota sampai ke jantungnya. Yaitu kampung.

Pak Hendi memiliki konsep sederhana untuk menjadikan kampung menjadi hebat. Dengan tiga hal. Yaitu jalannya bagus, saluran airnya lancar, dan tanamannya subur. ”Dalane wis apik opo urung? (Jalannya sudah bagus apa belum?),” tanyanya yang dijawab serentak oleh masyarakat, ”Sudah.”

Hendi membuktikan Jalan Mangkang Kulon yang dilewati jalan sehat sudah dibeton mulus. Jalan itu menuju pantai. Bukan hanya jalan utamanya, tetapi gang-gang di kampungnya juga. Itu memperlancar akses perekonomian.

Mengenai pembangunan jalan itu, saya teringat saran Bupati Pati Haryanto ketika suatu saat bertemu Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. ”Kepingin memuaskan masyarakat itu gampang. Bangun saja jalan. Kalau jalannya mulus, masyarakat sudah menyanjung-nyanjung,’’ katanya.

Hendi pun menyinggung jalan masuk Kota Semarang dari arah Kendal yang selama ini macet. Beberapa hari belakangan sudah lancar. Itu karena jalan tol Semarang – Batang – Pekalongan sudah dioperasikan. Saya membuktikannya. Tiga hari berturut-turut, Jumat – Minggu, saya melewati Jalan Raya Mangkang itu. Tidak ada kemacetan meskipun menjelang maghrib yang biasanya krodit.

Faktor kedua yang bisa menjadikan kampung hebat adalah saluran air. Kelihatannya kecil. Tapi, artinya sangat besar. Betapa Semarang berpuluh-puluh tahun terjebak banjir. Itu karena saluran pembuangannya yang tidak lancar. Melalui jalan sehat menyusuri kampung dia tahu persis kondisinya. Kemudian mengajak masyarakat menemukan solusinya.

Dia bangga bisa membebaskan Kota Semarang dari masalah klasik itu. Tentu masyarakat juga. Dengan selesainya pembangunan Sungai Banjir Kanal Barat, rendaman air di wilayah Semarang berkurang drastis. Apalagi setelah normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur nanti. Khusus di wilayah Tugu, menurut Pak Hendi, sebentar lagi dua sungai yang menjadi biang banjir, yakni Sungai Beringin dan Sungai Plumbon segera dinormalisasi. Menteri Pekerjaan Umum sudah oke. ”Kalau Surabaya bisa, kenapa Semarang tidak,’’ katanya membandingkan dengan Kota Surabaya yang dulu juga terendam banjir setiap musim hujan.

Satu faktor mendasar lain untuk membuat kampung hebat adalah penghijauan. Di samping bisa menyerap air, tanaman membuat kampung menjadi sejuk dan indah. Masyarakatnya merasa nyaman. Hidup menjadi bergairah. Mereka gampang diajak bekerja dan bergotong royong. Itulah yang kini juga digencarkan Hendi. Sebagian jalan di Semarang sudah kelihatan berseri, meskipun masih banyak yang harus dikerjakan lagi.

Kiranya tidak salah kalau saya ikut meyakinkan warga Semarang. Di tangan orang hebat seperti Pak Hendi, Semarang akan menjadi hebat. Ini menjadi inspirasi kota-kota lain di Jawa Tengah. (hq@jawapos.co.id)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia