alexametrics
Selasa, 11 May 2021
radarkudus
Home > Rembang
icon featured
Rembang

Regulasi Pembagian Air Embung Lodan Rawan Gesekan, Begini Alasannya

23 Desember 2018, 22: 24: 56 WIB | editor : Ali Mustofa

STABIL: Kondisi Embung Lodan, Rembang, belum lama ini. Pembagian air dibutuhkan kebijakan khusus.

STABIL: Kondisi Embung Lodan, Rembang, belum lama ini. Pembagian air dibutuhkan kebijakan khusus. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Share this      

REMBANG – Regulasi pembagian air di embung menjadi sorotan. Pasalnya selama ini air embung menjadi bahan baku utama PDAM maupun pengairan pertanian. Ini perlu diantisipasi agar tak menjadi konflik sosial.

Hal tersebut mengemuka saat digelar workshop Forum Komunikasi Pelanggan (FKP) PDAM Tingkat Regional Jateng, di aula Teras Kota Rembang, dua hari kemarin (21-22/12). Bicara kota Rembang selama ini regulasi pembagian air belum ada. Makanya butuh sebuah kebijakan khusus dari pemerintah.

Hal ini sangat penting, supaya tidak terjadi gesekan-gesekan. Utamanya antara PDAM dengan pihak-pihak lain. Karena secara prinsip kebutuhan air pelanggan tersebut, notabene peruntukannya bagi masyarakat.

Baca juga: Polisi Bekuk Komplotan Curanmor Lintas Provinsi, 1 Pelaku Masih Buron

Sebagai gambaran embung Lodan beberapa waktu lalu. Pada 2018 dibuka untuk pengairan sawah sampai lima kali. Sehingga air yang keluar dari embung cukup banyak dan kurang terkendali.

Anggota FKP PDAM Rembang, Yunani menginginkan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan setempat dapat menjembatani penggunaan embung. Misalnya mengatur sistem pola tanam padi maupun palawija.

”Kami ingin ada pengaturan pola tanam padi maupun palawija. Misalnya saat memasuki pola tanam palawija embung tidak perlu dibuka. Sehingga kecukupan air baku betul-betul terjaga,” usulannya.

   Selain itu ia menginginkan FKP diperkuat kelembagaannya. Jadi fungsinya tidak hanya mediator pelanggan dan PDAM. Namun berfungsi advokasi penyadaran atau edukasi kepada pelanggan terkait pentingnya air baku.

”Kebetulan sumber air baku di Rembang tadah hujan (embung). Ketika musim kemarau pasokan airnya berkurang. Untuk antisipasi ke depan dapat melakukan pembendungan sungai,” katanya.

Karena diakui tahun curah hujan di Rembang rendah, sehingga mengurangi sumber air baku PDAM. Namun demikian PDAM melakukan sejumlah upaya dengan membeli air untuk dialirkan pelanggan.

Terpisah, Direktur PDAM Rembang M Affan menyampaikan, sehubungan dengan penguatan kelembagaan, maka digelar worshop FKP tingkat Regional Jateng. Pelaksanaannya selama dua hari Jumat dan Sabtu (21-22/12) di hotel Antika Rembang.

”Sehubungan penguataan kelembagaan kami hadirkan tenaga ahli dari Iuwas Plus untuk memberikan pendampingan FKP,” jelasnya.

Pemateri dari Senior Associate Behaviour Change Iuwash Plus, Edi Trianto. Dengan  materi peran pelanggan yang diwadahi FKP untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan.

”Iuwash Plus dulu pernah disewa Kementerian Pekerjaan Umum. Sekaligus peran tenaga ahli ini melakukan pendampingan PDAM di seluruh Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Ketua FKP Banyu Bening, Ngargono didampingi Wakil Ketua sekaligus Ketua FKP PDAM Rembang Sutono menyampaikan workshop digelar setiap enam bulan, untuk sharing peningkatan kerja FKP.

”Kami kawal tiga pilar utama pelayanan PDAM, utamanya kualitas, kuantitas dan kontinuitas,” imbuhnya.

(ks/noe/him/top/JPR)

 TOP