Kamis, 27 Jun 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Pesan Alam Semarang untuk Wakil Rakyat

17 Desember 2018, 21: 01: 15 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

KETIKA suatu hari Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi meninjau lokasi banjir di Kaligawe, rasanya saya ingin meloncat. Mau lari mengikuti kunjungan tersebut. Ingin menyaksikan kondisi-kondisi yang dilihat Pak Wali. Ingin juga mendengar langsung apa yang diinstruksikan.

Saya memang tidak tinggal di sana. Tidak juga setiap hari melewati daerah banjir klasik di wilayah Semarang itu. Tapi, ikut menderita. Apalagi mereka yang bermukim di daerah itu. Sopir-sopir yang setiap hari melewati Kaligawe. Para pengusaha yang barangnya terlambat tiba di tujuan karena kemacetan.

Sudah hampir sepuluh bulan saya bolak-balok Kudus – Semarang. Mengurus Jawa Pos Radar Kudus dan Radar Semarang.  Kadang-kadang berturut-turut dalam beberapa hari. Kadang-kadang selang-seling. Dalam keadaan normal tidak persoalan. Jaraknya hanya 50 kilometer. Bagi sebagian orang yang bekerja di Jakarta, jarak 50 kilometer dari rumah ke tempat kerja itu biasa.

Sejak hujan menghajar Semarang dan sekitarnya belakangan ini, pekerjaan menjadi amat berat. Lewat jalan Kaligawe genangan air cukup tinggi. Macetnya juga parah. Lewat jalan alternatif lamanya bukan main. Para sopir pasti mengeluh. Apalagi sopir angkutan. Jumlah mereka jutaan. Tapi, mungkin bosan mengungkapkannya. Toh dari hari-hari tak ada perubahan.

Tanggal 9 April 2018 saya sudah menulis kondisi jalan nasional lintas Pantura itu. Ketika itu masih musim penghujan. Banjir. Rob. Macet. Saya berharap para calon gubernur waktu itu mengangkat persoalan sebagai bahan kampanye. Setelah berkuasa kemudian mengatasinya.

Saat itu sudah ada pekerjaan peninggian jalan. Tapi lambat. Bahkan ketika sudah memasuki musim kemarau tidak juga digaspol. Sampai sekarang, menjelang tutup tahun anggaran, pekerjaan belum selesai. Kemungkinan besar sampai musim hujan kali ini selesai, peninggian jalan Kaligawe juga belum kelar.

Masalah banjir di sekitar Kaligawe itu kompleks. Kalau musim peghujan seperti ini, air dari langit menyatu dengan meluapnya laut. Pak Wali Kota sudah berusaha keras. Begitu hujan badai menghajar Semarang dan sekitarnya beberapa waktu lalu, beliau langsung ke lokasi. Dia instruksikan delapan pompa dioperasikan. Genangan memang berkurang. Tapi tidak bisa hilang. Masalahnya tidak sesederhana itu.

Sudah banyak ide untuk mengatasi masalah tersebut. Cara sederhana adalah meninggikan jalan-jalan nasional. Normalisasi saluran dan pengerahan pompa. Tentu harus diikuti pembangunan sabuk laut juga untuk menahan rob. Cara lain, membangun jalan layang untuk mengatasi kemacetan. Juga membangun waduk di sekitar lokasi.

Apapun cara itu, jangan sekedar wacana. Masyarakat sudah terlalu terbiasa mendengarnya. Yang diperlukan adalah aksi. Bukan janji. Sudah terlalu banyak orang menderita.

Saya yakin Pak Gubernur Ganjar Pranowo juga prihatin. Berpikir dan berusaha keras juga. Tapi, belum berhasil juga. Masalahnya bukan lokal. Bukan pula regional. Ini sudah masalah nasional. Butuh sinergi semua pihak. Dari lurah sampai penguasa negeri ini.

Calon-calon wakil rakyat masa depan yang sekarang sudah memasarkan dirinya harus bisa menangkap persoalan ini. Jangan hanya menggelontorkan uang untuk kemenangan dirinya. Tetapi harus menjual konsep mengatasi persoalan nasional di Kota Semarang itu. Kalau perlu, siapkan penggelontoran biaya tak terbatas. Anggaplah sebagai upaya mengatasi bencana alam yang darurat. Dan, memang banjir dan rob di Semarang utara dan timur itu bencana alam. (hq@jawapos.co.id)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia