Selasa, 18 Dec 2018
radarkudus
icon featured
Features
Risa Wijayanti, Peraih Emas di PON 2016

Pernah Salah Arah Akibat Tak Konsen

11 November 2018, 16: 59: 27 WIB | editor : Ali Mustofa

Risa Wijayanti

Risa Wijayanti (VEGA MA’ARIJIL ULA / RADAR KUDUS)

Pelari Risa Wijayanti kerap menaiki podium juara di berbagai ajang. Perempuan yang pernah juara PON 2016 lalu ini telah tercatat memenangi sejumlah even lari dan jalan cepat di berbagai daerah.

 VEGA MA’ARIJIL ULA, Kudus

DI jumpai di sebuah apotek di daerah Jepang, Kudus, perempuan berhijab ini menyambut dengan baik kedatangan wartawan Jawa Pos Radar Kudus. Dia juga mempersilakan duduk dengan begitu ramah sembari menyajikan hidangan.

Bagi pecinta olahraga lari, nama Risa Wijayanti tentu sudah banyak dikenal. Terutama untuk daerah Kudus. Perempuan kelahiran kota Lumpia ini telah memulai olahraga lari sejak duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar (SD), meski saat itu masih sebatas latihan-latihan saja. Saat  kelas V SD baru mulai mencoba 10K. “Nilai lari dari SD hingga bangku kuliah selalu mendapat nilai bagus,” terangnya.

Olahraga lari mulai ditekuninya sejak SMP hingga SMA dengan masuk ke PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar) Salatiga. Menginjak kuliah, dia meneruskan ke PPLM (Pusat Pendidikan dan Latihan Mahasiswa di Universitas Negeri Semarang.

Perempuan yang tinggal di RT 6 RW 04, Desa Gulang, Mejobo, Kudus, ini mengatakan, ada banyak manfaat yang didapat dari lari. Seperti kesehatan, tubuh dan pikiran bisa fresh, dan jika berprestasi bisa mendapat hadiah dan diangkat PNS.

“Walaupun untuk pemerintah daerah belum ada kontribusi untuk atlet yang mendapatkan medali di PON,”imbuhnya.

Risa memilih lari karena evennya sudah menjamur. “Ada motivasi ingin ikut terus, dan sering berprestasi naik podium sehingga ingin coba terus,” ungkapnya. Lomba lari juga membawanya ke hal-hal unik. Misalnya saat di Maybank Bali Marathon 2018 lalu. Saat itu Risa salah rute karena kurang konsentrasi melihat penunjuk arah.

“Saya seharusnya ikut rute Half Marathon, tapi karena kurang fokus gara-gara ada leak di sepanjang  jalan, jadinya malah masuk rute Full Marathon,” imbuhnya.

Hal unik lainnya yaitu saat mengikuti even lari di Gunung Krakal Jogjakarta sering terpleset karena trial run di gunung begitu licin. Di luar lomba lari, Risa juga pernah ikut jalan cepat yang terdapat juga hal unik di dalamnya. Adalah nomor dada dan durasi waktu tempuh bisa sama. ”Nomor dada saya 147 dan waktu tempuh saya 1 jam 47 menit,” terang ibu satu anak ini.

Risa juga sering mengikuti lomba lari, diantaranya ISOPLUS Jogja kategori 10K (juara II), Maybank Bali Marathon 2018 kategori 21K (tidak juara), Pangandaran Beach Run kategori 21K (juara II), ISOPLUS City Run Surabaya 2018 kategori 21K (juara II), Cleo Smart Run 2018 kategori 21K (juara I), Makassar Marathon 21K (juara II), Diponegoro run HUT TNI kategori 10K (peringkat 9), SMADA Fireflies Run 2018 kategori 5K (juara I), SMADA Fireflies Run 2017 kategori 5K (juara II).

Di luar lomba lari, Risa pernah meraih juara I nomor jalan cepat 20K. Dia juga mengikuti even Porprov 2018 pada 23 Oktober 2018 lalu untuk nomor jalan cepat 10K dan Master PAMI (Persatuan Atletik Master Indonesia) pada tanggal 28 Oktober 2018 dan berlanjut ke TNI Marathon di Lombok pada tanggal 4 November 2018 kategori 21K.

Meski sering meraih juara, Risa juga pernah mengalami kesulitan saat berlari, yakni saat mengikuti lomba lari kategori 10K di Salatiga pada tahun 2017. Saat itu medannya naik turun, ditambah lagi rival yang berhasil keluar sebagai juara I merupakan pelari nasional dan sering ikut lari.

 Dia juga mengatakan, akan terus berolahraga lari dan belum memikirkan untuk berhenti. “Kalau prestasi menjadi atlet mungkin memang ada batasan, tapi kalau lomba-lomba lari ya belum ada keinginan berhenti,” ujarnya.

Ia juga berharap agar pemerintah Pemda Kudus yang baru ini dapat memberikan pekerjaan yang lebih baik untuk atlet-atlet berprestasi seperti dirinya yang telah berhasil meraih emas PON 2016 dalam olahraga jalan cepat.  Bukan tanpa alasan, karena mantan atlet seperti dirinya yang sudah berusia 36 tentu sudah tidak dapat mendaftar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Sebagai penutup wawancara pagi itu, dia berpesan kepada generasi muda agar rajin berolahraga baik secara individu atau gabung dengan komunitas runner.

(ks/him/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia