Senin, 17 Dec 2018
radarkudus
icon featured
Cuitan
Catatan Umrah Direktur Radar Kudus (9)

Mencium Butuh Perjuangan, Meninggalkan pun Berat

10 November 2018, 07: 56: 43 WIB | editor : Ali Mustofa

Mencium Butuh Perjuangan, Meninggalkan pun Berat

MASUK Hijir Ismail dan mencium Hajar Aswad itu tidak wajib. Malah tidak ada kaitannya dengan umrah. Tetapi nyaris seluruh jamaah menginginkannya. Saya beruntung. Bisa melakukan keduanya. Padahal tidak terlalu berharap. Desak-desakannya membutuhkan tenaga ekstra.

Berdoa di Hijir Ismail (satu tempat sempit di samping Kakbah yang dibatasi dinding setengah lingkaran setinggi dada) saja sudah suatu keberuntungan. Tempat yang hanya tiga meter itu, diperebutkan oleh ratusan ribu orang. Pintu masuknya sekitar semeter. Askar yang menjaga kedua pintu tak berkutik. Mesti dibiarkan orang berdesak-desakan. Yang penting tidak terjadi korban.

Saya bisa masuk ke Hijir Ismail sekaligus bisa mencium Hajar Aswad dalam satu kesempatan. Saat itu subuh. Saya berangkat ke masjid sendirian. Sudah agak terlambat. Azan pertama sudah berkumandang. Pelataran Kakbah sudah penuh. Saya menyelinap sedikit demi sedikit. Akhirnya mendapat tempat di pelataran itu juga.

KING BAEHAQI: Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang Baehaqi mengenakan pakaian ala raja Arab di Museum Al Amoudi.

KING BAEHAQI: Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang Baehaqi mengenakan pakaian ala raja Arab di Museum Al Amoudi. (BAEHAQI/RADAR KUDUS)

Selesai salat saya tawaf. Tidak ada niat masuk Hijir Ismail. Apalagi mencium Kakbah. Tawaf itu pun saya lakukan dengan santai. Kebetulan saya berjubah pemberian teman-teman Radar Kudus. Pada putaran kedua baru terbesit keinginan masuk Hijir Ismail. Saya mendekat. Berdesak-desakannya luar biasa. Saya mencoba. Dengan menggeser-geserkan tubuh yang kecil di sela-sela orang-orang yang berdesak-desakan.

Dengan kebesaran Allah ternyata berhasil. Tidak menunggu lama bisa langsung menyentuh dinding Kakbah. Bahkan, atas dorongan orang dari belakang secara tidak sengaja seluruh tubuh bagian depan bisa menempel ke dinding Kakbah. Suatu kebetulan. Di situlah saya berdoa berlama-lama. Sampai kehabisan doa. Perkiraan saya sekitar 20 menit. ”Ya Allah, panggilah semua keluarga dan teman-teman saya menghadap-MU seperti saya sekarang ini.”

Dari Hijir Ismail saya mlipir (bahasa Inggrisnya: walk slowly on the edge (side) of the road) ke Hajar Aswad. Ini spekulasi. Sedikit demi sedikit agak mepet dinding Kakbah. Begitu mendekati Hajar Aswad, perjuangan menjadi luar biasa berat. Dorongan dari seluruh penjuru mata angin. Sebelum bisa menyentuhnya nyaris kehabisan tenaga. Perut dan dada terasa sakit. Hanya bisa bertahan. Ikut ke manapun dorongan orang.

Tuhan Maha Kuasa. Sisa tenaga saya kerahkan. ”Allahu akbar,’’ saya berteriak keras. Akhirnya tangan kiri saya bisa menyentuh plat Hajar Aswad (belum Hajar Aswad-nya). Hati saya sudah senang. Apalagi setelah itu bisa menggapai ujung kiswah yang seperti ada tali tampar besarnya. Cukup lama. Sekitar 15 menit. Sayang lepas lagi.

Lagi-lagi Tuhan Maha Kuasa. Kepala saya sorong-sorongkan ke arah Hajar Aswad. Dan, Alhamdulillah. Berkat dorongan dari belakang akhirnya blung, kepala masuk ke lubang Hajar Aswad. Tenaga yang sudah habis membuat saya lupa doa yang harus saya ucapkan. Saya hanya membaca subhanallah, Allahu akbar, la haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim (maha suci Allah, maha besar Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali pertolongan Allah). Berulang-ulang.

Beberapa menit saya mencium Hajar Aswad itu. Baunya tetap harum. Padahal sudah dicium, bahkan dijilati oleh ratusan ribu orang dengan keringat yang macam-macam. Banyak orang menarik kepala saya. Baju saya. Bahkan rambut saya. Tapi dorongan ke arah Hajar Aswad lebih hebat. Jadinya kepala saya malah tidak bisa keluar. Rasanya saya mau kehabisan nafas.

Begitu kepala bisa keluar, masalah belum selesai. Perjuangan untuk keluar justru lebih berat. Saya harus mengerahkan tenaga berlawanan dengan orang-orang yang berdesak-desakan. Berkali-kali saya berteriak ”Allahu akbar”. Bahkan help… help... Tak ada yang menolong. Semua mengerahkan tenaga untuk kepentingannya.

Dengan nafas yang terengah-engah dan tenaga yang habis saya bisa keluar. Pundak bagian kanan terasa seperti keseleo. Saya biarkan sambil berjalan ke arah zam-zam. ”Allahumma Inni as’aluka ilman nafi’a warizqon wasi’a wasyifa’an min kulli da’in wasaqomin (Ya Allah, aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizqi yang luas, dan kesembuhan dari segala sakit dan penyakit),” doa saya ketika meminum air zam-zam yang disediakan di segala penjuru Masjidil Haram.

Sedikit demi sedikit sakit pundak saya mereda. Setelah tenaga terkumpul lagi, saya lanjutkan tawaf. Sampai tujuh putaran tidak ada masalah. Sebelum pulang saya cek seluruh barang yang menempel di badan. Dua cincin masih ada. Tiga gelang di kiri dan dua di kanan juga masih lengkap. Tas kecil saya yang sudah ketarik-tarik orang ke sana-kemari utuh. Isinya tidak berkurang. HP dan kacamata tidak hilang.

Keberuntungan berdoa di Hijir Ismail dan mencium Hajar Aswad itu berlanjut siang. Selagi tenaga belum pulih benar saya melaksanakan umrah ketiga. Mengambil miqot Hudaibiyah. Di perjalanan mampir di Musem Al Amoudi dan melihat peternakan unta. Balik ke Makkah melaksanakan umrah persis tengah hari.

Alhamdulillah semua lancar. Umrah tiga kali dan berdoa di tempat-tempat yang orang lain belum tentu bisa melaksanakan. (hq@jawapos.co.id)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia