Selasa, 18 Dec 2018
radarkudus
icon featured
Jepara

Gandeng ODHA, DKK Jepara Turun Langsung ke Masyarakat

09 November 2018, 18: 32: 34 WIB | editor : Ali Mustofa

BERI PEMAHAMAN: Salah satu ODHA di Jepara, Rr, menyampaikan pengalamannya dalam kegiatan pembentukan Warga Peduli AIDS di Desa Rajekwesi, Kecamatan Mayong, kemarin.

BERI PEMAHAMAN: Salah satu ODHA di Jepara, Rr, menyampaikan pengalamannya dalam kegiatan pembentukan Warga Peduli AIDS di Desa Rajekwesi, Kecamatan Mayong, kemarin. (FEMI NOVIYANTI/RADAR KUDUS)

KOTA – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara terus berupaya melakukan sosialisasi penanganan dan pencegahan penyakit HIV/AIDS di Kota Ukir. Salah satu langkah yang dilakukan, turun langsung ke masyarakat dengan melibatkan orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Hal ini sebagaimana terlihat dalam sosialisasi dan pembentukan Warga Peduli AIDS (WPA) di Desa Rajekwesi, Kecamatan Mayong, siang kemarin. Setelah menyampaikan materi terkait HIV/AIDS, tim dari DKK Jepara meminta beberapa peserta untuk maju ke depan. Setelahnya dihadirkan beberapa ODHA untuk bergabung dan bersalaman dengan para peserta. Di mana sebelumnya para peserta tidak mengetahui jika orang yang diajak bersalaman tersebut merupakan ODHA.

Tim dari DKK kemudian bertanya kepada para peserta apakah mereka sebelumnya pernah bersalaman dan berkomunikasi dengan ODHA. Hampir semua menjawab tidak pernah. Kemudian tim menyatakan jika semua peserta yang berdiri di depan baru saja berinteraksi langsung dengan para ODHA.

Mengetahui informasi tersebut, para peserta sosialisasi tampak kaget. Beberapa di antaranya bahkan langsung mengibaskan tangan. Ada pula yang mengusap-usap tangannya.

Reaksi itu, dikatakan tim dari DKK wajar. Tim dari DKK kemudian memberikan testimoni secara langsung bagaimana mereka bisa tertular dan bagaimana pengobatan sampai akhirnya mereka bisa kembali sehat dan beraktivitas normal.

Salah satu ODHA di Jepara, Rr, mengatakan, dia terkena virus HIV sejak 2000 lalu. Itu dia tertular melalui aktivitasnya menggunakan narkoba suntik saat berada di Jakarta. ”Teman-teman saya meninggal. Bersyukur saya masih diberi kesempatan untuk hidup," katanya.

Dia menjalani pengobatan rutin. Dia juga bergabung dengan komunitas Kelompok Dukungan Sebaya. ”Saat ini saya sudah menikah dan istri saya negatif alias tidak tertular," tuturnya.

Sampai 2010 lalu, dia masih tertutup dengan kondisinya dan tidak mau banyak tampil di forum selain komunitas. Namun, dia kemudian tergerak untuk tampil dan turun dalam penyuluhan-penyuluhan HIV/AIDS. ”Saya tergerak untuk turut memotivasi para pasien baru. Ingin bermanfaat bagi mereka dan memotivasi mereka agar punya semangat untuk sembuh," ujarnya.

Sementara itu, tim dari bidang P2P DKK Jepara Nur Rahmad, mengatakan, melalui sosialisasi tersebut, pihaknya tak hanya ingin masyarakat mengetahui seluk-beluk HIV/AIDS, tetapi juga ingin meminimalisasi stigma negatif dan diskriminasi terhadap ODHA.

Di akhir kegiatan sosialisasi, langsung dilakukan pembentukan WPA untuk selanjutnya menjadi kader di tingkat desa yang akan aktif mensosialisasikan terkait HIV AIDS di desa tersebut. ”Ke depan juga akan ada banyak kegiatan tindak lanjut. Mulai dari VCT mobile dan lainnya," imbuhnya.

Saat ini program pembentukan WPA di Kabupaten Jepara terus berjalan. Selama 2018 ditargetkan ada 50 persen desa di Jepara sudah terbentuk WPA. Sisanya akan dilakukan pada 2019 mendatang.

(ks/emy/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia