Sabtu, 17 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Features
Tim MAN 1 Kudus Raih Juara I Lomba Robotik

Ciptakan Robot Pendeteksi Suhu, Getaran, hingga Karbon Monoksida

Kamis, 08 Nov 2018 18:46 | editor : Ali Mustofa

JUARA I: Tim Robotik MAN 1 Kudus Azzalira Alayya Zahwa (dua dari kiri) dan Alfi Fatimatuz Zahro (dua dari kanan) bersama pembina foto bersama usai menerima penghargaan juara I Lomba Robotik Madrasah tingkat nasional di Depok (4/11) lalu.

JUARA I: Tim Robotik MAN 1 Kudus Azzalira Alayya Zahwa (dua dari kiri) dan Alfi Fatimatuz Zahro (dua dari kanan) bersama pembina foto bersama usai menerima penghargaan juara I Lomba Robotik Madrasah tingkat nasional di Depok (4/11) lalu. (MAN 1 KUDUS FOR RADAR KUDUS)

Kerap terjadi bencana gempa di Indonesia, menarik perhatian Azzalira Alayya Zahwa dan Alfi Fatimatuz Zahro. Dia membuat robot pendeteksi dini bencana. Berkat karya itu, mereka berhasil memperoleh juara I lomba robotik tingkat nasional.

FARUQ HIDAYAT, Kudus

SIAPA sangka dua siswi MAN 1 Kudus mampu mewujudkan angan-angan mereka membuat robot pendeteksi dini bencana. Karya ini kemudian diikutkan dalam lomba Robotic Competition 2018 di Depok Town Square (Detos) pada 3-4 November lalu.

Kedua siswa itu, Azzalira Alayya Zahwa dan Alfi Fatimatuz Zahro. Mereka akrab disapa Ayya dan Alfi. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus berkesempatan berbincang dengan meraka di sekolahnya kemarin.

Dia siswi kelas X jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) itu, menceritakan liku-liku dalam menciptakan robot yang diberi nama Robot Mosugemo. Nama itu kepanjangan dari monitoring suhu, getaran, dan karbon monoksida.

Ayya menjelaskan, karyanya itu bisa terealisasi berkat adanya kelas program science and innovation program di sekolahnya. Kelas itu, menjadi wadah mereka untuk bereksperimen. Robot yang dibuat berbentuk persegi panjang.

Dengan diameter panjang 18 cm, lebar 11 cm, dan tinggi 6 cm. Di ujung belakang terdapat miniatur gunung meletus mengeluarkan lahar yang mengalir sampai ke hulu. Ditambah dengan background asap tebal.

Sehingga terlihat layaknya gunung meletus. Ayya yang didampingi Alfi mengaku, ide awal membuat robot tersebut, karena tertarik dengan bencana gempa bumi yang kerap terjadi di Indonesia.

Bermula dari itu, robot Mosugemo tercipta. ”Mulanya hanya ingin membuat robot untuk monitoring gempa. Tapi, setelah konsultasi dengan guru pembimbing (Arif Noor Adiyanto, Red) robot itu ditambah bisa untuk mendeteksi suhu dan karbon monoksida," ujarnya.

Menurutnya, penambahan dua sensor itu dinilai bagus. Karena bila difungsikan alat tidak hanya bisa sebagai deteksi dini gunung meletus. Karena ditambah jika ada suhu dan karbon monoksida yang tidak normal bisa terbaca.

Apalagi di Indonesia masih banyak gunung yang aktif. Ayya menerangkan, robot itu diciptakan selama lima hari, 11-15 Oktober. ”Kami buat di sekolah. Pulang dari sekolah hingga maghrib," ujarnya.

Bahkan, mereka sempat kebingungan ketika melakukan pemrograman arduino uno R3 dan mencari bahan rancangan robot. Mereka mengalami kegagalan puluhan kali. Hingga pada akhirnya mereka mencari bahan di internet. Akhirnya robot Mosugemo itu bisa jadi hanya dalam waktu lima hari.

Robot bisa mengirimkan informasi berupa pesan peringatan ke nomor HP yang telah disimpan dalam robot. Contoh pesannya, jika suhu tidak normal maka akan mengirimkan pesan pemberitahuan: waspada suhu meningkat. Kalau getaran: waspada ada getaran. Sedangkan gas: waspada gas monoksida tinggi.

Pesan itu menjadi peringatan dini agar orang menjadi waspada. ”Nomor kontak yang bisa disimpan robot tidak terbatas. Selain itu, robot ini menggunakan tenaga baterai isi ulang yang bisa bertahan sekitar tiga hari," ungkapnya.

Namun pemanfaatan baterai itu, hanya sebagai persyaratan lomba. Jika digunakan untuk umum bisa dikembangkan lagi dan tenaganya dihubungkan lansung ke tenaga listrik rumah.

Berkat robot Mosugemo itu, mereka berhasil mengantogi juara I Lomba Robotik Madrasah the Best and Simple Construction Rancang Bangun Mesin Otomatis Bencana tingkat nasional di Depok Town Square (Detos) pada 3-4 November lalu.

Guru pembimbing Arif noor Adiyanto, mengatakan, di MAN 1 Kudus ada program unggulan selain pelajaran reguler. Ada kelas science and innovation programe, tahfidz Alquran, serta bahasa Arab dan Inggris.

Tiga program baru tahun ini. Tujuannya, siswa-siswi memperoleh ilmu tambahan dari program unggulan itu. ”Semoga keberhasil Ayya dan Alfi menjadi buah manis dari science and innovation programe. Kami bangga dengan mereka," ujarnya.

Dia menambahkan, juara tak hanya diraih tim robotik MAN 1 Kudus. Tapi tim Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) MAN 1 Kudus ”Quds Bookmate” dan ”O-Tu (Oil Tube)” juga masuk peringkat 10 besar atau sebagai finalis tingkat nasional.

Sementara itu, Kepala MAN 1 Kudus Suhamto, mengungkapkan, tiga program baru unggulan sekolah itu, menjadi harapan besar agar siswa MAN tak hanya pandai mengaji. Tapi dengan adanya tahfiz Alquran dan sains, siswa-siswi juga bisa unggul di agama dan ilmu lain.

”Ke depan kami akan selalu suport untuk bidang-bidang karya tulis ilmiah, sains, dan juga teknologi," ungkapnya.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia